Mereka mulai berdatangan sejak pagi masih kelabu. Maharani sedang membereskan sisa-sisa perlengkapan ketika bayangan pertama jatuh di pintu tenda medis, dan ketika ia menoleh ia melihat lelaki tua dari pos pemeriksaan pertama, yang dulu menatapnya dengan curiga ketika patrolinya melintas di hari-hari awal, yang dulu menganggap helm biru sebagai pendatang lain yang akan datang dan menghilang seperti semua pendatang sebelumnya. Lelaki tua itu kini berdiri di pintu tenda dengan tongkat dan punggung yang lebih bungkuk, memegang sebungkus daun teh yang dibungkus kain.
"Untuk perjalananmu," katanya, lewat Adama yang menerjemahkan di sampingnya. "Supaya kau ingat rasa lembah ini di tempat yang jauh."
Maharani menerima bungkusan itu dengan kedua tangan, cara yang ia pelajari di sini untuk menerima hadiah dengan hormat, dan lelaki tua itu mengangguk satu kali, lalu pergi sebelum salah satu dari mereka harus mengatakan sesuatu yang akan membuat keduanya menangis.
Lalu yang lain datang. Kakek bocah yang dulu ia obati di hari-hari awal, anak yang terkena sisa amunisi, yang lukanya memicu kecurigaan pertama bahwa kontingen memihak. Kakek itu kini membawa cucunya, yang sudah tumbuh tinggi dan canggung, dan anak itu menyodorkan sesuatu yang ia ukir sendiri dari kayu: bentuk burung kasar yang sayapnya tidak simetris, dibuat dengan tangan yang masih belajar. Maharani memegangnya seperti memegang sesuatu yang rapuh dan berharga, karena memang begitu.
Ibu-ibu datang berkelompok, perempuan-perempuan yang ia tolong bersalin di tenda ini, beberapa menggendong bayi yang lahir di bawah tangannya. Mereka tidak banyak bicara. Mereka tidak perlu. Mereka meletakkan tangan di lengannya, di pundaknya, menyentuh seolah ingin memastikan ia nyata sebelum ia menjadi kenangan. Salah satu dari mereka, yang melahirkan kembar di malam ketika persediaan hampir habis selama kepungan, hanya menangis dan menggenggam tangan Maharani tanpa melepaskannya untuk waktu yang lama, dan Maharani membiarkannya, karena ada momen ketika menahan tangan lebih jujur daripada kata apa pun.
Tenda medis ini telah menyaksikan segalanya. Di lantai tanahnya darah dari kedua tepi pernah bercampur sampai tak bisa dibedakan dari sisi mana asalnya. Di sini Fatou hampir kehilangan kakinya dan tidak. Di sini rekan satu regu mati di tangannya selama kepungan, dan ia gagal lagi seperti ia gagal pada pasien pertamanya bertahun lalu. Di sini dua faksi yang saling membenci pernah duduk di meja yang sama karena tempat ini netral bukan oleh perintah melainkan oleh kenyataan bahwa luka semua orang pernah dirawat di sini dengan cara yang sama. Tenda ini bukan bangunan. Tenda ini adalah bukti bahwa netralitas bisa berarti keadilan jika dijalankan dengan tangan, bukan disembunyikan di balik aturan.
Menjelang sore, ketika arus orang mulai surut, Maharani berdiri di tengah tenda yang kini lengang dan menyadari sesuatu yang sederhana dan menghantam keras. Yang ia bangun di tempat ini bukan kepahlawanan. Tidak ada satu pun yang datang hari ini datang untuk berterima kasih atas penyelamatan dramatis. Mereka datang karena kepercayaan, kepercayaan yang dibangun perlahan, satu jahitan, satu kelahiran, satu malam berjaga, satu kali tidak menolak siapa pun yang terluka. Kepahlawanan adalah hal yang lewat, satu malam menyeberangi sungai yang akan dilupakan atau diingat salah. Kepercayaan adalah hal yang tinggal. Dan kepercayaan tidak ikut pulang bersamanya. Kepercayaan tinggal di lembah ini, di tangan-tangan yang menyentuh lengannya hari ini, di Fatou dan klinik dan pasar dan sekolah.
Adama berdiri di pintu tenda, menunggu, tidak masuk. Ia tahu ada hal-hal yang lebih baik diselesaikan Maharani sendiri dengan ruang ini.
"Aku tidak menyangka akan sesulit ini," kata Maharani, suaranya hampir tidak terdengar.
"Hal yang berarti memang selalu sulit ditinggalkan," jawab Adama. "Kalau mudah, berarti tidak pernah berarti."
Maharani memandang tenda untuk terakhir kalinya sebagai tempat kerjanya. Besok lusa ini akan menjadi tempat kerja orang lain, bidan baru dari kontingen pengganti, yang akan membuat sistemnya sendiri, yang akan mengisi ruang ini dengan kehadirannya sendiri. Itu seperti seharusnya. Tempat tidak boleh mati hanya karena seseorang pergi. Ia keluar dari tenda, melewati Adama, dan tidak menoleh ke belakang, karena ia tahu jika menoleh ia tidak akan sanggup melangkah.