Kendaraan keluar dari gerbang pos dan menyusuri jalan tanah merah menuju utara, dan tak lama kemudian jembatan itu muncul di depan. Maharani merasakan sesuatu mengencang di dadanya saat melihatnya, refleks lama dari malam-malam ketika jembatan ini adalah garis ketakutan, titik di mana lembah terbelah menjadi sisi yang aman dan sisi yang berdarah. Di jembatan inilah dulu radio sektor dimatikan agar otorisasi tak bisa menahan tindakan. Di jembatan inilah panglima perang menyandera warga di hari-hari terakhirnya. Tubuh Maharani masih mengingat ketegangan tempat ini bahkan ketika kepalanya tahu bahaya itu sudah berlalu.
Tapi yang ia lihat saat kendaraan melambat untuk melintas membuat ketegangan itu mencair.
Jembatan itu ramai. Seorang lelaki menuntun keledai yang dibebani karung, melangkah pelan di sisi kanan. Tiga perempuan berjalan beriringan membawa keranjang dari pasar, berbincang dengan kepala saling mendekat. Serombongan anak sekolah, masih kecil-kecil dengan tas kain di punggung, menyeberang sambil berlari dan saling dorong, sama sekali tak sadar bahwa tanah yang mereka injak pernah menjadi tempat orang dewasa memilih antara hidup dan mati orang lain. Mereka menyeberang dari tepi timur ke tepi barat dan kembali seolah sungai itu tak pernah memisahkan apa pun, seolah dua dunia yang dulu saling membunuh selalu menjadi satu lembah saja.
Kendaraan harus berhenti sebentar untuk membiarkan rombongan anak lewat. Maharani memandang mereka dari jendela, anak-anak dengan kaki kotor dan tawa yang tak takut, dan ia mengenali satu atau dua wajah dari buku catatan yang Adama berikan padanya. Salah satu anak menatap balik, melihat seragam Maharani, dan mengangkat tangan melambai dengan polos sebelum dipanggil temannya. Maharani melambai balik, dan anak itu sudah lari sebelum tangannya turun.
Sungai mengalir di bawah jembatan seperti yang selalu ia lakukan, tak peduli pada apa yang terjadi di kedua tepinya, air cokelat yang sama yang dulu Maharani seberangi di perahu karet pada malam tanpa bulan. Sungai itu tidak pernah memilih sisi. Manusialah yang memberinya makna, menjadikannya batas atau jembatan, garis pemisah atau urat nadi. Dulu sungai ini memisahkan dua dunia. Sekarang ia menyatukan satu lembah yang belajar, perlahan dan dengan harga mahal, untuk hidup berdampingan.
Ketika anak-anak sudah lewat, kendaraan bergerak lagi, dan Maharani meminta sopir berhenti sebentar di ujung jembatan, di dekat dermaga kecil tempat perahu karet dulu tertambat. Dermaga itu masih ada, kayunya lapuk, tak terpakai lagi karena tak ada lagi yang perlu menyeberang diam-diam. Ia turun dari kendaraan dan berjalan ke dermaga, membawa helm birunya di tangan.
Helm itu telah menemaninya sepanjang misi. Pada malam penyeberangan ia melepasnya dan meletakkannya di dermaga ini sebelum menarik tali perahu, karena ia tahu apa yang akan ia lakukan bukan lagi tindakan helm biru, melainkan tindakan seorang bidan yang memilih nuraninya. Bertahun-tahun ia memandang helm itu dengan perasaan yang campur aduk: lambang netralitas yang dulu terasa seperti rantai, aturan yang melarangnya bertindak, mandat yang membuatnya menjahit luka di pagi hari dan dilarang menolong di malam hari.
Ia memandang helm itu sekarang, di tangannya, di tempat yang sama ia pernah meletakkannya dulu. Dan ia menyadari bahwa ia tidak lagi membencinya. Helm itu bukan rantai. Helm itu adalah tanggung jawab. Netralitas bukan kepengecutan jika dijalankan dengan keberanian; menahan diri bukan kelemahan jika menahan demi melindungi. Ia telah belajar, lewat semua yang terjadi di lembah ini, bahwa garis biru di atas peta ada bukan untuk menjaga garis, melainkan untuk menjaga orang-orang di kedua sisinya. Ia telah menjalani mandat itu dengan utuh, melanggarnya satu malam dan menebusnya bertahun-tahun, dan akhirnya memahaminya.
Ia meletakkan helm biru itu di tepi dermaga, perlahan, sengaja. Ia tidak akan membawanya pulang. Helm itu milik tempat ini, sama seperti banyak hal lain yang ia tinggalkan. Biarlah ia menjadi tanda di tepi sungai, lambang yang dulu terasa beban dan kini ia pahami sebagai sumpah yang ia tunaikan. Ia berdiri sebentar di dermaga, memandang sungai dan jembatan yang ramai, lalu berbalik dan naik kembali ke kendaraan. Saat kendaraan melaju ke utara dan jembatan menghilang di belakang debu, ia tidak menoleh. Tapi tangannya menggenggam buku catatan Adama, dan itu sudah cukup untuk dibawa pulang.