Klausul delapan, Saudara-saudara, adalah klausul paling tahan lama dalam sejarah kontrak apa pun di plaza itu: evaluasi mingguan, setiap Jumat, di kedai kopi pojok, selamanya. Dari zaman perang, zaman damai, zaman lamaran, zaman menikah, zaman tender, sampai zaman wisuda, jadwal itu tidak pernah bolong satu kali pun. Dan pada suatu Jumat, tanpa ada yang merencanakan, tibalah evaluasi yang keseratus.
Yang menyadari angka itu, tentu saja, Mikhaella. Dia menelepon Anara pagi-pagi dengan suara orang yang menemukan harta karun. "Non. Evaluasi malam ini yang keseratus. Saya hitung dari kontrak tisu versi dua, dikalenderkan, dikurangi yang bentrok dengan akad dan resepsi, ditambah yang diadakan lebih awal karena banjir. Genap seratus." Anara diam sebentar, lalu berkata, "Mik, kadang saya takut sama kamu." "Terima kasih, Non," jawab Mikhaella bangga.
Barista kedai pojok diberi tahu, dan beliau menyambutnya seperti menyambut hari besar nasional. Meja klausul dibersihkan tiga kali. Plakat kuningannya dipoles. Di samping plakat MEJA KLAUSUL, untuk satu malam saja, dipasang kartu kecil bertuliskan: EDISI KE-100. Dan di papan menu, muncul item baru yang ditulis dengan spidol paling rapi: KOPI SUSU SERATUS, beli satu gratis senyum.
Malamnya, Anara dan Arga duduk di meja mereka seperti seratus kali sebelumnya. Dua gelas dipesan. Dan di sinilah, Saudara-saudara, anomali itu terjadi.
"Kopi susu satu," kata Anara kepada barista. Lalu, setelah jeda kecil yang oleh sejarah akan dicatat sebagai momen perubahan, "sama teh hangat satu."
Barista berhenti menulis. Dia memandang pesanan itu, lalu memandang Anara, lalu memandang pesanan itu lagi, dengan ekspresi seorang penjaga situs sejarah yang baru melihat sesuatu yang tidak tercatat di arsip mana pun. "Teh... hangat?"
"Teh hangat."
"Untuk Anda?"
"Untuk saya."
"Kopi susunya untuk Bapak?"
"Kopi susunya untuk saya juga," kata Arga dari seberang meja, pelan, sambil memandang istrinya dengan tatapan yang oleh karyawan dua gedung dikenal sebagai tatapan audit. "Dia yang pesan untuk saya. Dia sendiri teh hangat."
Kedai pojok, yang biasanya riuh pelan, terasa lebih sunyi sepersekian detik. Barista menuliskan pesanan itu dengan gaya menuliskan kejadian anomali cuaca, lalu mundur ke balik bar sambil menatap dua pelanggannya yang paling bersejarah. Di kepalanya, alarm kecil berbunyi. Dia sudah menyeduh untuk dua orang ini selama bertahun-tahun. Anara tidak pernah, tidak pernah, memesan teh hangat.
Di meja klausul, evaluasi keseratus dibuka dengan ritual kecil yang tidak pernah ada di seratus pertemuan sebelumnya: barista mengantarkan pesanan dengan nampan, padahal tidak pernah pakai nampan, dan di sisi gelas ada kartu kecil bertuliskan selamat atas edisi ke-100. "Dari kedai," katanya resmi. "Untuk dua pelanggan yang membuat meja biasa jadi situs sejarah." Anara tertawa, Arga mengangguk dalam, dan untuk merayakan angka bulat itu mereka melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan: membaca ulang klausul-klausul lama, keras-keras, bergantian, seperti dua orang membaca sumpah yang sudah jadi keseharian. Klausul satu sampai delapan. Tidak ada kata selesai. Evaluasi mingguan selamanya. Di tengah pembacaan, Anara berhenti sebentar di klausul enam kontrak tisu, tersenyum kepada kalimat yang dulu ditulis dengan tangan gemetar di atas tisu, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih pelan dari biasanya.
Ketika mereka hendak membayar, kasir menolak uang itu dengan kedua tangan. "Edisi ke-100 dibayar kedai," kata barista dari balik bar, nada suaranya tidak bisa ditawar. "Anggap investasi. Meja ini nilainya naik karena kalian berdua." Anara protes setengah hati, kalah, dan akhirnya menitipkan pesan di buku tamu kedai: "Ditandatangani: dua pelanggan yang tidak akan pindah." Di bawahnya, Arga menambahkan dengan tulisan rapi seperti kontrak: "Selamanya."
