Surat itu datang lewat tas pos rutin, terselip di antara berkas administrasi yang biasa Maharani serahkan begitu saja pada bagian tata usaha pos. Tapi kali ini namanya ada di kepala dokumen, dan kata yang menyusulnya membuat tangannya berhenti bergerak. Pemulangan. Rotasi. Penggantian personel. Tanggal yang sudah pasti, hanya tinggal tiga minggu lagi.
Ia sudah tahu ini akan datang. Ia sudah memperpanjang masa tugasnya sekali, lalu sekali lagi, sampai komandan sektor sendiri menulis catatan bahwa perpanjangan lebih lanjut tidak lagi sejalan dengan kebijakan rotasi misi. Ia tahu, di suatu sudut kepalanya yang rasional, bahwa ia tidak bisa tinggal di lembah ini selamanya, bahwa ia bukan milik tempat ini, bahwa pulang adalah bagian dari tugas sama seperti datang. Tapi mengetahui sesuatu akan terjadi tidak sama dengan siap menghadapinya ketika ia akhirnya tertulis di atas kertas dengan tanggal yang tak bisa ditawar.
Ia duduk lama di bangku tenda administrasi, memegang surat itu, dan menyadari bahwa ia takut. Bukan takut pulang. Takut akan ruang yang akan ditinggalkannya. Selama bertahun ini ia menjadi sesuatu di lembah ini. Bu Bidan, mereka memanggilnya, di kedua tepi sungai. Perempuan yang menjahit luka tanpa bertanya kau dari sisi mana. Perempuan yang menahan napas bayi Fatou agar tidak padam di lubang persembunyian. Kepergiannya akan membuat lubang, dan ia tidak yakin lubang itu bisa langsung terisi.
Kabar itu menyebar lebih cepat dari yang ia harapkan. Ia belum sempat memberi tahu siapa pun, tapi keesokan paginya seorang perempuan dari tepi barat datang ke tenda medis dengan keranjang telur dan mata yang sudah basah sebelum mengucap sepatah kata. Lalu yang lain datang, dan yang lain, sampai siang itu tenda medis lebih ramai oleh orang yang ingin memastikan kabar itu benar daripada oleh orang sakit. Maharani harus mengangkat tangan dan berkata bahwa ya, ia akan pulang, tapi tidak hari ini, masih ada waktu, masih ada pekerjaan.
"Siapa yang akan menggantikanmu?" tanya seorang ibu yang anaknya pernah ia obati dari malaria. Pertanyaan itu jujur, tanpa basa-basi, dan Maharani menghargainya karena itu.
"Akan ada bidan baru," katanya. "Dari kontingen yang menggantikan kami. Dan ada Fatou. Ada Aminata, Hawa, Nadia, perempuan-perempuan yang sudah kulatih. Mereka sudah menolong lebih banyak kelahiran daripada aku tahun ini. Kalian tidak akan ditinggal kosong."
Ibu itu memandangnya dengan tatapan yang Maharani kenal, tatapan yang berkata kau tahu itu bukan yang aku tanyakan. Karena yang ditakutkan orang bukan kekurangan bidan. Yang ditakutkan adalah bahwa orang yang datang dan pergi selalu pergi, dan tinggal yang menetap untuk menanggung. Maharani tidak punya jawaban untuk ketakutan itu selain kebenaran yang ia sendiri sedang berusaha menerima.
Malam itu ia memanggil Klaten lewat sambungan satelit. Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, sinyalnya stabil, wajah ibunya terlihat jelas di layar kecil, lampu dapur rumah menyala kuning di belakangnya. Ia memberi tahu bahwa ia akan pulang, dan ibunya menutup mulut dengan tangan dan menangis tanpa suara, dan adik angkatnya muncul di belakang ibunya dengan senyum lebar, dan untuk beberapa detik Maharani merasa terkoyak menjadi dua: setengah dirinya rindu rumah sampai sakit, setengah lagi sudah menangisi lembah yang belum ia tinggalkan.
"Ibu masak ikan," kata ibunya akhirnya, suaranya parau. "Ibu masak apa pun yang kamu mau, Nduk. Pulanglah."
Ikan. Kata itu menyentuh sesuatu di dada Maharani, sesuatu yang ia belum siap hadapi malam ini, sesuatu tentang Patar dan kuah kuning dan janji yang belum ia tunaikan. Ia menelannya kembali. Belum waktunya. "Iya, Bu," katanya. "Maharani pulang."
Setelah sambungan terputus, ia duduk di kegelapan tenda dan menyadari bahwa pulang dan pergi adalah kata yang sama dilihat dari arah berlawanan. Ia akan pulang ke Klaten dan dengan itu meninggalkan lembah ini. Tidak ada arah yang murni gembira. Setiap kepulangan adalah kepergian dari suatu tempat. Ia membuka buku saku bersampul kulit yang dijahit ibunya, yang dulu berisi nama-nama mati dan kini juga berisi nama-nama hidup, dan menulis tanggal pemulangannya di halaman baru, seolah menulisnya bisa membuatnya lebih nyata, lebih bisa ditanggung. Tiga minggu. Ia punya tiga minggu untuk mewariskan segala yang tak bisa ia bawa pulang.