Bulan kesembilan, Saudara-saudara, adalah bulan ketika sebuah rumah tangga yang teratur berubah menjadi markas operasi. Dan markas operasi yang dikomandoi Arga Satria Megantara, bisa kalian bayangkan sendiri tingkat kesiapannya.
Tas rumah sakit disiapkan tiga rangkap. Benar-benar tiga rangkap: tas utama di dekat pintu, tas cadangan di mobil, dan tas darurat di kantor, masing-masing berisi identik, masing-masing diberi label. Checklist ditempel di kulkas dengan magnet berbentuk hati, satu-satunya magnet yang tidak pernah dikritik Arga karena pemberian istrinya. Rute ke rumah sakit dilatih lima kali pada jam berbeda untuk mengukur kemacetan, dan hasilnya dicatat dalam tabel: rute tercepat jam dua pagi, sebelas menit. Angka sebelas menit itu akan penting nanti.
Kamar bayi menempati kamar kecil di antara dua kamar kerja, posisi yang dipilih lewat rapat keluarga yang alot, dan yang oleh Anara diberi nama resmi: Garis Tengah. "Kamar timur punya saya, kamar barat punya Bapak, yang tengah punya dia," kata Anara. "Dia lahir di tengah dari awal. Biar tidak ada yang merasa menang sendirian." Kamar itu dicat putih hangat, diisi perlahan, dan di salah satu dindingnya, Damares memasang sendiri satu rak kecil, dengan tangan kakek yang gemetar sedikit, untuk buku-buku yang sudah dikirim dua mamah dalam jumlah yang melampaui kebutuhan bayi mana pun.
Semua pihak mendapat briefing. Satpam senior menerima instruksi tidak tertulis tapi dipahami sepenuhnya: kalau mobil itu keluar malam-malam, berarti waktunya. Barista menyetok bubuk decaf dua kali lipat. Dave mendaftarkan diri sebagai sopir cadangan resmi, lengkap dengan simulasi. Tim Inspeksi membagi jadwal siaga: Eva pekan ganjil, Ayu pekan genap, dan keduanya sepakat bahwa pembagian ini adalah perjanjian damai paling penting dalam sejarah mereka.
Ada satu kali alarm palsu, dan itu menjadi pelajaran berharga bagi seluruh markas. Malam Kamis, pekan ketiga bulan kesembilan, Anara merasakan kontraksi, dan seluruh sistem berjalan sempurna: tas utama terambil dalam empat detik, rute sebelas menit tercapai, Dave tiba di rumah sakit bahkan sebelum mereka, dan dua mamah datang dengan rantang. Hasilnya: kontraksi latihan. Pulang jam lima pagi dengan wajah campur aduk antara lega dan malu. Tapi tidak ada yang menggerutu. Bu Surti mengirim rendang untuk pemulihan moral, dan Arga menuliskan di checklist satu baris baru yang kemudian dibaca berulang-ulang oleh seluruh tim: "Alarm palsu bukan kegagalan. Alarm palsu adalah gladi."
Di hari-hari menunggu itu, mereka sering jalan sore ke plaza, pelan-pelan, satu putaran saja. Di garis tengah antara dua gedung, Anara selalu berhenti, meletakkan tangan di perut besarnya, dan bercerita. "Dengar ya, Nak. Gedung yang kiri itu punya Mamamu. Gedung yang kanan itu punya Papamu. Dulu kami berdua berperang dari jendela, dari titik ini." Arga di sampingnya menambahkan dengan nada resmi seperti pemandu wisata, "Dan dari titik ini juga kami menyerah. Dua-duanya. Skor akhir: tidak ada yang kalah." Bayi itu biasanya menjawab dengan satu tendangan, yang oleh dua orang tuanya ditafsirkan sebagai persetujuan, dan pulanglah mereka berjalan pelan, dua orang yang dulu saling menghancurkan, sekarang saling menjaga langkah.
