Ruang tunggu rumah sakit jam tiga pagi, Saudara-saudara, biasanya adalah tempat paling sepi di dunia. Tapi tidak malam itu. Malam itu, ruang tunggu dipenuhi oleh sebuah keluarga yang datang seperti rombongan pengantar hajatan, karena memang begitulah keluarga ini bekerja: kalau ada acara, semua datang.
Eva dan Ayu tiba dalam waktu dua puluh menit, dari dua rumah berbeda, dengan dua tas berisi makanan yang isinya ternyata identik, dan keduanya langsung duduk berdampingan di kursi tunggu, berdoa dengan cara masing-masing sambil sesekali saling menggenggam tangan tanpa sadar. Damares datang dengan koran, duduk paling ujung, membuka koran, dan tidak membacanya sama sekali; satu halaman dipegang terbalik selama empat puluh menit tanpa ada yang tega memberi tahu. Dave tiba dengan termos-termos kopi dari kedai pojok, karena barista, yang ditelepon jam setengah tiga, bangun, menyeduh, dan menitipkan pesan: "Decaf untuk calon ibu. Yang lain biasa. Semangat, semuanya."
Pak Handoko datang pukul empat kurang, dengan batik rapi dan dua gelas di tangannya, satu berisi gula, satu berisi kopi, yang dia letakkan di meja ruang tunggu dengan khidmat. "Ini bukan untuk diminum," jelasnya kepada perawat yang kebingungan. "Ini simbol. Keluarga ini punya tradisi: gula dan kopi harus segelas, jangan dipisah. Biar yang lahir nanti tahu, dia datang ke keluarga yang sudah berdamai." Perawat itu tidak sepenuhnya paham, tapi membiarkan dua gelas itu berdiri di sana, dan entah kenapa, ruang tunggu terasa lebih hangat karenanya.
Satpam senior tidak masuk, tentu saja, karena rumah sakit punya protokol sendiri. Beliau berjaga di koridor luar, berdiri tegak dengan buku catatannya, dan ketika keluarga bertanya kenapa tidak duduk, jawabannya singkat: "Protokol tidak resmi, Pak. Hari ini saya jaga di sini." Tidak ada yang membantah. Di keluarga ini, satpam itu bukan penjaga gedung. Dia penjaga sejarah.
Dan di balik pintu ruang bersalin, peristiwa sesungguhnya berjalan. Arga Satria Megantara, dengan jas operasi hijau dan masker, berdiri di samping istrinya, memegang tangannya sejak awal, membisikkan hal-hal yang hanya mereka berdua yang tahu: angka-angka napas, hitungan mundur, dan sesekali, di jeda-jeda, kalimat lama yang dulu pernah diucapkan di meja akad, "Kuat, Nyonya. Sebentar lagi."
Pukul empat lewat tujuh belas menit, tangis pertama terdengar.
Perempuan. Tiga koma dua kilogram. Lima puluh satu sentimeter. Sehat, sempurna, dan berteriak dengan volume yang oleh bidan dikomentari, "Ini anak punya suara bos."
Arga tidak berdiri tegak saat itu. Dia duduk, karena lututnya memutuskan sendiri, dan menangis tanpa suara di balik masker, di depan semua orang, tanpa berusaha menyembunyikannya sedetik pun. Lelaki yang seumur hidup menjaga wajahnya seperti menjaga brankas itu membiarkan semuanya terbuka, karena ada hal-hal yang memang tidak bisa dikontrakkan, dan ini salah satunya.
Ketika bayi itu dibungkus dan diletakkan di dada ibunya, Anara menatap wajah mungil itu dengan mata yang basah dan lelah dan penuh, lalu menoleh ke suaminya. "Pak. Kenalkan."
Arga menunduk, mendekatkan wajahnya, dan berbisik kepada manusia paling baru di keluarga itu dengan suara yang tidak akan pernah dia pakai di rapat mana pun: "Selamat datang, Nona Megantara kecil. Naira Sekar Megantara. Rumahmu sudah lama disiapkan."
DEG. Kali ini dua-duanya. Dan kalian, Saudara-saudara, yang sudah mengikuti dari awal, tahu bahwa DEG yang ini adalah DEG yang paling besar, karena ini DEG yang dibagi tiga.
