Sabtu pagi di rumah kecil lima menit dari plaza dimulai seperti Sabtu-Sabtu lainnya: matahari masuk lewat jendela dapur, Megi Junior berdiri tegak di potnya, dan dua manusia bangun dengan ritme masing-masing. Bedanya, pagi itu satu dari mereka menghilang ke kamar mandi selama dua puluh menit, dan ketika keluar, wajahnya adalah wajah yang tidak bisa dibuat-buat: antara mau tertawa, mau menangis, dan mau memastikan sekali lagi.
Anara duduk di tepi tempat tidur, memandang benda kecil di tangannya. Dua garis. Bukan satu. Dua. Dia sudah membacanya lima kali, membandingkannya dengan petunjuk di kemasan tiga kali, dan memandanginya lagi di bawah cahaya jendela, seolah cahaya yang berbeda bisa memberi jawaban yang berbeda. Tidak. Tetap dua garis. Tegas, seperti tanda tangan.
Dia tidak langsung memberi tahu. Tentu tidak. Perempuan yang tiga tahun memenangkan perang dua gedung ini tidak menyampaikan kabar dengan cara biasa. Dia turun ke dapur, menyalakan kompor, membuat teh untuk dua orang, lalu duduk di meja dengan sebuah amplop cokelat di tangannya, menunggu suaminya turun dengan jantung yang berdetak seperti drum.
Arga turun pukul setengah delapan, rapi seperti biasa, dan berhenti dua langkah sebelum meja, karena dia mengenali pemandangan itu. Amplop cokelat di meja. Wajah istrinya yang menyimpan sesuatu. Teh dua cangkir. Dia pernah melihat konfigurasi seperti ini. Dua kali. Dan dua-duanya mengubah hidupnya.
"Nyonya," katanya pelan. "Itu amplop."
"Iya, Pak."
"Isinya?"
"Klausul."
Arga menarik kursi, duduk, dan membuka amplop itu dengan ketenangan yang terlihat dipaksakan. Di dalamnya tidak ada dokumen panjang. Hanya satu lembar kertas berisi foto benda kecil dengan dua garis, dan di bawahnya, tulisan tangan Anara yang rapi: "Kontrak Meja Dapur, Klausul Sepuluh: Generasi ketiga. Status: disetujui. Dua tanda tangan sudah sah sejak dulu. Mulai berlaku: sembilan bulan dari sekarang."
Arga membaca. Membaca lagi. Membaca ketiga kalinya. Lalu lelaki yang menghadapi tender ratusan miliar tanpa berkedip itu melakukan sesuatu yang belum pernah tercatat dalam sejarahnya: dia kehilangan keseimbangan di kursinya, memilih turun, dan duduk di lantai dapur, tepat di sebelah istrinya yang sudah lebih dulu duduk di lantai tanpa dia sadari kapan.
"Saya akan jadi ayah," kata Arga akhirnya, suaranya seperti orang yang baru menemukan hukum fisika baru.
"Iya, Pak."
"Saya harus rapat."
"Tidak jadi."
"Tidak jadi," ulang Arga, dan untuk pertama kalinya dalam sejarah dua perusahaan, Arga Satria Megantara membatalkan satu hari penuh tanpa alasan operasional. Asistennya menerima pesan pembatalan itu jam delapan lewat tiga menit, membaca dua kali, dan langsung menelepon sekretaris seberang. Dalam sebelas menit, dua gedung tahu ada sesuatu yang besar, tapi belum tahu apa, dan pasar taruhan langsung buka tiga pasaran sekaligus.
Pengumuman resminya disampaikan malam harinya, pada edisi spesial Rotasi Minggu yang digabung: dua keluarga, satu rumah, satu meja panjang. Anara dan Arga tidak menyiapkan pidato. Mereka cuma meletakkan amplop cokelat itu di tengah meja, di antara rendang dua porsi, dan mempersilakan.
