Hubungan paling terdokumentasi dalam sejarah plaza, Saudara-saudara, bukanlah hubungan dua bos. Hubungan dua bos setidaknya punya bagian-bagian yang tidak tercatat. Hubungan Mikhaella dan Bara, sebaliknya, berjalan seluruhnya lewat dokumen resmi: izin pertama, mengenal lebih jauh di luar jam kerja; izin kedua, pendamping tetap, yang diajukan Bara di ulang tahun pertama izin pertama, lengkap dengan lampiran dua ratus lembar struk boba taro yang sudah dilaminating semua.
Dan pada suatu Jumat malam, di kedai kopi pojok, ketika plaza sedang tenang-tenangnya, izin ketiga diajukan.
Malam itu meja evaluasi terisi seperti biasa. Bedanya, kali ini Bara datang dengan map yang lebih tebal dari biasanya, dan di meja sebelah, meja klausul, duduk dua bos yang seharusnya sedang menjalankan evaluasi mingguan mereka sendiri tapi jelas-jelas tidak fokus. Anara, dengan perut yang sudah besar, duduk menyandar dengan segelas Klausul Sepuluh, dan Arga di sampingnya memegang kertas evaluasi yang sudah dua puluh menit tidak dibaca. Dua-duanya pura-pura tidak menyimak meja sebelah. Dua-duanya menyimak meja sebelah.
"Agenda malam ini," kata Mikhaella, membuka buku lognya, "poin satu: rekap mingguan. Poin dua—"
"Poin dua saya yang isi," potong Bara, dan meletakkan map tebal itu di atas meja.
Mikhaella memandang map itu. Membukanya. Halaman pertama berkop seperti biasa, format resmi seperti biasa, tapi judulnya kali ini lebih panjang dari biasa: PERMOHONAN IZIN KETIGA. Di bawahnya, subtitel yang membuat tangan Mikhaella berhenti di udara: "Seumur Hidup."
Satu kedai pojok ikut berhenti. Barista, yang sedang mengelap gelas, mengelap gelas yang sama selama tiga menit penuh.
Mikhaella membaca. Dokumen itu punya pasal-pasal: ruang lingkup, jangka waktu yang tertulis "tidak terbatas dan tidak dapat diperbaharui karena tidak akan pernah berakhir", hak dan kewajiban, dan satu pasal khusus yang berbunyi: "Pemohon berjanji tidak akan pernah kehabisan boba taro, dan apabila kehabisan, wajib mencari sampai dapat." Di halaman terakhir, di kolom tanda tangan, tertempel sebuah kotak kecil. Di dalam kotak kecil itu, sebuah cincin sederhana yang berkilau kena lampu kedai.
"Ini," kata Mikhaella, dan suaranya hilang di tengah.
"Kebetulan yang kedua ratus sebelas," kata Bara pelan. "Dan saya harap yang ini juga resmi."
Mikhaella menatapnya lama. Kacamata bundarnya turun, dan kali ini tidak didorong naik. Lalu dia berkata, dengan suara yang akhirnya bergetar tanpa dilawan: "Saya berhenti menghitung." Dia mengambil pulpen dari saku kemejanya, membubuhkan tanda tangan di kolom yang tersedia, dan menambahkan catatan kaki terakhir dengan huruf yang sedikit miring karena tangannya tidak stabil: "Disetujui. Tanpa syarat. Untuk pertama kalinya, tanpa syarat."
Meja klausul meledak duluan. Anara bersorak sambil memukul-mukul meja dengan tangan bebasnya, Arga bertepuk tangan tiga kali, yang dalam bahasanya setara dengan orkestra penuh, dan barista mematikan mesin kopi karena tangannya sibuk ikut bertepuk. Kabar itu menyebar ke dua gedung sebelum malam berakhir, dan keesokan harinya, di jendela lantai tiga gedung kiri dan lantai delapan gedung kanan, terpasang dua banner kecil yang dipasang oleh rekan-rekan mereka masing-masing: SELAMAT, PENGHITUNG RESMI. Gedung kiri dan gedung kanan, untuk kedua kalinya, menikahkan warganya.