Di ruang tunggu, kabar itu datang lewat seorang perawat yang tersenyum lebar sebelum sempat bicara, sehingga semua orang sudah berdiri sebelum kalimatnya selesai. "Ibu dan bayi sehat. Perempuan." Ruang tunggu meledak pelan, karena bagaimanapun juga ini rumah sakit, jadi meledaknya sopan: dua mamah berpelukan sambil menangis, Damares akhirnya menurunkan korannya dan menghadap jendela dengan bahu bergetar, Dave memeluk Handoko yang sama sekali tidak keberatan, dan dua gelas gula dan kopi di meja itu disaksikan semua orang seperti dua saksi kecil yang tugasnya selesai.
Menjelang siang, ketika giliran jenguk dibuka, ruang kamar itu dipadati secara bergantian dengan protokol yang disusun dadakan oleh Tim Inspeksi. Dua nenek resmi memperebutkan hak menggendong pertama, dimenangkan bersama lewat sistem bergilir tujuh menit yang dihitung Damares dengan stopwatch ponselnya. Dan Dave, yang sejak subuh menyebut dirinya paman, menggendong Naira dengan kedua tangan kaku seperti memegang barang pecah belah termahal di dunia, lalu menunduk dan berbisik, "Kamu tahu tidak, Nak, Papamu dulu pernah bilang adiknya perempuan. Sepuluh tahun bohong. Sekarang dia benar-benar punya perempuan kecil. Semesta itu lucu." Naira tidur sepanjang pidato itu, yang oleh Dave dicatat sebagai kritik pertama dari keponakan.
Di koridor luar, satpam senior membuka buku catatannya, mengisi baris yang sudah disiapkan sejak seminggu lalu, dan menulis dengan tinta terbaiknya: "Pukul 04.17. Lahir. Perempuan. Naira Sekar Megantara. Tidak ada insiden. Hanya keajaiban." Di bawahnya, beliau menambahkan satu baris yang tidak biasa, mungkin karena hatinya terlalu penuh: "Buku ini resmi jadi buku keluarga."
Berita sampai ke dua gedung sebelum subuh. Anak magang, yang tidur dengan ponsel di bantal sejak seminggu, menerima pesan pertama, dan sebelum jam enam, sesuatu terjadi di plaza: dari jendela-jendela dua gedung, lampu-lampu menyala membentuk satu hati kecil di masing-masing gedung, tidak besar seperti waktu pernikahan, cuma kecil dan sederhana, karena yang lahir juga kecil. Orang-orang yang lewat subuh itu berhenti dan memandang, dan beberapa yang tahu ceritanya tersenyum, dan beberapa yang tidak tahu tetap tersenyum, karena hati yang menyala di jendela memang tidak butuh penjelasan.
Tiga hari kemudian, mobil itu pulang. Kali ini kecepatannya tetap dua puluh kilometer per jam, kali ini bukan karena panik, melainkan karena tidak ada alasan untuk buru-buru. Di kursi belakang, Anara memangku Naira yang tidur dengan wajah damai orang yang belum tahu apa-apa tentang dua gedung dan satu jalan. Di kursi depan, Arga menyetir dengan satu tangan, karena tangan satunya menggenggam tangan istrinya yang menggenggam jari mungil anaknya.
Rumah kecil lima menit dari plaza menyambut mereka dengan sunyi yang baru. Di lorong, pigura-pigura pusaka berdiri berjajar: dua kontrak tisu, Kontrak Meja Dapur, proposal pemenang, selempang wisuda. Dan di ujung lorong, sudah tergantung satu bingkai kosong yang disiapkan Arga sebulan lalu tanpa memberi tahu siapa pun, dengan plakat kecil yang masih polos, menunggu diisi.
"Isinya apa nanti?" tanya Anara, ketika akhirnya dia melihatnya.
Arga memandang bingkai kosong itu, lalu memandang istrinya, lalu memandang bayi yang tidur di gendongan, dan menjawab dengan tenang: "Foto pertama kita bertiga. Dipasang hari ini juga. Plakatnya nanti, kalau kita sudah sepakat tulisannya."
"Usulku: tiga kata."
"Katakan."
Anara tersenyum, di tengah lorong penuh sejarah itu, dengan dua laki-laki terpenting dalam hidupnya, satu besar satu kecil, dan berkata: "Akhirnya satu atap."
Dan bingkai itu tidak kosong lama. Tapi itu, Saudara-saudara, sudah masuk cerita terakhir.