Kehidupan pernikahan yang tenang, Saudara-saudara, ternyata hanya berlaku empat bulan. Empat bulan damai, empat bulan telur yang sudah tidak gosong, empat bulan evaluasi mingguan yang nilainya bagus-bagus. Lalu pada suatu Senin pagi, sebuah pengumuman muncul di portal pengadaan kota, dan kedamaian itu menemui lawannya.
Pemkot membuka tender besar. Bukan tender biasa: proyek pengelolaan kawasan komersial baru di sisi timur kota, nilainya membuat mata para pengusaha berbinar, dan persyaratannya ditulis sedemikian rupa sehingga hanya ada beberapa perusahaan yang memenuhi syarat. Dua di antaranya, tentu saja, berkantor di plaza yang sama. Berdiri berhadap-hadapan. Dipisahkan satu jalan. Dan disatukan satu atap.
Kabar itu sampai ke rumah kecil lima menit dari plaza dalam waktu dua puluh menit, dibawa masing-masing dari kantor masing-masing, dan malam itu meja dapur menjadi saksi rapat paling canggung dalam sejarah rumah tangga mana pun. Dua laptop terbuka berhadapan. Dua cangkir. Satu piring pisang goreng di tengah sebagai mediator tidak resmi.
"Jadi," kata Anara membuka.
"Jadi," jawab Arga.
"Kita dua-duanya mau."
"Sangat."
"Dan dua-duanya eligible."
"Sangat eligible."
Hening. Pisang goreng menunggu. Lalu Anara menghela napas dan berkata kalimat yang keluar dari mulutnya dengan berat, karena dia tahu konsekuensinya: "Kita pernah saingan tiga tahun, Pak. Kita tahu rasanya. Dan sekarang kita suami istri. Jadi sebelum tender ini mulai, kita butuh aturan main. Kontrak. Di atas meja ini, sekarang."
Arga menatapnya lama, lalu bibirnya berkedut dua milimeter ke atas. "Nyonya, Anda baru saja melamar saya untuk membuat kontrak ketiga."
"Bikin, atau tidur di sofa?"
"Kontrak ketiga disetujui."
Maka lahirlah Kontrak Meja Dapur, ditulis di kertas notes biasa, ditandatangani dua-duanya, dan isinya tegas: satu, tidak ada sabotase dalam bentuk apa pun. Dua, tidak ada mengintip dokumen tender pasangan, walau dokumen itu tergeletak di meja, walau cuma satu halaman, walau cuma judulnya. Tiga, rumah adalah zona netral: di dalam rumah tidak ada bahas strategi, tidak ada perang urat syaraf, tidak ada cemberut karena kalah langkah. Empat, apa pun hasilnya, kalah menang tetap satu atap. Lima, pisang goreng di meja dapur tidak boleh habis hanya oleh satu pihak. Klausul terakhir ditambahkan Anara setelah melihat piring mediator itu tinggal separuh.
Minggu-minggu berikutnya adalah minggu paling aneh di dua gedung. Para karyawan menonton dengan jantung berdebar karena bos mereka kembali bersaing, tapi kali ini bersaing sambil pulang ke rumah yang sama. Pagi berangkat bareng, siang perang di meja masing-masing, malam pulang bareng dan makan malam sambil membahas hal-hal absurd seperti apakah Megi Junior perlu dipindah ke pot yang lebih besar. Tim masing-masing dilarang bertanya kabar rumah tangga bosnya karena jawabannya tidak pernah masuk akal. "Baik," kata Anara. "Semalam kami berdebat soal tender dan berdamai soal pot."
Zona netral sendiri punya aturan tak tertulis yang terbentuk pelan-pelan. Topik tender resmi dilarang sejak pukul tujuh malam, tapi dua-duanya manusia, dan manusia suka curang halus: Anara pernah berkomentar, "cuaca timur kota bagus ya akhir-akhir ini," dengan nada yang jelas-jelas survei, dan Arga membalas, "memang, infrastrukturnya menjanjikan," dengan nada yang jelas-jelas survei balasan. Dua-duanya lalu diam, menatap satu sama lain, dan tertawa bersamaan karena ketahuan sama-sama melanggar pasal yang sama. Klausul tiga dicatat malam itu punya pengecualian tidak resmi: melanggar boleh, asal ketahuan bareng dan diakui sambil ketawa.
