Ada satu perjalanan sunyi yang berjalan beriringan dengan semua keributan dua gedung, Saudara-saudara, dan perjalanan itu bernama kuliah S2. Dua tahun. Selasa dan Kamis. Tas yang berat, kopi susu yang menemani begadang, dan satu lelaki yang menggeser seluruh jadwal rapatnya supaya bisa menjemput di perpustakaan tanpa pernah mengaku bahwa dia sengaja.
Dua tahun itu punya ritusnya sendiri. Setiap Selasa pagi, di dalam tas Anara selalu ada satu botol kopi susu yang tidak pernah dibahas siapa yang memasukkannya. Setiap Kamis malam, di depan perpustakaan, selalu ada satu mobil yang parkir di titik yang sama, dengan satu lelaki di dalamnya membaca laporan di laptop sambil menunggu, dan kalau ada yang bertanya, jawabannya selalu sama: "Kebetulan selesai rapat." Rapatnya, kata sekretarisnya, selesai jam lima. Penjemputan jam sembilan malam. Tidak ada yang berani menghitung selisihnya di depan beliau.
Ada malam-malam yang dicatat buku log Mikhaella sebagai darurat keluarga: printer rumah rusak jam dua pagi seminggu sebelum sidang, dan Arga menyetir sendiri keliling kota mencari percetakan dua puluh empat jam, pulang dengan tiga jilid naskah yang masih hangat dan wajah orang yang baru memenangkan tender. Ada hari sidang, ketika lelaki itu duduk di kursi paling belakang ruang sidang dengan dasi paling rapi di antara semua hadirin, dan ketika penguji bertanya siapa beliau, Anara menjawab tanpa berkedip, "Suami saya, Bu. Sekaligus tim logistik." Satu ruangan tertawa, penguji tersenyum, dan sidang itu berjalan sebagaimana sidang seharusnya berjalan kalau yang diuji memang tahu isi kepalanya sendiri: lancar, jernih, dan ditutup jabat tangan.
Perjalanan itu berakhir di sebuah aula besar, pada hari Sabtu yang cerahnya berlebihan, dengan nama lengkap Anara dipanggil ke panggung dan selempang disampirkan ke bahunya.
Rombongan keluarga berangkat sejak subuh, tentu saja. Eva dan Ayu, untuk pertama kalinya dalam sejarah, satu mobil, dan dalam dua puluh menit perjalanan mereka berdebat soal hal-hal yang tidak bisa diselesaikan ilmu pemerintahan: bunga untuk wisudawati harusnya mawar atau anggrek, amplop ucapan harusnya biru atau krem, dan siapa yang duduk di sebelah siapa di barisan keluarga. Damares duduk di depan dengan koran, sesekali berkomentar "dua-duanya bagus" yang justru memperpanjang debat. Dave menyetir sambil tertawa sendiri, karena dia tahu sesuatu yang tidak diketahui dua mamah itu: wisudawatinya sudah menitipkan pesan lewat grup keluarga, "yang penting datang, yang penting foto, yang penting jangan bawa spanduk."
Spanduk tetap dibawa. Disembunyikan di bagasi. Ketahuan, dimarahi, dibawa pulang, dipasang kemudian di rumah. Tapi itu urusan nanti.
Sementara itu, di pelataran aula, di antara deretan papan bunga wisudawan, berdiri satu papan bunga yang ukurannya paling besar dan tulisannya paling mencuri perhatian: SELAMAT WISUDA NONA ANARA. DARI WARGA DUA GEDUNG YANG IKUT BANGGA DAN IKUT NANGIS. Di bawahnya, barisan kecil nama-nama divisi dari dua perusahaan, disusun oleh anak magang dengan ketelitian arsiparis. Beberapa wisudawan lain sampai berfoto di depannya, karena papan bunga itu satu-satunya yang mengatasnamakan dua gedung sekaligus.
Di dalam aula, Arga Satria Megantara duduk di barisan keluarga dengan posisi yang membuat beberapa keluarga wisudawan lain bertanya-tanya: lelaki rapi itu, sejak awal acara, memegang kamera dengan kesiapan seorang sniper. Ya, Saudara-saudara. Lelaki yang dulu menolak difoto seumur hidupnya, yang wajahnya tidak pernah muncul di publikasi mana pun, hari itu menjadi fotografer paling rajin di gedung. Dia memotret panggung. Dia memotret kursi kosong yang nanti diduduki istrinya. Dia memotret rektor yang bahkan belum naik podium. Mikhaella, yang duduk di sebelahnya sebagai perwakilan kantor, menghitung dengan prihatin: dua ratus tiga belas jepretan sebelum nama Anara dipanggil.
