Setelah makan malam Alvin duduk-duduk sambil memandang pemandangan laut. Sebenarnya ia ingin membaca buku, tapi ia takut Nabila meledeknya.
Alvin mengamati Nabila yang sedang memindahkan isi kopernya ke lemari. Seketika dahinya berkerut. "Bil, kamu nggak bawa pembalut?"
"Em, tadi habis." Nabila tampak gugup mendengar pertanyaan Alvin.
"Kok kamu nggak nyuruh pelayan buat beli?" tanya Alvin curiga.
"Em, malu."
"Terus gimana?"
"Em ...." Nabila tampak gugup mendengar pertanyaan Alvin.
"Sebenernya kamu nggak pernah sholat 'kan?" tebak Alvin. Melihat ekspresi Nabila sepertinya dugaannya benar.
"Kalau iya, kenapa?" tantang Nabila.
"Kenapa kamu bohong sama aku?" tanya Alvin dengan pandangan menyelidik.
"Bukan urusan lo."
Mendengar jawaban Nabila yang kurang ajar, mau tak mau emosi Alvin terpancing juga. Ia diam sejenak, menghela nafas dalam. Mencoba mengelola emosinya.
"Tentu saja urusan aku, Bil. Kamu istri aku. Aku punya kewajiban buat mendidik kamu." Alvin berusaha berkata dengan nada yang tegas.
"Nggak usah ceramah."
"Kalau kamu nggak sholat aku juga ikut berdosa. Sudah cukup kamu nggak berhijab, ini ditambah nggak sholat."
"Nggak usah sok suci dan nasehatin gue."
Alvin tercengang mendengar jawaban Nabila yang selalu melawannya. Ia sadar betul, dirinya memang bukan manusia suci. Ia juga baru belajar agama akhir-akhir ini. Tapi tetap saja sebagai suami ia wajib menasehati Nabila. Ia akan berusaha sebisanya.
"Aku emang bukan orang yang suci, Bil. Aku juga masih belajar. Tapi yang aku bilang itu benar. Jangan lihat siapa yang mengatakan, tapi lihatlah apa yang dikatakan."
"Ribet." Nabila meninggalkan Alvin ke luar kamar, ia memilih duduk di luar. Alvin mengikutinya, ia duduk di samping Nabila.
"Bil, apa yang membuat kamu nggak mau sholat?" Alvin memelankan suaranya.
"Gue males aja, nggak penting."
Alvin mengelus d**a mendengar jawaban Nabila. Ini seperti cerminan dirinya beberapa tahun yang lalu.
"Kamu belum tau aja keutamaan sholat, kalau aku yang bilang kamu nggak bakal percaya. Besok aku belikan bukunya, ya?"
"Nggak usah. Percuma, gue nggak bakal baca."
"Atau mau aku antar diskusi sama ustad aku?" Ustad yang dimaksud Alvin adalah ustadz Hanan, teman Alvin semasa di Australia.
"Lo jadi suami belum seminggu udah ngatur-ngatur gue, ya?" Nabila berang karena merasa Alvin terlalu cerewet padanya.
"Maafkan aku, Bil. Aku hanya sedang menjalankan kewajiban sebagai seorang suami."
"Berisik."
"Aku bicara gini demi kebaikan kamu. Walaupun pernikahan kita karena perjodohan aku berniat menjalani semua ini dengan bersungguh-sungguh."
"Kalau lo masih berisik, gue cemplungin ke laut." Ancam Nabila.
"Sholat lah, Bil. Setidaknya demi aku, kamu nggak kasihan sama aku?" rayu Alvin.
"Apa urusannya sama lo?"
"Di akhirat nanti aku yang dimintai pertanggungjawaban oleh Allah." Alvin berusaha mengulang apa yang pernah dikatakan oleh ustdaznya.
"Bukan urusan gue. Ya udah, terima aja nasib lo. Kalau lo nggak kuat punya isteri kek gue, ya ceraiin dong." Nabila berkata santai. Membuat Alvin berkali-kali beristighfar.
"Astaghfirullah. Allah itu membenci perceraian, Bil."
"Udah, jangan berisik lagi! Gue mau tidur." Nabila masuk ke kamar, meninggalkan Alvin seorang diri. Ia tidur memakai selimut hingga ke kepala.
Alvin menggeleng perlahan, benar-benar berat ujiannya kali ini. Ia tak yakin bisa menjinakkan isteri seperti Nabila. Nama begitu cantik, mengapa kelakuan begitu buruk?