Evaluasi mingguan terakhir sebelum cuti juga diadakan, tentu saja, di meja klausul. Barista menyajikan dua gelas dan satu hadiah kecil yang dibungkus kertas koran: sebuah cangkir mini, ukuran seperempat cangkir biasa, dengan tulisan spidol di sisinya, MEJA KLAUSUL JUNIOR. "Untuk nanti," katanya. "Kalau dia sudah boleh duduk di sini. Lima belas tahun lagi. Tidak buru-buru." Anara memeluk cangkir mini itu seperti memeluk piala, dan malam itu buku tamu kedai mendapat satu entri baru dengan dua tanda tangan dan satu cap kaki kecil yang dicetak pakai tinta aman, yang oleh barista kemudian dibingkai dan digantung di belakang bar, tidak untuk diperlihatkan, cuma untuk diingat.
Dan tibalah malam itu. Malam Selasa, jam dua pagi, di dapur, di depan mie instan.
Karena tentu saja mie instan, Saudara-saudara. Di rumah ini, semua hal besar terjadi di depan mie instan jam dua pagi. Anara tidak tidur, lapar, dan turun ke dapur. Arga, yang sejak bulan kedelapan tidurnya dangkal seperti satpam, menyusul lima menit kemudian. Mereka makan mie berdiri, dalam diam yang nyaman, ditemani Megi Junior, dan di suapan ketiga, Anara berhenti mengunyah.
"Pak."
"Ya."
Anara meletakkan garpu pelan-pelan, memandang suaminya dengan mata yang besar dan tenang, dan berkata dua kata yang mengubah segalanya: "Waktunya."
Apa yang terjadi dalam tujuh detik berikutnya akan dicatat sejarah keluarga sebagai peristiwa Arga Satria Megantara kehilangan seluruh ketenangannya. Lelaki yang menghadapi tender ratusan miliar tanpa berkedip itu menjatuhkan garpu, mengambil tas yang salah, mengambil tas yang benar lalu menurunkannya lagi, mencari kunci mobil yang ada di tangannya sendiri, dan akhirnya berdiri di tengah dapur dengan napas tidak teratur, memandang istrinya seperti memandang soal ujian yang tidak dia pelajari.
Anara, yang sedang kontraksi, justru menenangkan suaminya. "Pak. Tarik napas. Tas utama di dekat pintu. Kunci di tanganmu. Rute jam dua pagi, sebelas menit. Kamu latihan lima kali."
"Sebelas menit," ulang Arga, dan kata-kata itu menemukan jalannya ke otaknya.
"Ayo. Pelan-pelan. Bayinya sopan, dia tidak akan buru-buru kalau Papanya tidak buru-buru."
Mereka keluar dari rumah jam dua lewat sembilan menit, dengan tas yang benar, kunci yang benar, dan satu penumpang yang kontraksinya datang berkala. Di mobil, di jalanan kosong jam dua pagi, Arga menyetir dua puluh kilometer per jam, jauh di bawah batas, dengan dua tangan di setir pada posisi sepuluh-dua yang sempurna, dan Anara di sebelahnya tertawa di sela kontraksi.
"Pak. Sebelas menit latihanmu."
"Latihan tanpa penumpang," jawab Arga tanpa memalingkan wajah dari jalan. "Dengan penumpang, tidak ada kompromi soal kecepatan."
"Kamu tahu kita bisa sampai lebih cepat kalau kamu mau jalan lebih dari dua puluh?"
"Kita akan sampai dengan selamat, Nyonya. Itu satu-satunya jadwal yang penting malam ini."
Anara tidak membantah lagi. Dia cuma meraih tangan suaminya yang satu, meletakkannya di tangan kirinya yang bebas, dan memandang lampu-lampu kota yang berjalan pelan di kaca. Di belakang mereka, lima menit dari rumah, dua gedung berdiri gelap. Di dalam buku catatan satpam senior, yang terjaga karena firasat, satu baris sudah disiapkan sejak seminggu lalu, tinggal diisi jamnya.
Di kejauhan, lampu-lampu rumah sakit mulai terlihat. Dan di dalam perut yang sudah sembilan bulan menunggu, generasi ketiga bersiap menemui dua gedung, dua mamah, dua bersaudara, satu warteg, satu kedai, dan satu jalan kecil di antara semuanya, yang sejak dulu selalu berdiri tepat di tengah.