Eva yang membukanya. Eva yang membacanya. Eva yang kemudian mengeluarkan suara yang membuat tetangga menoleh ke jendela. Ayu merebut kertas itu, membaca, berdiri, duduk lagi, berdiri lagi, dan akhirnya memeluk dua-duanya sekaligus sambil mengumumkan tujuh rencana sekaligus dalam satu napas. Damares membaca kertas itu paling terakhir, dengan tenang, dengan kalem, dengan koran masih terlipat di samping piringnya, lalu diam lama sekali sebelum berkata, "Bagus," dengan suara yang pecah di tengah kata, dan semua orang pura-pura tidak melihat dia menyudutkannya ke jendela untuk menghadap keluar sebentar. Dave berdiri, mengangkat kedua tangan seperti wasit, dan berteriak satu kata yang langsung jadi identitas barunya: "PAMAN!"
Malam itu ditutup dengan foto keluarga paling tidak resmi dalam sejarah: semua berdiri di belakang meja makan, dan di tengah, bukan orang yang dipegang, melainkan amplop cokelat itu, diangkat dua tangan oleh Anara dan Arga seperti piala. Sebelum tidur, lembar klausul sepuluh itu dilaminating oleh Arga sendiri, dengan mesin laminating yang dia beli diam-diam seminggu sebelumnya karena dia tahu lorong rumahnya akan terus bertambah, lalu digantung di dinding lorong di samping Kontrak Meja Dapur. "Kamu sudah meramal lorong ini bakal penuh," kata Anara. "Bukan meramal," jawab Arga, merapikan posisi bingkainya dua milimeter. "Menyiapkan."
Berita itu sampai ke plaza keesokan harinya melalui jalur resmi: buku catatan satpam. Entrinya ditulis dengan tinta terbaik dan huruf paling rapi sepanjang sejarah buku itu: "Nona Anara mual-mual di lobi. Bukan insiden. Doa kami menyertai. Generasi ketiga dalam perjalanan."
Di kedai kopi pojok, barista menciptakan menu baru hari itu juga: kopi susu decaf yang diberi nama Klausul Sepuluh, dengan kartu kecil di etalase: "Untuk yang sedang menunggu." Menu itu laris manis, karena separuh karyawan dua gedung membelinya bukan untuk diminum, melainkan untuk difoto dan dikirim ke thread Proyek Seberang dengan berbagai emoji yang tidak akan saya sebutkan di sini demi menjaga kesantunan narasi.
Di dua gedung, Senin berikutnya berjalan seperti hari raya kecil. Mikhaella datang ke ruangan Anara dengan buku log yang sudah punya bab baru, dan menyampaikan reorganisasi jadwal bosnya dengan nada seorang jenderal: rapat dipadatkan, kunjungan lapangan dialihkan, dan mulai bulan kelima, tidak ada jadwal sore tanpa pendamping. "Ini bukan permintaan, Non. Ini sudah saya tanda tangani sendiri." Anara tertawa dan tidak membantah, karena membantah Mikhaella dalam mode ini sama saja dengan membantah gravitasi. Di gedung seberang, Bara mengirim paket ke lantai delapan: satu cup boba taro untuk Mikhaella, dan satu botol Klausul Sepuluh untuk Anara, dengan kartu bertuliskan, "Dari tim calon paman tidak resmi." Anak magang memperbarui papan taruhan di kedua gedung, dan papan itu penuh dalam satu jam.
Dan malam itu, di rumah kecil itu, terjadi peristiwa kecil yang tidak disaksikan siapa pun. Buku nama-nama bayi, hadiah Kampanye Cucu yang berbulan-bulan menganggur di rak netral dapur di antara teh dan mie instan, akhirnya diturunkan. Pembatas buku berbentuk kerincingnya jatuh ke lantai, berbunyi pelan, dan dipungut oleh dua tangan sekaligus. Dua kepala menunduk di atas buku itu sampai lewat tengah malam, membaca nama demi nama, berdebat pelan, tertawa pelan, dan sesekali diam, karena di antara dua kepala itu ada satu perut yang masih rata, yang sudah lebih dulu jadi pusat segalanya.
"Sembilan bulan," bisik Anara.
"Sembilan bulan," ulang Arga. "Proyek terpanjang yang pernah kita kerjakan."
"Dan yang paling tidak bisa ditenderkan."
"Tidak," kata Arga, mengelus buku nama itu seperti mengelus dokumen paling penting di dunia. "Yang ini kita kerjakan tanpa saingan."