Kabar besar berikutnya datang bukan dari dua bos, Saudara-saudara, melainkan dari kota seberang. Dave menelepon pada suatu malam Minggu, dan setelah basa-basi yang terlalu panjang untuk ukuran dia, akhirnya keluar juga kalimatnya: "Saya pindah pulang. Permanen. Bulan depan."
Di ujung telepon, Arga diam dua detik. Dua detik yang oleh Anara, yang duduk di sebelahnya, diterjemahkan akurat sebagai: kakaknya baru saja membuatnya sangat bahagia dan dia sedang berusaha menyembunyikannya. "Alasannya?" tanya Arga, suaranya datar terkalibrasi.
"Pekerjaan bisa dipindah. Cabang di sana sudah jalan sendiri. Dan..." Dave berhenti sebentar, dan ketika lanjut, suaranya lebih pelan, "dan saya capek jadi penonton jarak jauh. Setiap kali pulang ke sana, rumahnya ramai. Setiap kali balik ke sini, apartemennya sepi. Saya milih yang ramai. Telat menyadarinya, tapi mending telat daripada tidak."
Maka sebulan kemudian, plaza kedatangan penghuni tetap baru. Dave pindah ke sebuah apartemen yang lokasinya, setelah disurvei dengan audit gabungan oleh Arga dan Anara, jaraknya tujuh menit dari plaza. "Tidak lima menit," kata Anara menilai. "Tujuh menit itu jarak yang sehat. Cukup dekat untuk makan malam, cukup jauh untuk tidak dianggap mengintai." Dave menyetujui analisis itu dengan khidmat, karena dalam keluarga ini, bahkan memilih apartemen pun pakai presentasi.
Proses kepindahan Dave berjalan dengan bantuan penuh dua gedung, yang secara sukarela mengirim relawan, karena bagi karyawan, Kakak Bos adalah tokoh legendaris: lelaki yang pernah disebut perempuan sepuluh tahun lamanya oleh adiknya sendiri demi menolak perjodohan, sebuah pengorbanan yang sampai sekarang masih dibicarakan dengan rasa hormat. Dave sendiri sudah berdamai dengan legenda itu. "Anggap saja kontribusi saya untuk sejarah," katanya lapang, sambil mengangkat kardus.
Tradisi pun bertambah satu: boys night yang dulu langka dan berharga, sekarang jadi mingguan. Setiap Kamis, dua bersaudara Megantara duduk di balkon apartemen Dave, atau di beranda rumah kecil, membicarakan hal-hal yang tidak pernah mereka bicarakan selama sepuluh tahun yang hilang. Kadang kerjaan. Kadang masa kecil. Kadang tidak membicarakan apa-apa, cuma duduk berdua, dan menurut Dave, itu justru bagian terbaiknya. "Dulu kami kehilangan sepuluh tahun," katanya sekali kepada Anara. "Sekarang kami menambalnya pelan-pelan. Kamis demi Kamis."
Balkon apartemen itu sendiri punya cerita. Seminggu setelah Dave pindah, dua kursi balkon baru tiba di depan pintunya, dikirim tanpa nota, tanpa kartu ucapan, cuma dengan satu kardus kecil berisi bantalan duduk. Dave tidak perlu jadi detektif untuk tahu pengirimnya. Dia memasang dua kursi itu menghadap lampu kota, memotretnya, dan mengirim fotonya ke adiknya dengan satu kalimat: "Kursinya pas." Balasan yang datang tiga jam kemudian, setelah pasti direnungkan dulu, cuma dua kata: "Ukuran standar." Dave tertawa sendirian di balkon barunya. Dua kata itu, dalam bahasa Arga, artinya: saya mengukur balkonmu diam-diam supaya kursinya pas, karena saya berniat duduk di sana setiap Kamis untuk waktu yang lama.
Housewarming resminya digelar Sabtu berikutnya, dan berjalan persis seperti yang ditakutkan Dave: Tim Inspeksi datang. Eva dan Ayu tiba dengan langkah serempak, menyapa tuan rumah tiga detik, lalu menuju kulkas seperti ditarik magnet. Isinya membuat dua mamah itu terdiam dalam posisi berdiri: air putih sebotol, mie instan tiga bungkus, dan satu telur yang kesepian. "Dave," kata Ayu pelan, "ini kulkas atau pos ronda?" Malam itu juga dibuat jadwal pengiriman rantang mingguan ke apartemen tujuh menit dari plaza, disusun dua mamah, disetujui tanpa kehadiran tergugat, dan berjalan sampai sekarang.
