Klaten menyambutnya dengan udara yang basah dan aroma yang ia kenal sebelum matanya sempat menemukan apa pun: tanah yang baru disiram hujan, asap dari tungku tetangga, dan jauh di bawah semua itu, samar, bau jamu yang merebus di dapur rumahnya. Bau itu menghantamnya lebih keras dari pemandangan apa pun. Bertahun-tahun ia merindukannya tanpa benar-benar tahu apa yang ia rindukan, dan kini berdiri di gang sempit menuju rumah ibunya, ia menyadari inilah yang selama ini ia bawa di tepi ingatannya, di seberang sinyal satelit yang putus-putus, di antara tembakan dan kelahiran.
Ibunya berdiri di pintu sebelum Maharani sempat memanggil. Entah bagaimana ibu selalu tahu. Perempuan itu lebih tua dari yang Maharani ingat, lebih tua dari yang ditunjukkan layar telepon yang murah hati menyembunyikan kerut dan bungkuk. Rambutnya kini hampir seluruhnya kelabu, dan ketika ia melangkah maju, langkahnya lebih hati-hati, lebih lambat. Waktu telah berjalan di rumah ini selama Maharani jauh, sama seperti waktu berjalan di lembah, dan tidak ada panggilan video yang sanggup menyampaikan betapa seseorang menua ketika kita tidak ada di sampingnya untuk menyaksikannya hari demi hari.
Mereka berpelukan di pintu, dan ibunya menangis tanpa malu, menggenggam wajah Maharani dengan kedua tangan, mengusap pipinya seolah memastikan ia benar-benar daging dan darah dan bukan bayangan di layar yang selama ini ia ajak bicara. "Kamu kurus," kata ibunya, suaranya pecah. "Astaga, Nduk, kamu kurus sekali." Dan Maharani tertawa di sela tangis, karena itu hal pertama yang ibu mana pun akan katakan, dan karena dalam keluhan itu ada seluruh cinta yang tak bisa diucapkan dengan cara lain.
Adik angkatnya datang berlari dari dalam, lelaki muda sekarang, bukan lagi anak yang Maharani tinggalkan. Ia sudah lulus, kuliah yang dibiayai dengan gaji tentara Maharani, gaji yang dulu menjadi alasan ia mendaftar. Ia memeluk Maharani canggung dan erat sekaligus, cara lelaki muda memeluk kakak yang lama tak bertemu, dan ia mulai bicara cepat tentang pekerjaannya, tentang ijazahnya, tentang segala yang ingin ia tunjukkan, sampai ibunya menyuruhnya diam dan membiarkan Maharani masuk dulu, duduk dulu, bernapas dulu.
Di dalam, rumah itu sama dan tidak sama. Foto-foto baru di dinding, perabot yang sedikit bergeser, tapi sudut tempat ibunya merebus jamu masih sama, panci yang sama menghitam di bawahnya. Mereka duduk di ruang yang sempit dan hangat, dan ibunya menyajikan teh dan singkong rebus, dan untuk waktu yang lama mereka hanya bicara tentang hal-hal kecil. Tetangga yang pindah. Harga beras. Atap dapur yang bocor dan sudah diperbaiki. Kalimat-kalimat sederhana yang selama bertahun-tahun selalu putus di tengah karena sinyal hilang, kini mengalir utuh, satu menyambung yang lain, tanpa layar yang membeku dan suara yang terpotong. Kemewahan yang dulu tak ia sadari: percakapan yang selesai.
Tapi sambil duduk di sana, di antara teh dan tawa dan kehangatan yang nyata, Maharani menyadari sesuatu yang membuatnya pelan. Rumah ini tidak lagi terasa persis seperti yang ia tinggalkan. Bukan karena rumah berubah, meski rumah memang berubah sedikit. Karena ia yang berubah. Ia membawa lembah itu pulang di dalam dirinya. Ketika adiknya tertawa terlalu keras, sebagian dirinya masih waspada pada suara keras. Ketika ada keheningan dalam percakapan, ia mengisinya dengan wajah-wajah jauh, Fatou di klinik, Adama di gerbang, Patar di samping dapur yang berbeda. Ia ada di rumah, dan sebagian dirinya akan selalu tertinggal tujuh belas jam di selatan.
Malam itu, setelah ibunya tidur dan adiknya kembali ke tempat kosnya, Maharani duduk sendirian di dapur, di dekat panci jamu yang sudah dingin. Ia mengeluarkan buku saku dari tasnya dan membukanya di halaman nama Patar. Ibunya pernah berkata, lewat telepon dulu, bahwa ia akan memasak ikan, apa pun yang Maharani mau. Maharani memandang nama itu, dan tahu apa yang harus ia minta. Bukan malam ini; ibunya butuh waktu untuk menyimpan anaknya yang kembali sebelum diminta apa-apa. Tapi segera. Ia akan minta ibunya mengajarinya memasak ikan kuah kuning, akan mencari resep Ambon, akan menulis surat atau menempuh perjalanan ke timur untuk menemukan seorang ibu yang kehilangan anaknya di benua yang jauh. Janji yang belum ia tunaikan kini ada di tanah air bersamanya, lebih dekat untuk diselesaikan. Ia menutup buku itu dan duduk dalam keheningan rumah, di tempat yang ia tinggalkan dan yang kini menampungnya berbeda, dan ia membiarkan keduanya benar: ia di rumah, dan ia tak akan pernah sepenuhnya pulang seperti orang yang dulu pergi.