"Pak," bisik Mikhaella, "baterai cadangan bawa?"
"Dua," jawab Arga tanpa menoleh. "Dan powerbank."
Di dua gedung di pusat kota, karyawan tidak mau ketinggalan. Livestream wisuda diputar di layar besar masing-masing gedung, atas izin resmi dua bos, dengan konsumsi yang disediakan dan anak magang sebagai pembawa acara dadakan. Ketika nama Anara dipanggil, dua gedung bersorak di depan layar seperti menonton final, dan satpam senior berdiri paling depan dengan buku catatannya terbuka, siap mencatat sejarah.
Di aula, momen itu berjalan pelan seperti film. Anara naik ke panggung, selempang disampirkan, jabat tangan, foto resmi, senyum. Di barisan keluarga, Eva menangis dengan gaya menangis orang kuat: tanpa suara, tapi tisu habis sebungkus. Ayu memegang tangan Eva dan ikut menangis dengan gaya menangis orang ekspresif: bersuara, dan tidak peduli. Damares menurunkan koran yang sedari tadi tidak dibaca, mengusap sudut matanya dengan punggung tangan, lalu berkata kepada tidak ada siapa-siapa, "Anak kamar kos itu, Mah. Yang dulu kita antar bawa kardus."
Dan Arga menekan tombol kameranya empat puluh kali dalam satu menit, karena ada momen yang tidak boleh hilang: istrinya, di atas panggung, dengan selempang kedua, memandang ke arah barisan keluarga dan mengangkat tangan kecil ke arah satu titik. Ke arah dia. Isyarat tangan dari Kamus Jendela, dipakai di luar jendela: telapak dibuka menghadap atas, lalu ditutup. Nanti di rumah. Tapi semua yang melihat tahu artinya yang sebenarnya: ini untukmu juga.
Selesai acara, di pelataran aula, sesi foto keluarga berjalan kacau sesuai tradisi. Spanduk dari bagasi akhirnya dikeluarkan juga, dibentangkan bangga oleh dua mamah, bertuliskan ucapan selamat dengan huruf terlalu besar, difoto, diprotes wisudawatinya, tetap difoto. Anara berdiri di tengah, toga kebesaran, rambut curly cokelatnya berantakan kena angin, dikelilingi orang-orang yang dulu mengantarnya kuliah dengan kardus dan sekarang mengelilinginya dengan bunga.
Lalu dia berjalan ke Arga, yang berdiri sedikit di luar kerumunan dengan kamera masih menggantung di leher.
"Pak," katanya.
"Nyonya."
"Selempang kedua. Buat yang selalu jemput di perpustakaan dan pura-pura kebetulan lewat padahal kantornya beda arah."
Arga diam sebentar. Lalu, di depan semua orang, di depan dua mamah yang pura-pura tidak menyimak padahal menyimak, dia berkata, "Jadwal saya memang tidak pernah searah dengan Anda, Nyonya. Sejak dulu. Tapi lihat hasilnya." Dia menunjuk panggung dengan dagunya. "Selalu sampai juga."
DEG. Di tengah pelataran aula, di bawah matahari Sabtu yang berlebihan, wisudawati baru itu tertawa sambil menghapus air mata yang akhirnya jatuh juga.
Malamnya, buku catatan satpam bertambah satu entri, ditulis rapi dengan tinta terbaiknya: "Nona Anara wisuda. Bos seberang jadi fotografer. Dua gedung menonton. Tidak ada insiden. Hanya kebanggaan."
Dan di rumah kecil lima menit dari plaza, selempang itu tidak disimpan di lemari. Ia digantung di lorong, di samping tiga pigura, tanpa bingkai, karena kata Anara, "yang ini bukan pusaka. Yang ini pengingat bahwa kita bisa dua-duanya: kerja dan sekolah, menang dan belajar, keras kepala dan tetap sampai."
Lorong itu makin penuh. Ramalan Damares tentang perpanjangan makin dekat. Dan seperti biasa, pengkhianat paling damai se-Indonesia itu benar lagi.