Perang boleh selesai, tender boleh kalah berdua, tapi ada satu hal yang tidak pernah selesai di keluarga mana pun, Saudara-saudara: jadwal makan malam dengan mamah. Dan di keluarga ini, mamahnya ada dua.
Lahirlah tradisi baru yang resmi bernama Rotasi Minggu, sebuah sistem yang disusun dengan ketelitian perjanjian internasional: minggu pertama makan malam di rumah Eva dan Damares, minggu kedua di rumah Ayu, dan tidak boleh ada yang absen kecuali sakit, dinas luar kota, atau kiamat. Sistem ini dibuat bukan oleh dua mamah itu, justru oleh Anara dan Arga, karena mereka belajar satu hal dari pengalaman: kalau jadwal tidak dikunci, dua mamah akan mengklaim hari Minggu yang sama dan perdamaian kawasan akan runtuh.
Rotasi Minggu edisi perdana berjalan meriah. Di rumah Eva, rendang dua porsi kembali ke meja dan kali ini tidak perlu pura-pura diletakkan diam-diam. Di rumah Ayu, ada inspeksi, tentu saja ada inspeksi, karena Ayu tidak bisa menahan diri memeriksa apakah anaknya makan benar setelah menikah. Dan di kedua rumah, ada pemandangan yang sama: dua menantu dan anak kandung yang duduk di meja makan, saling menyela, saling mengolok, dan saling menyendokkan lauk tanpa sadar, yang membuat para orang tua saling berpandangan dengan wajah yang sulit dijelaskan kecuali dengan kata: syukur.
Tapi puncak dari semua tradisi baru terjadi di minggu keenam, pada sebuah peristiwa yang sekarang dikenang dengan nama resmi: Inspeksi Kulkas Gabungan.
Hari itu Eva datang ke rumah kecil lima menit dari plaza, dan kebetulan, karena kebetulan di keluarga ini selalu patut dicurigai, Ayu juga datang dua puluh menit kemudian dengan alasan mengantar tumis kangkung. Dua mamah bertemu di dapur menantu. Mata mereka bertemu. Dan tanpa aba-aba, tanpa rapat, tanpa kontrak, keduanya berjalan ke kulkas secara bersamaan seperti dua auditor dari lembaga berbeda yang kebetulan bertemu di TKP.
Pintu kulkas dibuka. Hening.
Rak paling atas: air putih, berjajar rapi, label menghadap depan, karya Arga yang tidak pernah berubah. Rak kedua: masakan beneran, rantang sisa Rotasi Minggu yang dibawa pulang, ditambah lauk hasil percobaan Anara yang tingkat keberhasilannya sekarang sudah tujuh puluh persen, sebuah angka yang dicapai lewat korban berupa tiga wajan. Rak ketiga: sayur dan buah, karena Dave menitipkan pesan ancaman setiap kali mampir. Dan rak pintu: kopi susu. Satu baris saja. Bukan empat puluh dua botol. Satu baris, sembilan botol, ditata miring empat puluh lima derajat karena, kata Anara, "biar estetik", dan kata Arga, "sudut optimal akses", dan dua-duanya benar.
Eva memandangi rak kopi susu itu lama. Lalu rak masakan. Lalu rak kopi susu lagi. Kemudian, Saudara-saudara, mamah yang dulu pernah hampir pingsan melihat isi kulkas anaknya itu berbalik, dan matanya berkaca-kaca. "Kopi susunya tinggal satu rak," katanya dengan suara bergetar. "Dan ada kangkung." Ayu di sebelahnya mengangguk-angguk khidmat sambil mengelap sudut mata dengan ujung jilbab. "Ada kangkung," ulangnya, seolah itu ayat penutup.
"Dua-duanya kenapa, sih," kata Anara, tapi suaranya juga tidak sepenuhnya stabil. "Ini cuma kulkas."
"Ini bukan cuma kulkas," kata Eva. "Ini bukti kamu hidup."
Momen haru itu berlangsung tepat empat puluh detik, karena kemudian dari ruang tengah terdengar suara Arga bertanya apakah ada yang mau teh, dan dua mamah itu serempak menjawab "mau" dengan nada komando, dan inspeksi pun ditutup dengan rapor lisan: rumah tangga dinyatakan layak huni, gizi dinyatakan membaik, dan satu catatan kecil, yaitu Megi Junior dianggap perlu teman. Tidak ada yang berani bertanya maksudnya teman kaktus atau teman yang lain.
Sementara itu, di plaza, kehidupan kantor juga menemukan tradisi barunya. Perang lintas jalan tidak hilang, Saudara-saudara. Ia hanya berubah bentuk. Sekarang hiburan dua gedung adalah menonton dua bos mereka, yang menikah, berdebat dari jendela masing-masing. Bukan telepon, bukan pesan singkat, tapi isyarat tangan lintas jalan, dari jendela lantai sepuluh ke jendela lantai sepuluh, dengan jarak dua puluh meter dan satu plaza di antaranya.
Isyaratnya punya kosa kata sendiri yang disusun secara tidak resmi dan dicatat oleh karyawan dalam dokumen bersama berjudul Kamus Jendela. Tangan membentuk huruf K artinya "kopi?". Tepuk dada dua kali artinya "salah saya". Telapak dibuka menghadap atas lalu ditutup artinya "nanti di rumah". Dan isyarat paling legendaris, yang cuma keluar kalau perdebatan sudah sampai puncak: Anara mengacungkan sandal jepit. Ya, dia menyimpan satu sandal jepit di kantor khusus untuk keperluan ini. Tidak dilempar. Hanya diacungkan. Tapi efeknya lintas jalan: Arga akan terlihat diam sebentar di jendelanya, lalu menutup tirai, yang artinya menurut Kamus Jendela: gencatan senjata.
