Ada satu pertanyaan yang menggantung di udara sejak resepsi selesai, Saudara-saudara, dan pertanyaan itu sederhana tapi menyeramkan: jadi, dua orang yang selama tiga tahun punya dua gedung, dua kantor, dua kulkas, dan dua pendapat tentang segala hal ini... mau tinggal di mana?
Jawabannya sudah diputuskan jauh sebelum akad, lewat rapat meja makan yang oleh Eva disebut sidang paripurna. Tidak di rumah keluarga Anara. Tidak di rumah keluarga Arga. Tidak di apartemen Anara yang penuh sejarah kopi susu. Tidak di rumah Arga yang penuh ketertiban air putih. Rumah baru. Netral. Dan lokasinya, tentu saja, membuat semua orang yang mendengarnya tertawa: sebuah rumah di jalan kecil yang jaraknya cuma lima menit dari plaza. Lima menit dari dua gedung itu. Karena sekeras apa pun mereka ingin hidup baru, dua-duanya tetap tidak sanggup jauh dari arena.
Hari pindahan adalah hari di mana seluruh kota kecil mereka belajar satu hal: menggabungkan dua manusia keras kepala ke dalam satu rumah adalah olahraga ekstrem. Truk dari dua arah datang hampir bersamaan dan langsung menciptakan kemacetan kecil di depan rumah, yang disaksikan tetangga baru dengan penuh minat. "Itu yang dari gedung seberang-seberangan itu, kan?" bisik seorang ibu. "Iya, yang diundangannya ada tulisan dua gedung," jawab suaminya. "Kok pindahannya dua truk?" "Ya namanya juga merger."
Barang pertama yang turun dari truk Arga adalah kaktus. Bukan sofa, bukan lemari, bukan televisi. Kaktus. Dibawa sendiri oleh Arga dengan dua tangan seperti membawa pusaka, disusul tiga kardus bertuliskan rapi dengan label huruf cetak: BUKU, BERKAS, AIR PUTIH CADANGAN. Ya, Saudara-saudara, dia punya kardus khusus air putih cadangan. Dave yang membantu mengangkat hanya bisa menggeleng. "Adikku pindahan bawa stok air putih. Negara ini aman."
Dari truk Anara turun barang-barang dengan energi berbeda: kardus tanpa label yang isinya kejutan, rak kecil bekas kamar kos yang sudah reyot tapi ditolak dibuang, dan satu dus besar yang ketika dibuka isinya adalah stok kopi susu botolan dalam jumlah yang membuat Mikhaella menghitung dan mengumumkan, "Empat puluh dua botol. Cukup untuk dua minggu jika konsumsi normal." "Itu bukan konsumsi normal, Mik," kata Anara dari dalam rumah. "Itu cadangan perang."
Maka dimulailah negosiasi tata ruang yang oleh saksi-saksi disebut lebih alot dari negosiasi kontrak mana pun. Rumah itu punya dua kamar kerja, satu di sisi timur, satu di sisi barat, dan dua-duanya diklaim dalam waktu lima menit. "Sisi timur cahayanya bagus pagi hari," kata Arga. "Sisi timur dekat dapur," kata Anara. "Justru itu, Nona, maaf, Nyonya, saya butuh fokus." "Dan gue butuh kopi." Solusinya, seperti biasa, lahir setelah dua puluh menit saling menatap: undian koin. Anara menang, dapat sisi timur, dan Arga pindah ke sisi barat sambil mengumumkan bahwa sisi barat sebenarnya superior karena lebih tenang, yang oleh semua orang diterjemahkan sebagai: dia kalah dan tidak terima.
Dapur jadi zona paling diplomatis. Rak untuk kopi susu dibangun di sisi kiri, rak untuk air putih di sisi kanan, dan di tengahnya ada satu rak netral yang oleh dua-duanya disepakati jadi wilayah bersama: isinya teh, gula, dan mie instan. Kaktus mendapat tempat kehormatan di jendela dapur, menghadap matahari, dan Anara secara resmi menamainya Megi Junior, yang ditolak Arga selama empat detik sebelum dia tanpa sadar memakai nama itu juga dua hari kemudian.
