Setelah bos mereka menikah, dua gedung sempat mengalami krisis gosip, Saudara-saudara. Tidak ada lagi perang lintas jalan yang menegangkan, tidak ada lagi drama kontrak. Untunglah, alam semesta tidak membiarkan plaza kekurangan tontonan terlalu lama. Datanglah dia: Bara.
Bara, ketua tim proyek dari gedung seberang, adalah anomali di perusahaan Arga. Di gedung yang penghuninya berjalan dengan ketepatan militer, dia berjalan sambil senyum. Di gedung yang rapatnya dimulai tepat waktu dengan wajah tegang, dia membuka rapat dengan pantun. Prestasinya di kantor bagus, tapi prestasi yang membuat namanya masuk buku log Mikhaella adalah hal lain: tujuh belas kali kebetulan membawa boba taro ke meja manajer operasional gedung sebelah, selalu satu cup, selalu taro, selalu tanpa diminta.
"Ini sudah kebetulan ketujuh belas," kata Anara di meja makan, melaporkan perkembangan seperti komentator bola.
"Saya tidak menghitung," jawab Mikhaella, kaku seperti biasa.
"Tujuh belas kali kebetulan itu namanya bukan kebetulan, Mik. Itu namanya rute."
"Itu namanya dia sering rapat lintas gedung."
"Rapatnya di lantai tiga. Meja kamu di lantai delapan."
Mikhaella memilih menyeruput boba taronya dengan konsentrasi seorang peneliti, dan Anara tahu kapan harus berhenti, yaitu: tidak pernah. Tapi kali ini dia berhenti, karena Arga di sebelahnya angkat bicara dengan nada sidangnya. "Dia mengajukan perpindahan jadwal rapat tiga kali bulan ini," kata Arga pelan. "Semua jadwal yang dia pilih, jamnya sama dengan jam kosong Mikhaella." Anara menoleh ke suaminya dengan mata berbinar. "Pak. Anda menghitung juga." Arga menyesap air putihnya tanpa ekspresi. "Saya tidak menghitung. Saya mengaudit."
Pasar taruhan, yang dikelola anak magang dengan integritas tinggi, membuka pasaran baru: kapan Mikhaella menghitung balik. Bank boba taro dikawal ketat. Kamus Jendela bahkan mendapat isyarat baru, yaitu dua tangan membentuk cup di dekat dada, yang artinya: ada perkembangan boba.
Lalu pada suatu Kamis sore, tontonan itu mencapai puncaknya. Bara datang ke lantai delapan, seperti biasa membawa satu cup boba taro, tapi kali ini tangannya yang satunya membawa sesuatu yang lain: sebuah map cokelat. Map resmi. Map yang biasa dipakai untuk dokumen tender.
Mikhaella menerima map itu dengan wajah profesional. "Dokumen proyek?"
"Bukan," kata Bara. "Dokumen pribadi. Mohon dibaca sampai lampiran."
Mikhaella membukanya. Halaman pertama berkop rapi, format formal, lengkap dengan nomor dokumen dan kolom tanda tangan, dan judulnya dicetak tebal di bagian atas: PERMOHONAN IZIN MENGENAL LEBIH JAUH DI LUAR JAM KERJA. Isinya satu halaman penuh, disusun seperti surat resmi: dasar pertimbangan, maksud dan tujuan, ruang lingkup, dan jangka waktu yang tertulis: tidak ditentukan, mengikuti hasil evaluasi. Lampirannya satu lembar: struk pembelian boba taro, tujuh belas lembar, dilaminating, disusun kronologis, masing-masing diberi label tanggal. Di bawah tumpukan struk itu ada catatan kecil tulisan tangan: "Bukti konsistensi."
Separuh lantai delapan pura-pura kerja. Separuhnya lagi tidak pura-pura sama sekali, langsung menonton.
Mikhaella membaca dokumen itu sampai habis, dua kali, dengan wajah yang berusaha keras tetap datar. Kacamata bundarnya turun sedikit, didorong naik lagi. Buku log di tangannya diremas sampai halamannya bergelombang. Dan kemudian, di depan separuh lantai yang menahan napas, dia berkata dengan suara yang bergetar tipis tapi jelas:
"Ini kebetulan kedelapan belas. Tapi yang ini bukan kebetulan. Yang ini resmi."
"Betul," kata Bara. "Yang ini resmi."
"Kalau resmi, berarti bisa dievaluasi."
