Lima tahun kemudian, Saudara-saudara, kalau kalian berdiri di plaza itu menjelang sore, kalian akan melihat pemandangan yang sama dan tidak sama sekaligus. Dua gedung masih berdiri berhadap-hadapan. Jalan kecil di antaranya masih membelah dua. Tapi sekarang, di garis tengah jalan itu, ada satu anak perempuan lima tahun berlari-lari dengan rambut curly cokelat yang memantul-mantul, dan di belakangnya seorang satpam tua berjalan pelan sambil tersenyum, tidak lagi mencatat, karena bukunya sudah pensiun.
Naira Sekar Megantara, demikian namanya, dan plaza itu adalah kerajaannya. Dia tahu setiap ubin di garis tengah, tahu jendela lantai sepuluh di kedua gedung, dan tahu bahwa kalau dia berdiri di titik itu sambil melambai, dua kantong manusia paling penting dalam hidupnya akan melambai balik dari dua arah yang berlawanan. "Sebelah kiri Mamah, sebelah kanan Papah," begitu dia menjelaskan kepada siapa pun yang bertanya, dengan gaya seorang pemandu resmi. "Di tengah-tengah, saya."
Buku catatan satpam senior yang legendaris itu kini berdiri dalam bingkai kaca di lorong rumah kecil lima menit dari plaza, menjadi pusaka ketiga, berdampingan dengan dua kontrak tisu, Kontrak Meja Dapur, proposal pemenang, selempang wisuda, klausul sepuluh, dan satu foto besar di ujung lorong: foto bertiga di hari kepulangan dari rumah sakit, dengan plakat di bawahnya yang bertuliskan tiga kata yang diusulkan seorang ibu dan disetujui seorang ayah tanpa amendemen: Akhirnya Satu Atap. Satpam itu sendiri masih berjaga, dengan buku baru jilid dua yang halamannya lebih jarang penuh, karena zaman sudah damai, dan zaman damai, kata beliau, berita baiknya memang tidak seramai berita perang.
Kota kecil mereka juga berubah dengan caranya sendiri. Di sisi timur, kawasan komersial yang dulu diperebutkan sekarang berdiri megah, hasil kerja dua perusahaan yang menandatangani satu proposal dengan dua nama yang sama. Di plaza, kedai kopi pojok masih menjaga meja klausul, dan di belakang barnya, di dalam bingkai kecil, tersimpan halaman buku tamu dengan dua tanda tangan dan satu cap kaki bayi. Cangkir mini bertuliskan MEJA KLAUSUL JUNIOR masih menunggu di rak paling atas. Lima belas tahun lagi, kata barista. Tidak buru-buru.
Mikhaella dan Bara menikah dua tahun lalu, tentu saja di plaza, tentu saja dengan dokumen yang rapi, dan tentu saja dengan buku log keluarga yang halaman pertamanya bertuliskan: "Kebetulan terakhir: seumur hidup." Anak magang yang dulu juara taruhan sekarang menjadi manajer, dan di bawah kepemimpinannya pasar taruhan pensiun dengan hormat, digantikan arsip sejarah dua gedung yang dia rawat seperti museum. Dave tetap paman favorit, dan boys night Kamis malam masih berjalan di dua kursi balkon yang menghadap lampu kota, hanya saja sekarang sering ada kursi kecil ketiga di antaranya, untuk seorang anak lima tahun yang diizinkan begadang tiga puluh menit lebih lama setiap Kamis, atas dasar kontrak.
Kontrak, ya. Karena tradisi itu ternyata menurun. Di rak netral dapur rumah kecil itu, di antara teh dan mie instan dan stok kopi susu yang sudah kembali penuh sejak masa pantang berakhir, sekarang tertempel selembar kertas bertuliskan crayon dengan huruf besar-besar yang bergelombang: "BOLEH NONTON KARTUN 30 MENIT." Di bawahnya ada dua tanda tangan rapi orang dewasa dan satu cap tangan kecil berwarna jingga. Klausulnya satu. Sanksinya jelas: kalau lebih dari tiga puluh menit, Megi Junior yang sedih. Megi Junior, kaktus tua yang masih berdiri di jendela dapur, kini punya dua anak kecil di pot-pot kecil di sampingnya, dan Naira memberi mereka nama sendiri tanpa bisa dibantah siapa pun.