Nilai minggu ini bagus. Poin diskusi ringan. Tapi Arga mengamati, karena mengamati adalah bakat alaminya, dan malam itu datanya menumpuk: istrinya tiga kali menolak kopi susu dalam seminggu. Dua kali ketiduran di sofa sebelum jam sembilan. Sekali, di meja makan, memandangi rendang kesukaannya dengan wajah konflik batin yang biasanya cuma muncul saat rapat anggaran. Pagi itu bahkan ada kejadian baru: Anara turun ke dapur, memandangi kopi susu di rak pintu kulkas, menutup kulkasnya lagi, dan memilih air putih, sebuah pemandangan yang membuat Arga berdiri diam di ambang pintu cukup lama sampai Megi Junior di jendela terlihat ikut bertanya-tanya. Dan sekarang, teh hangat.
"Nyonya," kata Arga akhirnya, menurunkan gelasnya.
"Ya, Pak."
"Anda tahu bahwa dalam tujuh tahun saya mengenal Anda, termasuk tiga tahun kita bermusuhan, Anda tidak pernah sekali pun memesan teh hangat."
Anara menyedot sedotannya pelan. Di balik gelas, dia tersenyum kecil, senyum yang oleh Kamus Jendela tidak punya isyaratnya, karena senyum itu baru. "Mungkin lagi pengen teh aja."
"Mungkin," kata Arga. "Atau mungkin ada sesuatu yang belum masuk agenda evaluasi."
Anara tidak menjawab langsung. Dia memandang plakat kuningan di meja itu, MEJA KLAUSUL, lalu memandang suaminya, dan untuk sekali ini dialah yang memilih kalimat dengan hati-hati seperti orang menandatangani kontrak. "Pak. Ada yang mau saya sampaikan. Tapi tidak di sini. Dan tidak malam ini." Dia mengulurkan tangan ke seberang meja, menggenggam tangan suaminya. "Besok. Kalau saya sudah yakin."
Arga memandang tangan itu, lalu wajah istrinya, dan lelaki paling tenang di kota itu melakukan sesuatu yang tidak pernah dia lakukan di ruang publik: dia berdiri, pindah ke kursi di sebelah istrinya, dan duduk di sana sampai kedai hampir tutup, tanpa bertanya satu kali pun, karena kadang tidak bertanya adalah bentuk paling tinggi dari percaya.
Barista, dari balik bar, mematikan satu lampu lebih awal supaya dua pelanggannya punya privasi. Dia tidak tahu kabar apa yang sedang berjalan menuju plaza. Tapi dia punya firasat. Dan firasat penjaga meja klausul, Saudara-saudara, tidak pernah meleset.
Perjalanan pulang malam itu berjalan lebih pelan dari biasanya. Mereka berjalan kaki menyusuri plaza, melewati garis tengah di antara dua gedung, tempat semuanya dulu dimulai dengan perang dan sekarang dilalui dengan genggaman. Anara berhenti sebentar di titik itu, memandang jendela-jendela lantai sepuluh yang gelap, dan bergumam, "Gila ya. Dari titik ini, semuanya berubah." Arga berdiri di sampingnya tanpa mengisi keheningan. Kalau dia tahu apa yang istrinya simpan, dia mungkin akan setuju lebih cepat. Malam itu dia cuma menjawab, "Titik ini memang selalu begitu. Menunggu hal besar berikutnya."
Malam itu, di rumah, Anara berdiri sebentar di lorong, di depan pigura-pigura pusaka: kontrak tisu versi satu dan dua, Kontrak Meja Dapur, halaman sampul proposal pemenang, selempang wisuda. Dia memandanginya lama, dengan satu tangan tanpa sadar memegang perutnya yang masih rata, dan tersenyum menyimpan sesuatu yang dia sendiri belum berani ucapkan keras-keras.
"Besok," bisiknya kepada lorong yang sunyi. "Kalau sudah yakin."
Dan lorong itu, yang sudah menyimpan begitu banyak sejarah, menyimpan satu rahasia lagi untuk semalam. Besok, semuanya berubah. Lagi.