Maharani menunda menulis surat itu selama berminggu, bukan karena ia tidak tahu apa yang ingin dikatakan, melainkan karena ia tahu terlalu banyak. Setiap kali ia duduk di meja kamarnya, di bawah rak tempat buku catatan nama anak-anak dari Adama bersanding dengan kotak medis tua, kata-kata membanjir lebih cepat dari yang bisa ia tampung, dan ia takut tidak akan pernah bisa berhenti. Maka ia menundanya. Sampai malam ketika ibunya sudah tidur, dan rumah di Klaten sunyi kecuali suara jangkrik dan sesekali sepeda motor lewat di gang, ia akhirnya mengambil pena dan kertas. Bukan mengetik. Ia ingin tangannya yang menulis, supaya Fatou tahu setiap huruf datang dari tangan yang sama yang dulu menahan napas bayinya di lubang berdinding tanah.
Ia tahu Fatou tidak bisa membaca tulisan Indonesia. Adama yang akan menerjemahkannya, membacakannya keras-keras di klinik tepi timur, di antara antrean perempuan dan tangis bayi yang baru lahir. Maharani membayangkan itu sambil menulis, dan entah mengapa itu membuatnya lebih mudah.
Fatou, ia memulai. Aku tidak tahu bagaimana memanggilmu. Dulu kau pasienku, lalu kau jadi temanku, lalu kau jadi guruku, dan aku tidak punya satu kata untuk semua itu.
Ia menulis tentang malam pertama mereka bertemu, ketika Fatou masih hamil dan duduk di ambang rumahnya di desa seberang, dan Maharani berjanji kecil akan kembali saat persalinannya, janji yang menghantuinya dan akhirnya membawanya menyeberang sungai pada malam yang dilarang. Ia menulis bahwa ia dulu mengira ia datang ke lembah itu untuk menyelamatkan orang. Ia menulis bahwa ia salah.
Aku pikir akulah yang menolongmu, tulisnya. Aku menjahit lukamu, aku menahan napas anakmu, aku mengira aku membawa sesuatu untukmu dari jauh. Tapi sekarang aku tahu, kau yang mengajariku arti bertahan. Aku datang dengan keyakinan bahwa nyawa tidak punya bendera, tapi keyakinan itu masih lunak, belum teruji. Kau yang membuatnya keras. Kau yang menolak jadi korban, yang berdiri lagi setelah kehilangan rumah dan tetanggamu, yang berkata kau tidak akan jadi aku, kau akan jadi dirimu sendiri. Aku ingat kalimat itu setiap hari. Itu kalimat paling bijak yang pernah kudengar dari siapa pun.
Ia menulis tentang foto-foto yang dikirim Adama. Tentang klinik yang kini ramai di tempat yang dulu reruntuhan. Tentang Aminata yang menyelamatkan ibu dan bayi sungsang sendirian, dengan mengingat caranya. Tangannya berhenti sejenak di kalimat itu, pena menggantung, dan ia merasa matanya panas.
Kau tahu apa yang paling membuatku bangga? bukan nyawa yang kuselamatkan dengan tanganku. Tanganku terbatas. Aku akan tua, aku akan pulang, aku tidak bisa ada di dua tempat. Yang membuatku bangga adalah kalian belajar menyelamatkan diri sendiri. Sekarang ada belasan tangan di lembah yang bisa melakukan apa yang dulu cuma bisa kulakukan, dan tangan-tangan itu tidak akan pulang. Mereka tinggal. Itu warisan yang tidak pernah berani kuharapkan.
Ia menulis tentang penyeberangan itu. Tentang bagaimana malam di lubang berdinding tanah, ketika mereka berdua menahan napas dan menahan napas bayi, mengubah keduanya. Ia menulis bahwa ia tidak akan pernah menyesali keputusan itu, meski ia menanggung akibatnya bertahun.
Ada yang menyebutku berani, tulisnya. Aku tidak setuju. Yang terjadi malam itu bukan keberanian satu orang. Wanto mendayung perahu meski dia penembak yang dilarang menembak. Bagas, yang seharusnya menghukumku, malah ikut menanggung. Adama mempertaruhkan dirinya. Dan kau, Fatou, kau bertahan hidup, kau dan anakmu, supaya semua yang kami pertaruhkan punya arti. Tidak ada pahlawan dalam cerita kita. Hanya orang-orang yang menolak menyerahkan satu sama lain.
Ia berhenti, memandang ke luar jendela ke gelap halaman belakang tempat kain biasa ia jemur. Ia memikirkan jarak. Tujuh belas jam terbang, satu benua, satu lautan. Sungai yang dulu memisahkan dua tepi kini menyatukan satu lembah, tetapi laut yang memisahkan dirinya dari Fatou tidak akan pernah menyusut. Ia menerima itu. Ada hubungan yang tidak butuh kedekatan untuk tetap nyata.
Surat ini bukan perpisahan, tulisnya menjelang akhir. Kita sudah berpisah di tenda medis itu, dan aku sudah berpamitan. Surat ini hanya untuk mengatakan yang tidak sempat kuucapkan: bahwa dua perempuan dari dunia yang sangat berbeda telah saling menyelamatkan, dan tidak ada sungai atau laut yang bisa mengambil itu. Beri tahu anakmu, kalau dia cukup besar untuk mengerti, bahwa ada seorang bidan dari sebuah kampung jauh di sebuah pulau yang menahan napasnya di malam dia lahir, dan yang sampai sekarang memikirkannya. Beri tahu dia namanya menghubungkan dua tepi sungai, dan itu sebabnya dia ada. Jaga klinikmu. Jaga perempuan-perempuan itu. Jaga dirimu.
Ia menandatanganinya dengan nama lengkapnya, lalu, di bawahnya, menambahkan tiga kata yang dipanggilkan warga lembah padanya dulu, dalam aksara yang ia eja sebisanya dari ingatan: Bu Bidan. Ia melipat surat itu, memasukkannya ke amplop, dan menulis alamat klinik tepi timur yang dikirim Adama. Besok pagi ia akan ke kantor pos. Malam ini ia hanya duduk, amplop di tangan, dan membiarkan dirinya merasakan, untuk pertama kalinya tanpa rasa sakit, betapa jauh dan betapa dekat lembah itu sekaligus.