Dan di lorong menuju ruang tengah, dipasanglah pusaka keluarga itu. Kontrak tisu. Versi satu dan versi dua, dilaminating, dibingkai kayu sederhana, digantung berdampingan dengan plakat kecil di bawahnya yang ditulis tangan oleh Anara: "Jangan pernah merasa menang sendirian." Ayu yang melihatnya pertama kali berdiri di lorong itu lima menit penuh sambil memegang dada. Eva sampai memotretnya dari empat sudut. Damares berkomentar kalem seperti biasa, "Bagus. Kalau berantem, tinggal disuruh baca lorong."
Pagi pertama sebagai suami istri di rumah baru berjalan persis seperti yang ditakutkan semua orang. Anara bangun dengan niat mulia menjadi istri yang menyiapkan sarapan. Niatnya telur mata sapi dua buah dan roti panggang. Hasilnya adalah asap, bunyi alarm kebakaran yang untungnya belum dipasang baterai, dan dua telur yang gosongnya sudah melewati taraf manusiawi. Arga berdiri di pintu dapur dengan rambut rapi dan wajah tanpa ekspresi, memandangi telur itu lama sekali, lalu berkata, "Nyonya, ini telur atau proposal?" "Diam, Pak." "Gosongnya konsisten. Itu bakat."
Penyelamatan datang pukul tujuh kurang sepuluh menit dalam bentuk rantang bertingkat yang diantar sendiri oleh Eva, yang entah bagaimana sudah tahu, yang entah bagaimana selalu tahu. "Mamah cuma lewat," katanya, sambil mengedarkan pandangan ke seluruh dapur dalam durasi tiga detik, yang dalam bahasa mamah artinya inspeksi penuh. "Rumahnya bagus. Kok bau gosong?" Tidak ada yang menjawab. Megi Junior di jendela terlihat bersalah.
Minggu pertama berlalu dengan ritme baru yang pelan-pelan terbentuk: berangkat bareng satu mobil sampai plaza, lalu berpisah di garis tengah dengan gaya dua pebisnis profesional, padahal lima menit sebelumnya masih berebut kamar mandi. Pulangnya bergantian yang menjemput di garis tengah. Malamnya, dua laptop menyala di dua kamar kerja, dan di tengahnya ada dapur yang akhirnya jadi tempat paling hidup di rumah itu.
Hari Jumat, jadwal evaluasi mingguan tiba, klausul delapan, tidak bisa diganggu gugat. Kedai kopi pojok menyambut mereka dengan sesuatu yang baru: di meja pojok langganan mereka, sekarang terpasang plakat kecil kuningan yang dipasang barista dengan tangan sendiri, tulisannya: MEJA KLAUSUL. "Tempat ini sudah melahirkan dua kontrak dan satu pernikahan," kata barista itu resmi. "Secara hukum adat kedai, meja ini sekarang cagar budaya." Anara tertawa sampai kopi susunya hampir tumpah. Arga memotret plakat itu, diam-diam, dan menyimpannya di folder yang tidak dia akui keberadaannya.
Evaluasi minggu pertama sebagai suami istri berjalan singkat, karena nilainya hampir sempurna. Poin diskusi cuma dua: telur gosong dan volume alarm pagi Arga yang oleh Anara digambarkan sebagai "sirine tsunami". Solusinya disepakati: sarapan digilir, dan alarm diganti nada yang lebih manusiawi, yaitu nada dering lagu yang dipilih Anara, yang membuat Arga bangun setiap pagi dengan wajah menggerutu tapi tetap bangun. Karena itulah pernikahan, Saudara-saudara: menggerutu, tapi tetap bangun.
Malam itu, sebelum tidur, mereka berdiri sebentar di lorong, di depan dua kontrak tisu dalam pigura. Lampu lorong temaram. Di luar, lima menit dari rumah mereka, dua gedung berdiri gelap dan tenang, istirahat setelah seminggu penuh menyaksikan.
"Pak," kata Anara pelan.
"Ya, Nyonya."
"Resmi satu atap."
Arga tidak menjawab dengan kata-kata. Dia hanya meraih tangan istrinya, menggenggamnya sebentar, lalu berkata akhirnya, "Satu atap. Dua keras kepala. Cukup." Dan lampu lorong dipadamkan, dan rumah baru itu, untuk pertama kalinya, benar-benar terasa seperti rumah.