Pesawat itu lebih kecil dari yang membawanya datang, mengangkut personel rotasi dan beberapa peti perlengkapan, dan Maharani duduk di kursi dekat jendela kecil yang berembun di pinggirnya. Mesin meraung, badan pesawat bergetar, dan tanah Afrika Tengah mulai tenggelam di bawahnya: petak-petak cokelat dan hijau, garis perak sungai yang dari ketinggian terlihat begitu kecil, begitu tak berbahaya, hanya benang air yang berkelok di antara dataran. Sulit dipercaya bahwa benang sekecil itu pernah menjadi batas antara hidup dan mati untuk begitu banyak orang.
Ia memandang ke bawah sampai semuanya tertutup awan, lalu bersandar di kursinya. Tujuh belas jam ke utara. Membalik perjalanan yang dulu membawanya turun ke selatan, perjalanan yang membuka segalanya. Ia ingat dirinya di pesawat yang dulu, perempuan berusia dua puluh sembilan dengan kotak obat di pangkuan dan ketakutan yang tak ia akui pada siapa pun. Ketakutan akan ketidaktahuan, akan tempat yang tak ia kenal, akan ujian yang ia tahu menanti tapi tak bisa ia bayangkan bentuknya. Ia membawa pulang sesuatu yang berbeda sekarang. Bukan ketakutan. Sesuatu yang lebih berat dan lebih tenang sekaligus.
Ia membuka buku saku bersampul kulit yang dijahit ibunya. Dulu kosong, dengan halaman-halaman bersih yang ia bawa tanpa tahu apa yang akan mengisinya. Kini penuh. Nama-nama mati dari malam jembatan dan kepungan, dicatat karena ia tak ingin mereka hilang menjadi angka di laporan. Nama-nama hidup, bayi yang ia lahirkan, perempuan yang ia latih. Angka-angka: dosis, denyut, hari demam. Pelajaran-pelajaran kecil yang ia tulis untuk dirinya sendiri ketika tak ada orang lain untuk diajak bicara. Buku ini adalah misi itu sendiri, dipadatkan ke dalam halaman-halaman yang muat di telapak tangan.
Ia membalik ke salah satu halaman yang sudah lama tak ia buka, dan menemukan sebuah nama yang membuatnya berhenti. Patar. Praka dari Ambon yang humoris, yang menyulap kebosanan pos jaga menjadi tahan dengan lelucon yang tak pernah berhenti, yang gugur dalam pertahanan selama kepungan, yang ia rawat sampai akhir dan gagal selamatkan. Di bawah namanya ia telah menulis sesuatu, di malam setelah pemakaman, ketika tangannya masih gemetar.
Ia ingat sekarang, dengan kejernihan yang menyakitkan. Beberapa hari sebelum kepungan, Patar duduk di samping dapur, mengaduk ransum yang ia keluhkan tidak ada apa-apanya dibanding masakan rumah. Ia bercerita panjang tentang ikan kuah kuning buatan ibunya di Ambon, tentang kunyit dan asam dan cabai, tentang bagaimana ia akan membawa Maharani makan di rumahnya kalau mereka sama-sama pulang, supaya Maharani tahu apa itu makanan sungguhan. Dan ketika ia sekarat di tenda medis, di antara napas yang makin jarang, ia berkata sesuatu yang Maharani tangkap tidak sepenuhnya, tentang ibunya, tentang bilang sama Mama. Ia tak sempat menyelesaikan kalimatnya. Maharani memegang tangannya dan berjanji, meski tak tahu persis ia berjanji apa, hanya tahu bahwa orang yang sekarat berhak atas janji.
Janji itu belum ia tunaikan. Ia membawanya pulang seperti membawa nama dalam buku saku, beban yang menunggu tempat untuk diletakkan. Ambon jauh dari Klaten, tapi tidak sejauh lembah dari tanah air. Ia akan mencari ibu Patar. Ia akan menyampaikan apa pun yang bisa ia susun dari kalimat yang tak selesai itu, akan menceritakan tentang putranya yang membuat seluruh pos tertawa di hari-hari ketika tertawa terasa mustahil, yang mati melindungi orang-orang yang bahkan bukan bangsanya. Ia akan, suatu hari, makan ikan kuah kuning itu, bukan karena Patar yang membawanya, tapi karena Patar pernah ingin membawanya.
Ia menutup buku saku dan menyandarkan kepalanya ke jendela yang dingin. Di bawah awan, benua itu terus menjauh, lembah itu terus mengecil, semua wajah yang ia kenal terus tertinggal. Tapi tidak ada yang benar-benar hilang. Mereka ada di dalam buku ini, di dalam dirinya, dalam langkah yang kini tak lagi terasa memikul. Tujuh belas jam ke utara. Ia memejamkan mata, dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, ia tidur tanpa mimpi tentang air dan jeritan, hanya tidur, sebagaimana orang yang akhirnya pulang.