"Belum, belum mencintai."
"Terus kira-kira kapan lo bisa mencintai gue?" Tanpa sadar Nabila asal bertanya. Sedetik kemudian ia malu dengan sikapnya, pasti saat ini Alvin menganggapnya seperti seorang wanita yang mudah jatuh cinta. Belum lagi pertanyaannya terdengar sangat agresif.
Alvin terkejut mendengar pertanyaan Nabila, ia tak siap diberi pertanyaan seperti itu. Sejujurnya ia sendiri tak tau kapan ia bisa mencintai Nabila.
"Em, segera."
Wajah Nabila memerah mendengar jawaban Alvin. Hampir saja ia terbuai oleh sikap manis Alvin. Tapi kesadaran dengan cepat merenggutnya. Ia tak boleh lengah, bisa saja Alvin hanya memanfaatkan kelengahannya.
Tak mungkin semudah itu Alvin melupakan mantan kekasih yang sangat dicintainya. Alvin sengaja bersikap manis hanya untuk mendapatkan suatu keuntungan darinya. Ish, bodoh sekali. Mulai saat ini ia tak boleh terpedaya rayuan Alvin.
"Bil?"
Nabila tersentak, untuk pertama kali Alvin memanggil namanya.
"Gue tetep pingin kita berpisah," kata Nabila yakin.
Alvin menghela nafas berat, segala usahanya tampak sia-sia saja. Nabila bersikeras akan meninggalkannya.
"Kenapa, Bil?"
"Gue rasa nggak semudah itu buat lo mencintai gue dan melupakan mantan lo."
"Kalau aku sendiri yang berusaha tentu susah. Kamu mau 'kan bantuin aku?" Alvin meraih tangan Nabila. Membuat jantung Nabila berdebar kencang. Nabila diam, ia tak punya keinginan melepaskan tangannya dari genggaman Alvin.
"Bantu aku buat ngelupain dia. Aku ingin seutuhnya mencintai istriku saja."
Nabila membeku mendengar permintaan Alvin yang terlihat sangat tulus. Belum lagi sorot mata Alvin yang sarat akan permohonan.
"Aku ingin hidup bahagia. Bersama istri aku."
Alvin masih menunggu jawaban Nabila. Nabila tampak berpikir, sedikit-sedikit dahinya berkerut.
"Lo prank gue, ya?" tanya Nabila curiga.
"Nabila!" Alvin kesal karena tingkahnya yang bak pria bucin malah tak dihargai oleh Nabila. Dengan kesal ia kembali memakai kacamata hitamnya, bersiap tidur.
"Vin, kok lo marah?"
"Terserah."
***
Sesampainya di cottage Alvin segera masuk ke kamar mandi, ia membasuh mukanya dengan kasar. Ia melihat pantulan wajahnya di cermin. Teringat kembali kata-katanya di pesawat tadi.
"Aku ingin hidup bahagia bersama istriku."
Sial, memalukan. Geli sekali ia mengingatnya. Bagaimana ia bisa berubah menjadi sebucin itu.
"Vin, lo masih lama? Gue pingin pipis." Terdengar suara Nabila berteriak dari luar.
Setelah berwudhu Alvin pun keluar dari kamar mandi. Nabila yang tak tahan buru-buru ingin masuk ke kamar mandi.
"Gantian, nanti wudhu aku batal," cegah Alvin.
Nabila seketika mundur mendengar seruan Alvin. Ia memandangi wajah Alvin yang tampak bersinar terkena air wudhu.
"Wudhu sekalian, udah masuk waktu sholat, kita berjamaah," perintah Alvin.
Nabila memijat tengkuknya, "Em, gue nggak sholat."
Alvin meninggalkan Nabila seorang diri di depan kamar mandi. Alvin mengutak atik ponselnya, bermaksud mencari kiblat. Kemudian berjalan ke arah kopernya, hendak mengambil sajadah.
Semua itu tak luput dari pengamatan Nabila. Setelah ia keluar dari kamar mandi, Alvin masih saja sholat.
Nabila duduk di pinggiran tempat tidur sambil mengamati pemandangan di luar. Sayup-sayup terdengar suara orang berbisik-bisik. Nabila menoleh, tampak Alvin yang sudah selesai sholat, sekarang ia sedang berdoa. Entah mengapa hati Nabila menjadi sangat tenteram.
Alvin mengambil ponselnya, bermaksud mengaji melalui ponsel. Ia memang tak terlalu lancar mengaji, tapi ia cukup indah dalam melantunkan ayat-ayat suci itu.
"Vin, hape lo kok ada signalnya, hape gue kok enggak?" Nabila bertanya sambil mondar mandir mengangkat ponselnya, mencari signal.
"Ini offline."
"Vin ...."
"Aku lagi ngaji, bisa tenang nggak?"
Nabila terdiam mendengar perkataan Alvin. Ia merasa sangat bosan berada di tempat ini tanpa internet.
Ia melihat setumpuk buku Alvin di atas nakas. Ia pikir daripada tak ada pekerjaan, tak ada salahnya ia membaca buku. Ia mulai memeriksa buku Alvin satu per satu. Dahinya mengernyit membaca judulnya.
Cara Menjadi Suami Teladan, Ciri Suami Soleh Idaman Istri, Cara membahagiakan Istri, Suami Soleh Kesayangan Istri. Nabila menahan tawanya.
"Sedang apa?" Alvin yang sudah selesai mengaji menghampiri Nabila.
"Vin, buku lo kok gini semua?"
Alvin segera merebut buku yang dipegang Nabila, ia menyembunyikannya di bawah bantal. Ia merasa malu karena ketahuan oleh Nabila.
"Lo mau menjadi suami yang baik ya, Vin?" ledek Nabila.
"Nggak usah bawel."
"Pasti beruntung wanita yang jadi istri lo."
Alvin mengerutkan dahi, "Itu 'kan kamu."
"Tapi gue 'kan nggak bercita-cita untuk menjadi istri lo selamanya," sanggah Nabila.
"Iya, orang yang baik akan mendapat jodoh orang yang baik juga." Alvin membaringkan tubuhnya setelah berkata demikian. Perlu waktu selama beberapa saat bagi Nabila untuk mencerna ucapan Alvin.
"Maksud lo gue nggak baik, Vin?" Nabila tersinggung mendengar ucapan Alvin.
"Aku nggak ngomong gitu."
"Ngaku aja! Lo ngatain gue 'kan?" Nabila mendorong punggung Alvin yang tidur membelakanginya.
"Aku nggak bermaksud gitu. Kalau kamu ngerasa itu bukan salah aku," elak Alvin.
"Belagu lo, Vin. Mentang-mentang udah tobat. Lo nggak berhak merendahkan orang lain kayak gitu." Nabila berang sambil menunjuk muka Alvin.
"Siapa yang merendahkan? Aku ngomongin diri aku sendiri. Mungkin aku nggak pantas bagi kamu, aku nggak cukup baik untuk menjadi suami kamu. Aku tau diri."
Nabila merasa bersalah karena sudah menuduh Alvin sembarangan. Ia ikut tidur di samping Alvin. "Vin, malam ini lo tidur di sofa lagi, ya?"
"Aku capek banget, Bil. Kali ini biarin aku tidur di sini, aku janji nggak macem-macem."
"Alvin!"