Pagi keberangkatannya datang dengan langit yang bersih, seperti langit di hari pertama, dan Maharani memikirkan betapa adilnya alam yang tidak peduli pada apa yang sedang dirasakan manusia. Kendaraan sudah menunggu di gerbang pos, mesinnya menderum pelan, debu dari jalan tanah merah sudah menggantung tipis di udara meski belum ada yang bergerak. Ia mengenakan seragam yang sama yang ia bawa dari tanah air, kini lebih pudar, kainnya lebih tipis di siku dan lutut, menyimpan lembah ini dalam serat-seratnya.
Adama mengantarnya ke gerbang. Mereka berjalan berdua melewati lapangan pos, melewati menara pengawas yang dulu menjadi tempat Maharani berdiri pada malam ia mendengar tembakan dan jeritan dari seberang sungai, malam yang mengubah segalanya. Menara itu masih berdiri, tapi tidak ada lagi yang berjaga di atasnya sepanjang malam dengan jari di pelatuk. Sekarang ia lebih sering kosong, menara tanpa ancaman untuk diawasi.
"Kau ingat percakapan pertama kita?" tanya Adama. "Di bawah menara itu. Hari kedua atau ketigamu di sini."
Maharani ingat. "Kau bilang kau sudah melihat banyak orang datang dengan janji," katanya. "Dan kau sudah melihat semuanya pergi. Kau bilang kau menerjemahkan untuk mereka karena itu pekerjaan, bukan karena kau percaya ada yang akan berbeda."
"Aku ingat aku berkata kasar padamu," kata Adama. Ada senyum tipis di sudut mulutnya. "Aku ingin tahu apakah kau akan tersinggung dan menjauh, seperti yang lain. Sebagian dari mereka tidak suka diingatkan bahwa mereka cuma persinggahan. Mereka mau dianggap penyelamat."
"Aku tersinggung," Maharani mengaku. "Aku cuma terlalu sopan untuk menunjukkannya."
Adama tertawa, suara tawa yang jarang ia keluarkan, dan untuk sesaat mereka berdua bukan penerjemah dan bidan, bukan orang lokal dan pendatang, hanya dua orang yang telah melewati terlalu banyak hal bersama untuk bisa dijelaskan kepada siapa pun yang tidak ada di sana.
Mereka berhenti di gerbang. Kendaraan menunggu di belakangnya, tapi Adama tidak terburu-buru, dan Maharani tidak ingin terburu-buru. Adama merogoh tas kainnya dan mengeluarkan sebuah buku catatan, sampul kerasnya dibungkus kain agar tahan, sudut-sudutnya sudah tumpul karena sering dibawa.
"Aku ingin memberimu sesuatu," katanya. "Bukan oleh-oleh. Oleh-oleh akan kau simpan di rak dan lupa. Ini supaya kau tidak lupa."
Maharani membuka buku itu. Halaman demi halaman penuh tulisan tangan Adama, rapi dan kecil, deretan nama. Bukan nama-nama mati, yang biasa ia catat di buku sakunya sendiri selama bertahun di sini. Ini nama anak-anak. Nama anak-anak yang kini bersekolah di gedung yang Adama bangun ulang dari sisa barikade. Di samping tiap nama ada catatan kecil: umur, dari tepi mana, apa yang ingin dipelajari anak itu. Salah satu menulis ingin jadi guru. Yang lain menulis ingin jadi orang yang membuat air bersih. Yang lain lagi, dengan kepolosan yang membuat dada Maharani sesak, menulis ingin tidak pergi dari rumah lagi.
"Ini," kata Adama, menyentuh halaman itu, "yang dulu tidak kupercaya mungkin. Daftar yang isinya bukan nama orang yang hilang, tapi nama orang yang punya masa depan. Aku belum pernah menyimpan daftar seperti ini seumur hidupku sebelum kalian datang. Lembah ini tidak pernah punya cukup masa depan untuk dicatat."
Maharani menutup buku itu dan menggenggamnya ke dada. Ia tidak bisa bicara untuk beberapa saat. Adama, yang dulu menerjemahkan kebohongan faksi dengan wajah datar karena itu satu-satunya cara bertahan hidup, kini menulis masa depan dengan tangannya sendiri, dan menyerahkannya pada orang yang akan pergi, sebagai bukti bahwa kali ini sesuatu benar-benar tinggal.
"Aku akan menjaganya," kata Maharani akhirnya. "Aku akan membacanya kalau aku lupa kenapa aku datang ke sini."
"Kau tidak akan lupa," kata Adama. "Orang yang harus dibaca buku untuk mengingat tidak akan menyeberangi sungai. Aku cuma ingin kau punya bukti di tanganmu bahwa itu nyata. Kadang, ketika kau jauh, hal-hal yang paling nyata mulai terasa seperti mimpi."
Mereka tidak berpelukan. Itu bukan cara Adama, dan Maharani menghormatinya. Mereka berjabat tangan, lama, dengan kedua tangan masing-masing, dan dalam genggaman itu ada semua yang tidak diucapkan: terima kasih, maaf, dan pengakuan bahwa keduanya telah saling mengubah dengan cara yang tak bisa ditarik kembali. Lalu Maharani naik ke kendaraan, dan Adama mundur selangkah, dan tidak ada yang melambai, karena melambai adalah untuk perpisahan yang dangkal, dan ini bukan itu.