Kotak obat itu sudah menemani Maharani sejak hari pertama. Logam tipis yang dulu hijau, kini lebih banyak gores dan penyok daripada cat, dengan engsel yang berderit jika dibuka terlalu cepat. Di dalamnya ada urutan yang hanya ia mengerti, sistem yang ia bangun bertahun-tahun: gunting di sudut kiri atas, klem di kantong kain, jarum jahit dalam wadah kecil yang ia tutup rapat agar tidak berkarat, sisa ampul yang ia jaga seperti orang menjaga sisa air di gurun. Tidak ada yang pernah ia izinkan menyentuh kotak ini. Bahkan di malam-malam terburuk kepungan, ketika tangan-tangan lain memohon untuk membantu, ia mengambil sendiri dari kotaknya dan menyerahkan satu per satu. Kotak ini adalah dirinya, batas terakhir kendali yang ia pegang ketika segalanya di luar kendali.
Maka ketika ia membawa kotak itu ke klinik di tepi timur dan meletakkannya di atas meja kayu di hadapan Fatou, tangannya gemetar sedikit, dan ia berharap Fatou tidak melihat.
Fatou melihat. Fatou selalu melihat.
"Kau membawanya ke sini," kata Fatou, memandang kotak itu lalu memandang Maharani. "Kotak yang bahkan tak kau biarkan kupegang waktu aku menahan kakimu sendiri yang berdarah."
"Aku tidak membawanya untuk kupakai," kata Maharani. Ia membuka engselnya, derit yang sudah ia kenal seumur hidup. "Aku membawanya untuk kutinggalkan."
Ia mengeluarkan isinya satu per satu, dan sambil mengeluarkan ia menjelaskan. Bukan menjelaskan seperti instruktur ke murid, tapi menjelaskan seperti orang menyerahkan rumah ke penghuni baru, menunjuk di mana letak hal-hal, apa yang harus dijaga, apa yang akan rusak jika diabaikan. Gunting ini tumpul jika dipakai memotong selain kain dan benang; ada batu asah kecil di sini. Klem ini harus direbus, bukan sekadar dibilas. Jarum jahit ini halus, untuk wajah dan tangan, dan yang ini kasar, untuk luka dalam yang tak terlihat. Ampul yang tersisa untuk keadaan ketika tidak ada lagi pilihan, bukan untuk dipakai sembarangan, karena sekali habis tidak ada yang menggantikannya cepat di lembah ini.
Fatou mendengarkan, dan Aminata serta Hawa berdiri di belakangnya mendengarkan juga, ketiga perempuan itu menyerap setiap kata seperti tanah kering menyerap hujan pertama. Maharani menyadari, di tengah penjelasannya, bahwa ia tidak sedang mengajari mereka cara memakai alat. Mereka sudah tahu memakai alat; ia sendiri yang mengajari mereka selama berbulan-bulan. Yang ia lakukan sekarang adalah sesuatu yang lebih sulit. Ia melepaskan. Ia menyerahkan kendali yang selama ini ia pegang erat karena melepaskannya terasa seperti mengakui bahwa ia bisa pergi, bahwa dunia akan terus berputar tanpa tangannya di dalamnya.
"Aku ingin kau tahu satu hal," kata Fatou, ketika kotak itu hampir kosong. "Aku tidak akan memakai ini menjadi kau. Aku tidak bisa. Aku tidak akan pernah jadi bidan yang datang dari tujuh belas jam jauhnya dengan sumpah tentang nyawa tanpa bendera." Ia menyentuh tepi logam yang penyok. "Aku akan memakainya jadi aku. Perempuan dari tepi timur yang dulu hampir mati di lubang dengan bayi yang hampir tak bernapas. Mungkin itu yang lembah ini butuhkan sekarang. Bukan penyelamat dari jauh. Tapi seseorang yang tetap di sini."
Maharani mengangguk, dan ia merasa sesuatu yang sudah lama ia genggam akhirnya terlepas dari dadanya, bukan dengan rasa kehilangan melainkan dengan kelegaan yang aneh. Selama bertahun ia mengira warisannya adalah nyawa-nyawa yang ia selamatkan sendiri. Ia salah. Nyawa yang ia selamatkan akan mati juga suatu hari, seperti semua orang. Yang akan hidup lebih lama dari itu adalah kemampuan menyelamatkan yang ia tinggalkan di tangan-tangan ini, di klinik berdinding tanah ini, di perempuan-perempuan yang dulu ia datangi sebagai pasien dan kini ia tinggalkan sebagai penolong.
Ia menutup kotak yang kini hampir kosong, hanya menyisakan gunting tumpul dan jarum jahit pertamanya, dua benda yang ia simpan untuk dirinya sendiri. Bukan karena ia membutuhkannya. Karena setiap orang berhak menyimpan satu atau dua hal yang mengingatkan dari mana ia datang. Ia menyerahkan sisanya pada Fatou, dan kedua perempuan itu memegang kotak yang sama untuk sesaat, satu hendak pergi, satu hendak tinggal, dan keduanya tahu bahwa apa yang berpindah hari itu bukan sekadar logam dan jarum, melainkan sebuah kepercayaan bahwa lembah ini bisa menjaga dirinya sendiri.