Kalau akad tadi pagi adalah milik keluarga, maka resepsi malam ini, Saudara-saudara, adalah milik semua orang yang pernah jadi penonton. Dan penontonnya banyak. Dua gedung penuh.
Menjelang magrib, plaza disulap jadi venue yang membuat beberapa tamu lupa bahwa ini sebenarnya jalanan. Lampu-lampu kuning digantung melintang dari gedung satu ke gedung seberang, rendang mengalir seperti tidak ada hari esok, dan di sudut plaza berdiri stall spesial yang antrenya paling panjang: kopi susu, diseduh langsung oleh barista kedai pojok yang malam ini mengenakan dasi untuk pertama kalinya dalam hidupnya. "Demi meja klausul," katanya khidmat kepada siapa pun yang bertanya.
Denah tempat duduk awalnya dirancang rapi: sisi kiri untuk tamu gedung kiri, sisi kanan untuk tamu gedung kanan. Rancangan itu bertahan tepat sebelas menit. Begitu makanan dibuka, batas wilayah runtuh total: karyawan gedung kiri antri rendang bareng karyawan gedung kanan, anak magang duduk semeja dengan tim seberang sambil membahas arsip lama seperti veteran perang bertukar cerita, dan tidak ada satu pun yang protes. Tiga tahun nonton dari jendela masing-masing, ternyata malam ini semuanya penonton partai yang sama.
Mikhaella naik ke panggung kecil sebagai pembawa acara, kacamata bundarnya berembun karena gugup dan haru yang berkelahi. Tapi begitu dia bicara, semua orang diam. "Selamat malam," katanya. "Saya Mikhaella. Tugas saya malam ini sederhana: memastikan acara berjalan sesuai rundown, dan memastikan tidak ada yang menyebut angka perkiraan berapa kali saya menghitung sesuatu." Satu plaza tertawa. Anara di kursi pelaminan tertawa paling keras, sambil berbisik ke Arga: "Itu roast. Itu jelas roast." Arga mengangguk pelan. "Dia belajar dari yang terbaik," katanya. "Maksud Bapak?" "Maksud saya, dari Anda."
Pidato pertama datang dari Pak Handoko, dan seperti sudah diduga, pidatonya tidak singkat. Beliau berdiri dengan gelas di tangan, membuka dengan kalimat yang akan diingat dua gedung untuk waktu yang lama: "Saya ini sebenarnya cuma mau ngontrak ruang kantor. Tahunya dapat tiket nonton tiga tahun." Dia lalu menceritakan versinya tentang dua gedung yang perang, tentang berkas yang tertukar, tentang dua orang keras kepala yang dia kira tidak akan pernah selesai-selesai. "Ternyata selesai juga," katanya, lalu berhenti agak lama, dan suaranya berubah lembut. "Selesai, dan jadi awal. Gula dan kopi, dua-duanya segelas. Itu kalian berdua." Tidak ada yang bertepuk tangan selama tiga detik karena semua sibuk mengusap mata, lalu tepuk tangannya pecah.
Dave berdiri berikutnya, mewakili keluarga Arga. Pidatonya pendek, karena dia tahu kalau panjang dia tidak akan sanggup. "Saya kakaknya," katanya. "Dan malam ini saya resmi dapat adik lagi." Dia menunjuk Anara dengan dagunya. "Dua-duanya keras kepala. Satu atap itu nanti berisik. Tapi berisik itu artinya hidup." Dia mengangkat gelasnya. "Untuk yang akhirnya pulang ke rumah yang ramai." Ayu menangis di mejanya. Arga berdiri dan memeluk kakaknya di depan semua orang, dan karyawan lantai lima bersumpah melihat bos mereka menepuk punggung kakaknya tiga kali, yang dalam bahasa Arga setara dengan pidato dua jam.
