Setahun setelah kekalahan paling menyenangkan dalam sejarah dua gedung, janji di mobil itu akhirnya menemukan panggungnya. Pemkot membuka tender kawasan timur tahap dua, dan kali ini, dari rumah kecil lima menit dari plaza, keluar keputusan yang membuat dua kantor bergemuruh: satu proposal. Satu tim. Satu nama di halaman sampul.
Megantara dan Megantara.
"Pasar akan bingung," kata Anara sambil menandatangani halaman persetujuan. "Dua perusahaan yang tiga tahun perang, tiba-tiba gabung."
"Biar bingung," kata Arga. "Bingung adalah keunggulan kompetitif. Lawan tidak bisa memprediksi yang tidak mereka mengerti."
Penggabungan dua tim adalah tontonan tersendiri. Tim Anara terbiasa rapat sambil berdiri, ide dilempar seperti bola panas, dan papan tulis penuh coretan yang cuma dimengerti penulisnya. Tim Arga terbiasa rapat dengan agenda tiga rangkap, notulen rapi, dan jeda bicara yang terukur. Pertemuan pertama dua kubu itu berlangsung seperti pertemuan dua negara dengan bahasa berbeda: yang satu bicara spontan, yang satu bicara terjadwal. Anak magang, yang sekarang sudah jadi karyawan tetap dan ketua panitia taruhan, ditunjuk jadi penghubung resmi karena dialah satu-satunya orang yang fasih dua dialek. Thread Proyek Seberang yang sempat jadi arsip sejarah dibuka lagi, kali ini bukan untuk konspirasi hadiah, melainkan untuk koordinasi kerja. Nama thread-nya tidak diganti. Tidak ada yang tega.
Kompromi paling bersejarah dari penggabungan itu lahir di rapat kedua, ketika papan tulis penuh coretan tim Anara berhadapan dengan agenda tiga rangkap tim Arga dan suasana mulai memanas. Anak magang, dengan keberanian seorang penghubung resmi, mengangkat tangan dan mengusulkan jalan tengah yang kemudian ditulis di halaman pertama buku kerja gabungan: agenda tetap ada, tapi boleh dicoret. Rapat tetap terjadwal, tapi lima menit pertama wajib chaos. Dua kubu menandatangani kesepakatan itu dengan khidmat, dan sejak hari itu, semua rapat gabungan dibuka dengan lima menit lempar ide bebas yang oleh tim Arga awalnya ditakuti dan dua minggu kemudian justru paling mereka tunggu-tunggu.
Malam sebelum presentasi, dapur rumah kecil itu menjadi markas terakhir. Dua laptop terbuka berdampingan di meja, dua cangkir, satu panci mie instan di kompor. Mereka saling mengecek slide dengan aturan darurat yang disepakati jam sebelas malam: kritik boleh, tapi setelah jam sembilan kritik harus disertai pujian. "Slide tujuh terlalu padat," kata Arga, "tapi grafiknya indah." "Slide empat Bapak kaku," balas Anara, "tapi datanya bikin merinding." Menjelang tengah malam, keduanya berdiri di depan pigura di lorong, memandangi kontrak tisu dan halaman kosong di sebelahnya yang sengaja disiapkan. "Besok," kata Anara pelan, "kita menang berdua atau belajar berdua." Arga meraih tangan istrinya. "Dua-duanya tidak apa-apa. Asal berdua."
Kontrak Meja Dapur pun diamendemen. Di bawah klausul enam yang legendaris itu, ditambahkan satu baris dengan dua tanda tangan: untuk tender ini, tidak ada lagi saingan di luar; sekutu di mana-mana. Pisang goreng tetap tidak boleh habis satu pihak. Beberapa hal memang tidak boleh berubah.
Tiga bulan persiapan berjalan seperti orkestra yang awalnya fals lalu pelan-pelan kompak. Presentasi dibangun dua arah: Anara menyusun narasi, Arga menyusun angka, dan keduanya berdebat soal hampir semua hal mulai dari urutan slide sampai warna grafik. Debat-debat itu, sesuai kontrak, dilarang dibawa pulang ke rumah. Maka plaza sering menyaksikan pemandangan unik: dua bos berdebat sengit di ruang rapat sampai jam enam, lalu jam setengah tujuh terlihat jalan bareng ke arah rumah sambil membahas apakah Megi Junior perlu teman.