Tentu saja ada gesekan. Tidak mungkin tidak. Puncaknya terjadi di minggu ketiga, dan pemicunya, Saudara-saudara, bukan strategi, bukan harga penawaran, bukan intrik. Pemicunya adalah sebuah map. Map biru milik Anara yang tidak sengaja tertukar dengan map biru milik Arga, karena dua-duanya punya kebiasaan membeli alat tulis yang sama, sialnya. Anara panik mengira Arga mengintip. Arga tersinggung dituduh mengintip. Kalimat-kalimat yang seharusnya tidak keluar di zona netral keluar juga, suara naik dua oktaf, dan malam itu untuk pertama kalinya mereka tidur membelakangi satu sama lain dengan jarak tempur tiga puluh senti yang terasa tiga kilometer.
Jam dua pagi, Anara bangun karena lapar dan gundah. Dia turun ke dapur, menyalakan kompor, merebus air untuk mie instan. Lima menit kemudian, langkah kaki terdengar di tangga. Arga muncul di pintu dapur, rambut berantakan, dan berdiri di sana sebentar sebelum berkata, "Satu porsi tidak cukup untuk dua orang yang sedang berdamai."
"Siapa bilang ini buat Anda?"
"Karena Anda merebus dua."
Anara tidak menjawab karena memang benar. Mie dimakan dalam diam, berdiri, di dapur temaram, ditemani Megi Junior yang menghadap matahari yang belum ada. Lalu Arga bicara pelan, sambil memandangi map biru sialan yang tergeletak di meja. "Map itu saya kembalikan tanpa membuka. Sampulnya saja saya tidak baca. Karena klausul dua lebih penting daripada tender mana pun. Maaf saya tersinggung. Dan maaf saya lupa bahwa Anda juga sedang takut."
Anara menyeruput kuah mie-nya lama. "Gue juga minta maaf. Gue panik karena gue pengen banget menang, Pak. Dan gue benci bahwa yang harus gue kalahkan itu Anda."
Maka di dapur jam dua pagi itu lahir prinsip yang kemudian ditambahkan ke Kontrak Meja Dapur sebagai klausul enam, ditulis tangan dengan spidol yang tintanya hampir habis: boleh saingan di luar, sekutu di dapur.
Hari pengumuman tender tiba. Dua perusahaan hadir di ruang yang sama, duduk di barisan yang sama, dengan dua proposal yang sama-sama terbaik menurut bisik-bisik panitia. Dan pemenangnya...
Bukan Anara. Bukan Arga. Sebuah konsorsium dari luar kota yang tidak dilirik siapa pun, muncul dari belakang dengan skema gabungan yang membuat dua proposal terbaik di kota itu harus puas jadi finalis. Ruangan hening. Lalu, dari barisan yang sama, terdengar suara kecil yang tidak tertahan: Anara tertawa. Ditahan-tahan, gagal, pecah. Arga di sebelahnya menggeleng pelan, tapi bahunya ikut bergetar. Dua finalis itu tertawa berdua di tengah kekalahan, di hadapan panitia yang bingung dan pesaing yang menang.
Di mobil pulang, Anara masih sesekali kekek. "Kita kalah, Pak."
"Kita kalah berdua," Arga mengoreksi. "Ada bedanya."
"Bedanya apa?"
"Kalah berdua berarti tahun depan kita rebut berdua. Satu proposal. Satu nama. Megantara dan Megantara." Dia menyetir sambil tersenyum dua milimeter. "Musuh kita sekarang bukan satu sama lain, Nyonya. Musuh kita dunia luar."
Dan malam itu, di meja dapur, dua map biru disimpan rapi berdampingan, dua gelas diisi, dan Kontrak Meja Dapur dipajang di samping pigura kontrak tisu. Pusaka keluarga resmi bertambah satu. Klausul enam berbunyi di lorong itu seperti sumpah: saingan di luar, sekutu di dapur, musuh bersama adalah dunia.