Kalau ada satu hal yang terjadi ketika seorang Arga Satria Megantara mengetahui dirinya akan menjadi ayah, Saudara-saudara, maka hal itu adalah: kehamilan berubah menjadi proyek. Lengkap dengan jadwal, checklist, dan rapat evaluasi.
Dalam seminggu, rumah kecil itu berubah. Kalender baru terpasang di dinding dapur, berisi tanggal kontrol yang ditandai rapi. Lemari mendapat satu laci khusus berisi vitamin yang disusun menurut hari. Dan rak pintu kulkas mengalami perubahan paling menyakitkan dalam sejarah rumah tangga itu: kopi susu resmi dikurangi, atas perintah dokter, digantikan oleh versi decaf yang oleh Anara diberi label sendiri dengan spidol: "KLAUSUL SEPULUH. BERTAHANLAH."
"Ini pengkhianatan," kata Anara kepada teh hangatnya pada suatu pagi.
"Ini kesehatan," jawab Arga.
"Kamu tahu berapa tahun kopi susu menemani saya?"
"Dan dia akan menemani lagi setelah sembilan bulan. Sementara ini, saya yang menemani." Arga meletakkan segelas susu hangat di depan istrinya. "Mohon kerja samanya, Nyonya. Ini satu-satunya tender yang tidak boleh gagal."
Kontrol bulanan menjadi agenda yang oleh Arga diperlakukan seperti rapat dewan. Dia datang dengan buku catatan kecil berisi daftar pertanyaan yang disusun seminggu sebelumnya, duduk paling dekat dengan dokter, dan mencatat jawaban dengan kecepatan notulen. Dokter kandungan mereka, perempuan paruh baya yang sudah menangani ribuan pasangan, berkata kepada Anara di kunjungan ketiga, "Suami Ibu ini tipe yang langka." Anara mengangguk bangga. "Iya, Bu. Dari dulu dia langka." "Bukan itu maksud saya," kata dokter itu sambil tersenyum. "Yang langka itu: dia mencatat pertanyaan Ibu, bukan pertanyaannya sendiri."
Puncak dari semua kunjungan itu adalah USG pertama yang memperdengarkan detak jantung. Di ruangan yang temaram, di layar yang buram, terdengar suara cepat dan kecil seperti drum yang ditabuh jauh di dalam gua. Anara menggenggam tangan suaminya. Arga tidak bersuara satu kali pun selama dua menit penuh, dan ketika keluar dari ruangan itu, dia berdiri di lorong klinik, memandangi hasil cetak USG yang buram itu, dan menyimpannya di saku dalam jas, di posisi yang biasanya disediakan untuk dokumen paling rahasia. Malamnya, di rumah, cetakan itu difoto dan disimpan di folder yang namanya tidak pernah dia akui keberadaannya, sekarang punya subfolder baru: GENERASI KETIGA.
Masa ngidam tiba di bulan keempat, dan kota kecil mereka tidak pernah sama lagi. Puncaknya terjadi pada jam dua pagi di suatu malam Selasa, ketika Anara membangunkan suaminya dengan kalimat yang diucapkan dengan wajah memelas yang tidak pernah dia pakai bahkan saat kalah tender: "Pak. Rendang Bu Surti."
"Sekarang jam dua."
"Aku tahu jamnya. Bayinya tidak tahu."
Maka terjadilah peristiwa yang kemudian dicatat dalam legenda warteg: Arga Satria Megantara, dengan jaket di atas piyama, mengetuk pintu belakang rumah Bu Surti jam setengah tiga pagi, dan disambut oleh perempuan itu dengan tawa yang membangunkan ayam. "Sudah saya duga!" kata Bu Surti, langsung menyalakan kompor. "Ibu hamil tidak kenal jam. Tunggu di warung. Setengah jam. Dan bilang ke anak itu, rendang Bu Surti selalu buka untuk dia." Sejak malam itu, di pintu warteg terpampang tulisan baru di bawah pengumuman tutup hajatan: "KHUSUS NGIDAM: 24 JAM."