Anara sendiri mendapat bonus dari kepindahan sang kakak ipar: seseorang yang bisa diajak bersekutu melawan ketenangan Arga. Kalau suaminya mulai terlalu rapi mengatur sesuatu, dia menelepon Dave, dan Dave akan datang dengan komentar-komentar kakak kandung yang tidak bisa dibantah, seperti "Arga, kamu dari kecil gitu. Waktu tujuh tahun kamu marah karena Lego-ku warnanya kamu campur." Bukti-bukti masa kecil ini tidak ternilai harganya, dan Anara mengumpulkannya seperti kolektor.
Ayu, tentu saja, berada di puncak kebahagiaan yang belum pernah dicapai manusia biasa. Dua anaknya satu kota. Rotasi Minggu jadi makin ramai, karena sekarang ada Dave yang selalu datang lebih awal dan makan lebih banyak. Eva dan Ayu sudah berkembang dari dua mamah yang berkoordinasi menjadi duo yang berkolaborasi: mereka sekarang punya grup chat berdua saja, bernama Tim Inspeksi, yang isinya tidak ada yang berani membayangkan.
Berita kepindahan Dave juga sampai ke radar paling sensitif di kota: jaringan Tante Sari. Dalam dua puluh empat jam, informasi itu sudah beredar dengan tiga versi. Versi pertama benar: kakak bos seberang pindah pulang. Versi kedua mulai menyimpang: kakak bos seberang pindah pulang karena dilamar. Versi ketiga sudah jadi cerita rakyat: kakak bos seberang pindah pulang karena dilamar oleh putri pemilik gedung ketiga yang misterius. Dave menanggapi semua versi dengan kebijaksanaan seorang kakak sulung: "Biarkan. Jaringan itu perlu bahan bakar. Anggap saja amal." Tante Sari sendiri, ketika ditanya langsung, hanya tersenyum penuh rahasia dan berkata, "Kita tunggu saja. Plaza ini tidak pernah kehabisan acara."
Dan pada suatu malam Kamis, di balkon apartemen baru Dave, dua bersaudara itu duduk menghadap lampu kota, dan percakapan berjalan ke tempat yang jarang mereka datangi.
"Waktu kamu bilang adikmu perempuan," kata Dave pelan, "sepuluh tahun itu, saya sebenarnya tahu kamu bohong."
Arga menoleh. "Tahu?"
"Tahu. Tapi saya biarkan. Karena saya pikir, kalau itu caranya kamu bertahan, biarlah." Dave menyesap kopinya. "Saya cuma tidak menyangka kebohongan itu berakhir sebagus ini. Kamu menikahi perempuan yang kamu temui karena berbohong soal punya adik perempuan. Sejarah tidak bisa menulis yang lebih rapi dari itu."
Arga diam lama, memandang ke arah dua gedung yang di kejauhan berdiri berdampingan, gelap dan tenang. Lalu dia berkata, hampir kepada dirinya sendiri, "Saya tidak berbohong lagi setelah itu. Bukan karena tobat. Karena setelah dia, tidak ada lagi yang perlu disembunyikan."
Dave tidak menjawab. Dia cuma mengangkat cangkirnya sedikit, dan Arga mengangkat gelas air putihnya, dan dua cangkir bertemu pelan di udara balkon, tanpa bunyi, seperti dua bersaudara yang sudah selesai dengan masa lalunya.
Sebelum pulang, ada satu kebiasaan baru yang lahir malam itu tanpa disepakati: Arga berdiri di pintu balkon, menoleh ke dua kursi menghadap lampu kota, dan berkata, "Kamis depan di rumah saya. Anara masak." Dave mengangkat alis. "Anara masak?" "Rantang Mamah dia panaskan ulang. Tapi niatnya masak." Dua bersaudara itu tertawa di depan pintu, dan tawa mereka terdengar sampai ke lift, seperti tawa yang sepuluh tahun tertahan akhirnya menemukan jalannya keluar.
Malam itu, di rumah kecil lima menit dari plaza, Anara menunggu di ruang tengah sambil membaca, dan ketika Arga pulang, dia menemukan istrinya tertidur di sofa dengan buku di dada. Lebih cepat lelah akhir-akhir ini, pikir Arga, sambil memindahkan buku itu dan menyelimuti. Dia tidak tahu bahwa kelelahan itu adalah sebuah kabar yang sedang berjalan menuju mereka, pelan-pelan, seperti semua kabar besar: tanpa suara, tapi pasti.