Bertahun kemudian, pada sebuah sore yang tenang menjelang musim hujan, Maharani membuka lemari di kamarnya dan mengeluarkan kotak medis tua itu. Catnya sudah mengelupas di sudut, penyoknya yang lama masih ada, engselnya berderit ketika ia membukanya. Ia tidak lagi membawanya ke mana-mana. Ia sudah pensiun dari dinas aktif beberapa waktu lalu, mengajar di sebuah sekolah kebidanan di kota terdekat, hidup tenang di rumah yang sama dengan ibunya yang kini sangat tua dan menghabiskan hari di kursi rotan di teras. Tetapi kotak ini ia simpan. Tidak untuk dipakai. Untuk diingat.
Di dalamnya tidak ada banyak. Ia sudah menyerahkan sebagian besar isinya kepada Fatou dan para penolong desa, dulu, sebelum pulang. Yang tersisa hanya beberapa benda yang sengaja ia simpan: sepasang gunting tumpul yang tidak lagi bisa memotong apa-apa, dan jarum jahit pertama yang pernah ia gunakan untuk menjahit luka manusia. Ia mengangkat jarum itu ke cahaya jendela. Logam kecil itu sudah tumpul dan berkarat di ujung, tidak berguna untuk apa pun. Tetapi ketika ia memegangnya, seluruh sungai itu kembali. Air yang gelap. Tembakan di kejauhan. Lubang berdinding tanah. Tangan kecil bayi yang akhirnya menarik napas pertama dengan tangisan yang paling indah yang pernah ia dengar.
Di sebelah kotak itu, di rak, tergeletak buku saku bersampul kulit yang dijahit ibunya bertahun lalu, sebelum ia berangkat. Kulitnya kini menggelap dan lentur oleh keringat dan waktu. Ia mengambilnya dan membukanya pelan, takut halamannya rapuh. Buku itu penuh. Halaman demi halaman ia balik, dan setiap halaman adalah sebuah dunia.
Di halaman-halaman awal, tulisannya rapi dan tegak, catatan seorang bidan muda yang masih percaya prosedur bisa menjawab segalanya. Dosis obat. Nama anggota regu dari banyak kampung di Indonesia. Lalu tulisannya berubah, menjadi lebih kecil dan lebih cepat, ditulis di bawah cahaya senter atau di sela kelelahan. Nama-nama warga. Nama Fatou. Nama Adama. Daftar korban malam itu, nama-nama yang hidup dan nama-nama yang tidak, ditulis Wanto dengan tangannya yang gemetar di buku sakunya sendiri dan ia salin ke sini supaya tidak ada yang lupa. Catatan tentang wabah di kamp, tentang air yang tercemar, tentang persalinan di bawah suara tembakan. Halaman tentang rekan yang gugur dalam pertahanan pos, yang tangannya ia pegang sampai akhir, satu lagi yang tidak bisa ia selamatkan, satu lagi yang ia bawa pulang dalam dirinya.
Dan di halaman-halaman terakhir, nama-nama dari kampungnya sendiri di Klaten. Para ibu yang ia bantu bersalin sejak ia pulang. Bidan-bidan muda yang ia ajar. Tiga tepi sungai, pikirnya, meski dua di antaranya hanya ada di kepalanya: tepi timur, tepi barat, dan sebuah kampung kecil di sebuah pulau di selatan dunia. Buku ini telah menyatukan ketiganya dalam satu sampul kulit yang dijahit tangan ibunya.
Ia duduk di tepi tempat tidur, buku terbuka di pangkuan, dan untuk waktu yang lama ia hanya membaca nama. Beberapa ia ingat wajahnya. Beberapa sudah kabur. Beberapa ia tahu sudah tiada. Beberapa, ia tahu dari kabar yang masih sesekali datang lewat Adama, kini dewasa, punya anak sendiri, hidup di lembah yang belajar hidup. Bayi Fatou sudah remaja sekarang, kata kabar terakhir, dan ingin jadi guru seperti Adama. Aminata masih menyelamatkan ibu dan bayi. Pasar di zona penyangga masih ramai. Tidak ada yang sempurna di sana. Selalu ada masalah baru, Adama pernah menulis, tapi masalah baru lebih baik daripada masalah lama.
Maharani memikirkan keyakinan yang ia bawa tujuh belas jam ke selatan, dulu, bersama kotak obat ini. Bahwa nyawa tidak punya bendera. Ia masih ingat betapa muda ia mengucapkannya, betapa polos, betapa mudah. Lalu lembah itu mengujinya. Mandat menentangnya. Birokrasi membungkamnya. Faksi-faksi memanipulasinya. Panglima perang mengancamnya. Ia melihat keyakinan itu retak, malam demi malam, ketika ia menjahit luka satu kubu lalu dilarang menolong kubu lain, ketika ia harus memilih siapa yang mendapat obat terakhir, ketika ia menyeberang sungai dan menanggung akibatnya. Ada saat ketika ia tidak yakin keyakinan itu benar. Ada saat ketika ia mengira nyawa, di lembah itu, justru hanya punya bendera, dan tidak ada yang lain.
Tetapi ia salah, dan ia benar, dengan cara yang jauh lebih rumit dari yang pernah ia bayangkan. Nyawa memang tidak punya bendera. Bayi yang ia tolong tidak peduli ia lahir di tepi mana. Luka tidak menanyakan kau dari faksi apa sebelum berdarah. Yang ia pelajari adalah bahwa keyakinan itu tidak cukup hanya dipegang. Keyakinan itu harus dijalani, dengan harga, dengan kompromi, dengan kegagalan, dengan ketekunan yang membosankan dan tidak heroik, sampai ia berakar bukan dalam dirinya saja, melainkan dalam tangan-tangan orang lain yang akan tinggal lama setelah ia pergi.
Ia tidak menyelamatkan lembah itu. Ia tahu itu sekarang, dengan jelas dan tanpa kepahitan. Tidak ada satu orang yang menyelamatkan sebuah lembah. Ia hanya kebetulan ada di sana ketika lembah itu mulai menyelamatkan dirinya sendiri, dan ia kebetulan membawa kotak obat dan keyakinan yang teruji dan retak dan akhirnya terbukti benar. Ia menjaga jeda di antara dua faksi. Ia melanggar dan ia menebus. Ia kehilangan dan ia bertahan. Dan pada akhirnya ia membantu sebuah lembah, dan sebuah kampung di pulaunya sendiri, belajar bahwa luka siapa pun layak dirawat. Itu saja. Dan itu sudah cukup.
Di teras, ibunya memanggil pelan, menanyakan apakah ia mau teh sebelum hujan turun. Maharani menjawab iya, dan suaranya ringan. Ia menutup buku saku itu, mengusap sampul kulitnya sekali dengan ibu jari, dan meletakkannya kembali di rak di sebelah kotak medis tua. Lalu ia menutup kotak itu juga, engselnya berderit, penyoknya yang lama menghadap ke dinding. Ia berdiri, memandang sebentar kedua benda itu berdampingan di rak, lalu berbalik dan melangkah keluar ke teras, ke arah ibunya, ke arah sore yang tenang dan hujan yang akan segera datang, dengan langkah seseorang yang akhirnya tidak lagi memikul apa-apa selain damai.