Kamus Jendela pun menemukan penerusnya. Di arsip sejarah dua gedung, di samping dokumen isyarat lama, sekarang tersimpan satu lembar tambahan berisi gambar crayon: dua gedung, satu jalan, dan tiga orang lidi yang bergandengan di tengahnya. Di bawah gambar itu, anak magang yang sekarang jadi manajer menuliskan keterangan dengan huruf rapi: "Isyarat terakhir. Artinya: pulang." Tidak ada yang mengajari Naira gambar itu. Dia melihatnya sendiri setiap sore, dari garis tengah, dan menuangkannya seperti anak-anak selalu menuangkan hal yang paling mereka pahami: bukan perang, bukan kontrak, tapi tiga orang yang berjalan pulang bersama.
Rotasi Minggu tidak pernah bolos. Di rumah Eva dan Damares, rendang dua porsi sudah menjadi rendang tiga porsi, karena ada satu cucu yang mewarisi selera mamahnya. Di rumah Ayu, inspeksi kulkas sudah pensiun dengan damai, digantikan inspeksi gambar crayon yang dipajang di pintu kulkas dan dinilai dengan standar pujian yang ketat. Damares masih membaca koran, tapi sekarang separuh waktunya habis untuk membacakan dongeng dengan suara berat yang membuat satu cucu tertidur di pangkuannya sebelum halaman ketiga. Dan dua mamah, duo yang dulu berkolaborasi lewat Tim Inspeksi, sekarang menjalankan misi yang lebih besar: menjadi nenek, sebuah pekerjaan yang mereka jalani dengan dedikasi dua kali lipat dan jadwal yang disepakati tanpa perlu kontrak, karena untuk urusan ini, ternyata, dua hati bisa jadi satu tanpa dokumen.
Dan pada suatu sore, lima tahun setelah tangis pertama di rumah sakit itu, di jendela lantai sepuluh gedung sebelah kiri, Anara berdiri menghadap ke jendela lantai sepuluh gedung seberang. Di seberang sana, Arga berdiri dengan pose yang sama, seperti ribuan kali sebelumnya, seperti dua belas tahun lalu ketika dua jendela ini masih jadi menara perang.
Anara mengangkat tangan. Telapak dibuka menghadap atas, lalu ditutup. Nanti di rumah.
Dari jendela seberang, Arga membalas dengan satu anggukan pelan, dan di bawah mereka, di garis tengah plaza, seorang anak lima tahun sudah menunggu dengan dua tangan terentang, satu ke arah gedung kiri, satu ke arah gedung kanan, tidak sabar menjadi jembatan seperti biasanya.
Mereka turun, bertemu di titik itu, dan berjalan pulang bertiga menyusuri jalan kecil yang pernah jadi batas dua dunia. Tidak ada yang buru-buru. Tidak ada yang perlu dimenangkan. Di belakang mereka, dua gedung menangkap cahaya sore dan berkilau seperti dua raksasa tua yang sedang mengenang: tentang perang yang dulu mereka saksikan dari jendela, tentang kontrak tisu yang menyerap tawa, tentang dua hati yang menyala di kaca-kaca mereka, tentang tangis pertama generasi ketiga, tentang semua yang berawal dari permusuhan dan berakhir, justru karena permusuhan itu, menjadi keluarga.
Saudara-saudara, begitulah cerita dua gedung itu selesai: bukan dengan salah satu roboh, bukan dengan salah satu menang, melainkan dengan satu jalan kecil di antaranya yang akhirnya diakui sebagai milik bersama. Perang mereka sudah jadi sejarah. Cinta mereka sudah jadi rumah. Dan di garis tengah plaza itu, seorang anak berlari mendahului orang tuanya, pulang ke satu atap, sambil berteriak kepada dua gedung sekaligus, dengan suara yang oleh bidan dulu disebut suara bos:
"Dadah! Besok lagi!"
Dan dua gedung itu, seperti biasa, seperti selalu, menjawab dengan caranya sendiri: diam, tegak, berdampingan, menjaga titik tengah tempat semuanya bermula dan tempat semuanya akan terus kembali.
Tamat.