Lalu tibalah momen potong kue, dan Saudara-saudara, di sinilah perang pertama mereka sebagai suami istri resmi dimulai. Kue lima tingkat, pisau satu, dua pasang tangan, dan dua filosofi yang bertabrakan. Arga, sebagaimana dia menjalankan hidup, mengatur sudut potongan empat puluh lima derajat dengan ketepatan militer. Anara, sebagaimana dia menjalankan hidup, menyuruh potong saja yang penting masuk mulut. "Kue ini dikalkulasi," kata Arga. "Kue ini kue," jawab Anara. "Empat puluh lima derajat supaya tidak roboh." "Pak, tamu kelaparan." Akhirnya solusinya adalah solusi paling mereka: dua tangan di satu pisau, potong bersama, miring dua derajat ke kiri, tidak sesuai kalkulasi Arga, tidak semau Anara, dan tetap berdiri kokoh. Suapan pertama berakhir dengan krim olesan di pipi masing-masing, disoraki dua ratus tiga orang, difoto tujuh puluh kali, dan Arga tidak menolak satupun. Sejarah mencatat: lelaki anti difoto itu malam ini difoto lebih banyak daripada seumur hidupnya, dan dia bahkan tersenyum. Agak. Dua milimeter. Tapi terhitung.
Dan kemudian, pukul sembilan malam lewat tujuh menit, sesuai rundown rahasia yang tidak diketahui pengantin, lampu-lampu utama plaza meredup.
Semua orang mengira mati lampu. Anara langsung mencari Mikhaella dengan tatapan "ini kenapa". Mikhaella, dari panggung, tersenyum dan mengangkat mikrofon. "Bapak, Ibu, dan terutama bos saya dan suaminya," katanya, "silakan menghadap ke dua gedung."
Hitung mundur dimulai entah dari mana, dipimpin anak magang dari atas panggung: tiga, dua, satu.
Dan dua gedung itu menyala.
Bukan sembarang menyala. Jendela-jendela di puluhan lantai menyala bergiliran membentuk gambar: di gedung kiri, sebuah hati raksasa dari cahaya jendela; di gedung kanan, sebuah hati raksasa lain; lalu perlahan-lahan, lantai demi lantai, barisan lampu di tengah menyala terakhir, membentuk tulisan melintang di antara keduanya: AKHIRNYA SATU ATAP.
Plaza meledak. Tamu-tamu bertepuk sambil tertawa, beberapa menangis lagi padahal tadi sudah. Anara berdiri mematung, tangan menutup mulut, dan Arga di sampingnya diam lama sekali sebelum berkata pelan, "Mereka semua tidak masuk kerja besok." Tapi suaranya parau, dan Anara tahu suara parau itu artinya apa. Dia menyandarkan kepala ke bahu suaminya. "Terima kasih, Pak," katanya. "Untuk dua gedungnya." "Untuk satu jalannya," jawab Arga.
Di belakang kerumunan, dalang-dalangnya berdiri berjajar seperti mafia yang habis menang tender: sekretaris tanpa nama, asisten Arga, anak magang, dan tiga orang satpam yang menyediakan akses gedung serta menjamin tidak ada lampu yang menyala di lantai yang salah. Thread Proyek Seberang malam itu resmi dibuka dan diganti namanya jadi thread arsip sejarah. Pesan terakhir di sana, dari anak magang: "Misi HADIAH: selesai. Terima kasih sudah jadi alasan kami bangga sama kantor sendiri."
Acara ditutup dengan cara yang tidak ada di rundown manapun: pengantin berjalan kaki pulang. Benar-benar berjalan kaki, di antara dua barisan tamu yang memegang sparkler, menyusuri plaza yang jadi saksi tiga tahun perang mereka, dari ujung gedung Anara ke ujung gedung Arga, lalu berhenti tepat di garis tengah, tempat dulu mereka paling sering bertemu dengan tatapan bermusuhan. Di situ, di bawah dua gedung yang masih menyala membentuk dua hati, mereka berdiri sebentar berdua saja.
"Dulu saya berdiri di sini mikir bagaimana caranya menyingkirkan Anda," kata Arga.
"Sekarang?" tanya Anara.
"Sekarang saya berdiri di sini mikir bagaimana caranya Anda tidak ke mana-mana."
DEG. Tentu saja DEG. Dan di bawah cahaya dua gedung yang menyala seperti dua raksasa yang akhirnya berdamai, dua orang paling keras kepala di kota itu pulang, bergandengan, ke satu atap yang sama. Warung Bu Surti boleh tutup sehari, lampu boleh menyala semalaman, dan kota kecil mereka boleh bergosip sampai bulan depan. Malam ini, perang resmi jadi pernikahan.