Pasar taruhan, tentu saja, dibuka lagi. Anak magang yang sekarang sudah jadi karyawan tetap, naik pangkat jadi ketua panitia, dengan bank boba taro yang dipercayakan pada Mikhaella, yang menjalankannya dengan integritas bendahara negara. Taruhan favorit musim ini bukan lagi kapan bos bertengkar, melainkan isyarat apa yang akan keluar duluan hari ini. Omzetnya sehat. Moral karyawan lebih sehat lagi.
Dan soal Mikhaella, Saudara-saudara, ada kabar yang dia sendiri menolak menyebutnya kabar. Pertama, dia resmi naik jabatan, bukan lagi asisten, melainkan manajer operasional, dengan tim kecil di bawahnya dan buku log yang sekarang punya halaman bagian sendiri untuk laporan anak buah. Kedua, dan ini bagian yang dia tolak dihitung balik: ada seseorang di gedung seberang, salah satu tim Arga yang sering dikirim rapat lintas gedung, yang akhir-akhir ini rajin sekali kebetulan lewat mejanya, dan selalu kebetulan membawa boba taro. Satu cup. Taro. Tanpa diminta.
"Ini kebetulan ketujuh," lapor Anara di meja makan.
"Saya tidak menghitung," kata Mikhaella kaku.
"Kamu baru saja bilang ketujuh."
"Itu karena Anda bertanya."
Arga menyeruput air putihnya dan berkomentar tanpa ekspresi, "Tim saya itu presisi tinggi. Kalau dia kebetulan tujuh kali, itu bukan kebetulan. Itu jadwal." Mikhaella memilih mengaduk bobanya dengan intensitas seorang ilmuwan, dan topik itu resmi ditutup olehnya, yang artinya menurut semua orang: bersambung di musim depan.
Tradisi terakhir yang baru lahir adalah yang paling berbahaya: Kampanye Cucu. Dimulai halus, lewat kado ulang tahun pernikahan tiga bulan dari dua mamah yang berkolaborasi, sebuah kado berbungkus rapi yang ketika dibuka isinya adalah... buku nama-nama bayi. Tebal. Ada pembatas buku berbentuk kerincing.
Anara dan Arga memandangi buku itu. Lalu memandangi dua mamah yang berdiri berdampingan dengan senyum malaikat hasil latihan gabungan. "Ini untuk persiapan," kata Ayu. "Kata orang, nama itu doa," kata Eva. "Jadi harus dipilih dari sekarang. Tiga tahun juga belum tentu dapat yang pas."
"Mah," kata Anara pelan-pelan, "kami ada klausul."
"Klausul apa?" tanya Eva curiga.
"Klausul sembilan, Kontrak Meja Dapur, tambahan terbaru," kata Anara sambil menoleh ke Arga, yang langsung paham dan menyambung dengan wajah seformal sidang, "Berbunyi: keputusan tentang generasi ketiga hanya sah dengan dua tanda tangan, dan tidak bisa diintervensi oleh pihak pelaminan mana pun."
Hening tiga detik. Lalu Damares tertawa duluan dari ruang tengah, diikuti semua orang, dan dua mamah itu akhirnya tertawa juga sambil mengancam akan mengirim buku kedua kalau buku pertama tidak dibuka-buka. Buku itu sekarang ada di rak netral dapur, di antara teh dan mie instan, jadi penghuni zona damai.
Malam itu, setelah semua tamu pulang dan piring-piring Rotasi Minggu dicuci, Anara dan Arga berjalan kaki ke plaza. Kebiasaan baru mereka kalau malam minggu: jalan pelan ke jalan yang mempertemukan dua gedung, berdiri di garis tengah, dan memandang dua raksasa kaca itu menyala biasa saja, kembali jadi kantor, kembali jadi saksi bisu.
"Pak," kata Anara, "sudah setahun sejak kita berhenti perang."
"Satu tahun, empat bulan, dan enam belas hari," kata Arga.
"Kamu masih menghitung?"
"Saya tidak pernah berhenti. Bedanya, sekarang yang saya hitung bukan berapa kali Anda menang. Tapi berapa hari saya menang karena Anda."
Anara diam sebentar, lalu menyandarkan kepala ke lengan suaminya di bawah dua gedung yang diam. DEG, tentu saja, DEG yang sudah tidak perlu dicatat lagi karena sudah jadi denyut biasa. Di jendela lantai sepuluh gedung sebelah kiri, ada satu lampu yang masih menyala, tempat tim lembur, dan di jendela lantai sepuluh seberangnya, satu lampu juga. Dua lampu, satu jalan, satu atap di rumah kecil lima menit dari sana.
Perang sudah jadi sejarah. Pernikahan sudah jadi hari-hari. Dan di depan sana, Saudara-saudara, masih ada tender yang harus direbut berdua, ada boba taro yang menunggu dihitung atau tidak dihitung, ada buku nama bayi yang sabar di rak dapur, dan ada dua gedung yang berdiri berdampingan, siap menyaksikan babak berikutnya.
Karena kisah ini tidak selesai di pelaminan. Kisah ini baru saja pindah ke satu atap.