Buku catatan satpam mencatat peristiwa itu dengan entri yang pendek tapi dalam: "Lamaran di kedai pojok. Dokumen resmi. Disetujui tanpa syarat. Buku ini ikut bahagia." Pasar taruhan membayar lunas pasaran "kapan Mikhaella berhenti menghitung", dan anak magang, untuk ketiga kalinya dalam hidupnya, menang besar, sampai mulai dicurigai punya informasi orang dalam, yang dengan tenang dia bantah sambil menyeruput boba: "Saya cuma mengenal orangnya."
Astrid menangis selama empat puluh menit ketika mendengar kabar itu, lalu menghabiskan dua jam berikutnya menelepon seluruh kenalannya dengan kalimat pembuka yang sama: "Anak saya dilamar pakai dokumen resmi. Rapi. Ada lampiran. Kamu tidak akan percaya."
Tiga hari kemudian, Mikhaella datang ke rumah kecil lima menit dari plaza dengan membawa sesuatu yang membuat Anara langsung duduk tegak di sofa: sebuah binder. Binder persiapan pernikahan. Sudah terisi. Sudah ada tab berwarna. Sudah ada jadwal mundur yang dihitung dari tanggal yang bahkan belum diumumkan. "Non," kata Mikhaella, meletakkan binder itu di meja dengan gaya orang menyerahkan dokumen negara, "saya tahu kamu sedang menunggu bayi. Tapi saya juga tahu kamu akan protes kalau tidak dilibatkan dari awal. Jadi ini. Bab satu sampai bab tiga bisa dibaca sekarang. Bab empat menunggu kalau Nona sudah melahirkan."
Anara membuka binder itu dengan tangan gemetar karena terharu, dan menemukan di halaman pertama sebuah kalimat yang ditulis Mikhaella sendiri: "Untuk bos yang mengajari saya bahwa menunggu itu bukan pekerjaan, tapi percaya itu pekerjaan." Dia tidak sempat membaca lebih jauh karena matanya sudah basah, dan Mikhaella, dengan profesionalisme tingkat tinggi, sudah menyiapkan tisu di tab terpisah, tab keenam, labelnya: AIR MATA. "Saya prediksi," kata Mikhaella bangga. Malam itu dua perempuan itu membahas venue sampai tertidur berdua di sofa, dan Arga pulang menemukan istrinya dan manajer operasionalnya tidur bersandar satu sama lain dengan binder terbuka di pangkuan, yang kemudian dia potret diam-diam untuk arsip keluarga, lalu disangkalnya keesokan pagi.
Malam itu juga, di rumah kecil lima menit dari plaza, Anara duduk di sofa dengan kaki dibantal, masih tersenyum memikirkan kedai tadi, dan hormon kehamilannya membuat senyum itu berubah jadi tangis haru tanpa izin. Arga, yang sudah belajar banyak dalam tujuh bulan terakhir, tidak bertanya kenapa. Dia cuma menyediakan bahu dan tisu, dan menunggu tangis itu selesai dengan sabar seorang yang tahu bahwa perasaan tidak butuh alasan, cuma butuh tempat.
"Mereka akan baik-baik saja," kata Arga akhirnya.
"Aku tahu," isak Anara bahagia. "Dia berhenti menghitung, Pak. Kamu tahu apa artinya itu bagi Mikhaella? Itu seperti kamu berhenti pakai jadwal."
Arga mempertimbangkan perbandingan itu dengan serius. "Maka itu benar-benar cinta."
Mereka duduk berdua dalam tenang setelah itu, di ruang tengah yang temaram, dengan dua pigura menunggu di lorong dan satu perut besar menunggu di antara mereka. Di luar sana, plaza beristirahat. Di dalam sini, dua keluarga kecil sedang bertumbuh: satu yang baru menandatangani izin seumur hidup, satu yang sedang menghitung mundur menuju hari yang tidak tercantum di jadwal mana pun. Dan di atas meja, binder bertab warna milik Mikhaella tergeletak terbuka di bab tiga, seolah ikut menunggu, karena di rumah ini bahkan rencana orang lain pun diperlakukan seperti pusaka.
"Tinggal menunggu generasi ketiga," kata Anara pelan, tangan di perut.
Dan dari dalam perut itu, seolah menjawab, datang satu tendangan kecil. Tepat waktu, seperti semua orang di keluarga ini. Megi Junior di jendela dapur diam menyaksikan, dan kalau kaktus bisa tersenyum, malam itu dia pasti tersenyum.