Hari presentasi tiba. Di ruang dewan, nama-nama besar berkumpul, termasuk konsorsium luar kota yang tahun lalu menang dan kembali dengan percaya diri tinggi. Anara dan Arga maju berdua, satu podium, dan Saudara-saudara, menurut saksi mata, presentasi itu berjalan seperti pertunjukan yang sudah ditakdirkan: Anara bicara tentang kawasan yang hidup, tentang jalan yang menghubungkan, tentang dua gedung yang dulu saling menembakkan perang sekarang saling mengisi; lalu Arga mengambil alih dengan angka-angka yang turun seperti hukuman, presisi, tanpa celah, dan menutup dengan satu kalimat yang kemudian dikutip di mana-mana: "Kami berdua pernah saling mengalahkan. Sekarang kami datang untuk tidak terkalahkan."
Di barisan penonton, Pak Handoko duduk sebagai tamu undangan, dan sejak kalimat itu keluar, beliau mengangguk-angguk sambil berkata pelan kepada orang di sebelahnya, siapa pun itu: "Gula dan kopi. Sudah saya bilang dari dulu."
Dua minggu menunggu adalah dua minggu paling panjang dalam sejarah rumah kecil itu. Evaluasi mingguan di kedai pojok berubah fungsi jadi sesi menenangkan diri, dan barista sampai menciptakan varian baru bernama kopi susu sabar, yang penjualannya meledak di kalangan karyawan dua gedung yang sama-sama menunggu.
Malam sebelum pengumuman, tidak ada yang pura-pura tenang lagi. Jam sebelas malam, dua manusia paling kompetitif di kota itu duduk di lantai dapur bersandar ke kabinet, berbagi satu mangkuk kerupuk, dan memainkan satu-satunya permainan yang bisa menenangkan mereka: menebak-nebak dengan aturan sendiri. "Kalau menang, besok kita rayakan di warung Bu Surti," kata Anara. "Kalau kalah?" tanya Arga. "Tetap di Bu Surti. Bedanya cuma di alasan." Arga mengangguk mengambil kerupuk. "Kesepakatan yang adil. Menang kalah, rendang tetap menang."
Lalu pengumuman itu datang, hari Selasa, pukul sebelas siang lewat tujuh belas menit. Megantara dan Megantara dinyatakan menang.
Dua gedung meledak bersamaan. Benar-benar bersamaan, sehingga dari plaza terdengar seperti satu gedung raksasa yang bersorak. Anak magang memeluk rekan dari gedung seberang seperti kemenangan Piala Dunia. Mikhaella memegang buku lognya erat-erat dan mencatat dengan tangan gemetar, dan Bara, yang datang kebetulan, kali ini benar-benar kebetulan, ikut merayakan dari lantai delapan dengan restu resmi.
Malamnya, dua gedung menyala lagi. Tapi kali ini bukan kejutan dari karyawan untuk bos. Kali ini dua bos sendiri yang memesan, lewat surat resmi, dengan dua tanda tangan: jendela-jendela menyala membentuk dua kata melintang di antara dua gedung, SATU TIM, dan di bawahnya, kecil tapi terang, dua huruf yang membuat semua orang tersenyum: DEG.
"Kita menang, Pak," kata Anara malam itu di ruang tengah, masih dengan blazer kerjanya, masih tidak percaya.
"Kita menang berdua," Arga mengoreksi, seperti biasa. "Ada bedanya."
"Bedanya apa?"
"Menang sendiri itu prestasi. Menang berdua itu rumah."
Dan di lorong rumah kecil itu, pigura pusaka resmi bertambah satu: halaman sampul proposal pemenang, dilaminating, dibingkai kayu sederhana, digantung di samping kontrak tisu dan Kontrak Meja Dapur. Di bawahnya, plakat kecil tulisan tangan Anara: "Jangan pernah merasa menang sendirian. Terutama kalau memang tidak menang sendirian."
Damares, pada kunjungan berikutnya, berdiri di lorong itu cukup lama, membaca tiga pigura dari kiri ke kanan, lalu berkomentar dengan gaya kalemnya yang abadi: "Lorong ini sebentar lagi perlu perpanjangan."
Tidak ada yang menyangka betapa tepat ramalan itu. Tapi itu cerita untuk nanti.