"Bisa. Saya malah berharap dievaluasi."
Mikhaella mengambil pulpen dari saku kemejanya, membubuhkan tanda tangan di kolom yang tersedia, lalu menambahkan satu baris catatan kaki dengan tulisan rapi: "Diterima dengan syarat: evaluasi mingguan, tempat menyusul." Bara membaca catatan kaki itu, tersenyum lebar, membubuhkan tanda tangannya sendiri, dan map cokelat itu resmi menjadi kontrak keempat dalam sejarah plaza, walau hanya dua orang yang tahu artinya saat itu.
Tempat evaluasi yang dimaksud, tentu saja, sudah ditentukan alam semesta: kedai kopi pojok. Tapi bukan meja klausul. Meja itu cagar budaya, tidak bisa sembarangan dipakai. Mereka duduk di meja sebelahnya, dan barista, dengan kebijaksanaan seorang penjaga situs sejarah, memasang tanda kecil di meja itu malam harinya: MEJA EVALUASI. Tidak ada yang bertanya bagaimana dia tahu. Barista itu selalu tahu.
Pertemuan perdana itu sendiri berjalan dengan kekakuan yang mengharukan. Mikhaella datang tujuh menit lebih awal, membawa buku log dan pulpen cadangan. Bara datang lima menit lebih awal, membawa dua cup boba taro, lalu sadar kelebihannya, dan satu cup sempat disembunyikan di pangkuan dengan gaya bersalah sebelum akhirnya diakui. "Untuk Anda," katanya, menyerahkan salah satunya. "Saya tidak tahu evaluasi boleh sambil boba atau tidak." "Boleh," kata Mikhaella resmi. "Boba masuk klausul tidak tertulis."
Evaluasi edisi perdana itu punya agenda, karena tentu saja Mikhaella menyiapkan agenda. Pertanyaan pertama: apa alasan di balik tujuh belas kali boba taro. Bara menjawab tanpa jeda, seperti orang yang sudah menyiapkan jawaban ini sejak kebetulan pertama: "Karena di rapat lintas gedung pertama saya, Anda memesan itu, dan bilang ke teman Anda bahwa hari yang berat selalu lebih ringan kalau ada taro. Saya menyimpan informasi itu. Seperti menyimpan lampiran." Pertanyaan kedua tidak jadi diajukan, karena Mikhaella membutuhkan sebelas detik penuh untuk memulihkan wajah datarnya, sebuah rekor yang dia catat sendiri dengan kesal.
Dua jam berlalu seperti dua puluh menit. Di penghujung pertemuan, setelah agenda selesai dan pulpen disarungkan, Mikhaella mengucapkan hal yang tidak tercantum di agenda mana pun: "Tujuh belas itu benar. Saya menghitung dari kebetulan pertama. Saya cuma tidak mau mengakuinya di meja makan bos saya, karena dia akan menang taruhan." Bara tertawa lepas, tawa pertama yang tanpa beban, lalu menjawab, "Kalau begitu mulai hari ini hitungannya dilanjutkan berdua. Biar tidak ada yang curang."
Di jendela lantai sepuluh, dua bos menonton dari gedung masing-masing. Anara mengangkat tangan, membentuk isyarat baru dari Kamus Jendela: dua cup di dekat dada. Ada perkembangan boba. Dari jendela seberang, Arga membalas dengan satu anggukan pelan, yang dalam bahasanya setara dengan sorakan.
"Tim Bapak itu berani juga," kata Anara malam itu, di rumah, sambil menata stok kopi susu barunya yang sekarang cuma satu baris.
"Tim saya presisi tinggi," jawab Arga. "Dia menyusun dokumen itu dua minggu. Saya tahu karena tiga kali dia minta izin pulang cepat dengan alasan yang tidak masuk akal."
"Dan Anda diamkan?"
"Saya menyetujui. Untuk urusan begini, bahkan saya tahu kapan harus tidak jadi pengacara."
Anara tertawa. Malam itu, di buku log Mikhaella, ada satu halaman baru yang judulnya tidak seperti biasanya. Bukan laporan, bukan hitungan. Cuma satu kalimat, ditulis rapi di tengah halaman: "Mulai hari ini, saya menghitung dua orang."
Dan Saudara-saudara, kalau ada yang bertanya apakah pasar taruhan dibayar lunas hari itu, jawabannya: lunas. Anak magang menang besar. Lagi.