Kamus Jendela pun berkembang. Isyarat baru dicatat oleh karyawan dua gedung dengan semangat ilmiah: tangan melingkar di depan perut artinya "bayi menendang"; dua jari diketuk ke pergelangan artinya "waktunya kontrol"; dan isyarat paling populer, Anara mengangkat sandal jepit sambil tersenyum, yang artinya menurut kamus: "gencatan senjata, tapi saya menang". Pasar taruhan membuka pasaran paling ramai dalam sejarahnya: menebak jenis kelamin, dengan anak magang sebagai ketua dan Mikhaella sebagai bendahara, dan omzetnya melampaui semua pasaran sebelumnya digabung jadi satu.
Di bulan ketujuh, dua gedung bahkan menyelenggarakan perayaan kecil bersama di plaza, sebuah syukuran ala karyawan yang disiapkan diam-diam lewat thread Proyek Seberang. Hadiahnya menumpuk di satu meja panjang: dari gedung kiri, satu set rak buku mini yang dirakit bersama saat jam istirahat; dari gedung kanan, album foto kosong berjudul tulisan tangan "Arsip Generasi Ketiga"; dan dari tim gabungan, sebuah benda yang membuat Anara tertawa sampai sakit perut: sandal jepit ukuran bayi, sepasang, dibungkus kotak bening seperti pusaka. "Supaya tradisi turun," kata anak magang menyerahkannya dengan khidmat. "Kamus Jendela perlu penerus." Anara meletakkannya di kamar Garis Tengah malam itu juga, di rak paling mudah dilihat, dan Arga memotretnya untuk arsip yang tidak dia akui.
Tapi pertempuran terbesar Proyek Sembilan Bulan bukan soal ngidam, bukan soal jadwal, bukan soal kopi susu. Pertempuran terbesarnya adalah soal nama, dan medan perangnya adalah dua mamah.
Eva mengusulkan dengan daftar. Ayu mengusulkan dengan album. Keduanya datang ke Rotasi Minggu dengan dokumen masing-masing, dan mata mereka bertemu di atas meja makan seperti dua jenderal yang membawa peta berbeda ke perang yang sama. "Nadia bagus," kata Eva. "Nadia biasa," kata Ayu, "bagus itu Sekar." "Sekar itu bunga." "Nadia itu harapan." "Mah, Mah, ini bukan lelang," kata Damares, yang langsung diserang dua mata dari dua arah.
Anara dan Arga saling berpandangan. Lalu, dengan ketenangan dua orang yang sudah berpengalaman dalam perang dua kubu, Anara berdeham dan mengumumkan keputusan resmi: "Klausul sembilan, Mah. Dua tanda tangan. Nama dipilih kami berdua." Dua mamah membuka mulut untuk protes, tapi Anara mengangkat tangan. "Tapi. Ada tapi-nya. Nama depan kami ambil dari daftar Mamah Ayu. Nama tengah dari daftar Mamah Eva. Kalian berdua menang. Tidak ada yang kalah."
Hening tiga detik. Lalu dua mamah itu saling berpandangan, dan untuk pertama kalinya dalam sejarah Tim Inspeksi, keduanya setuju tanpa debat. Maka tercatatlah, jauh sebelum bayi itu lahir, sebuah nama yang disahkan dua tanda tangan: Naira, dari daftar Ayu, yang artinya cahaya yang terus menyala; Sekar, dari daftar Eva, bunga yang mekar tepat waktu. Naira Sekar Megantara. Nama yang bahkan belum ada orangnya, sudah punya dua nenek yang memperebutkan hak menyebutnya duluan.
Bulan-bulan berikutnya berjalan seperti doa yang diulang pelan-pelan. Perut membesar. Jadwal kontrol terpenuhi satu per satu. Dan pada suatu malam, di sofa ruang tengah, saat dua orang itu menonton tanpa benar-benar menonton, Anara tiba-tiba mencengkeram tangan suaminya dan menempelkannya ke perutnya.
Arga membeku. Lalu terjadi lagi: tendangan kecil, dari dalam, menabrak telapak tangannya seperti ketukan dari dunia sebelah.
"Dia menendang," bisik Arga.
"Dia menyapa," kata Anara.
Dan lelaki paling tenang di kota itu duduk tak bergerak selama dua puluh menit penuh, tangan di perut istrinya, menunggu ketukan berikutnya, dengan wajah yang oleh siapa pun akan dibaca sebagai wajah orang yang sedang jatuh cinta untuk kedua kalinya, kali ini kepada seseorang yang bahkan belum dia temui.