Saudara-saudara, masih ingat undangan yang tulisannya cuma tiga kalimat itu? Dua gedung. Satu jalan. Akhirnya satu atap. Nah, hari yang tertulis di undangan itu akhirnya datang juga. Dan izinkan saya memberitahu satu hal: tidak ada yang siap. Bukan pengantinnya, bukan keluarganya, apalagi dua gedung yang sejak subuh sudah berdiri tegak seperti ikut deg-degan.
Di rumah keluarga Andrea, keriuhan dimulai pukul lima pagi. Eva sudah berdiri di dapur dengan daster kebesaran dan wajah orang yang akan memimpin operasi militer. Damares, sesuai reputasi pengkhianat paling damai se-Indonesia, duduk di meja makan membaca koran sambil sesekali dimarahi karena dianggap tidak cukup panik. "Pah, ini anaknya mau akad, Papah malah baca berita olahraga!" kata Eva. "Biar jantung saya siap, Mah," jawab Damares, dan entah kenapa jawaban itu masuk akal.
Anara sendiri duduk di kursi rias sejak pukul enam, rambut curly cokelatnya ditata oleh tim yang dipanggil khusus, sementara Mikhaella berdiri di sampingnya memegang rundown yang sudah berubah bentuk dari kertas menjadi gulungan karena terlalu sering diremas. "Bobo semalam cuma tiga jam," lapor Mikhaella dari balik kacamata bundarnya. "Tapi kadar gula aman. Arabela tadi kirim boba." "Mik," kata Anara sambil matanya dirias, "hari ini lo bukan asisten. Hari ini lo pendamping. Turun pangkat jadi teman." Mikhaella mencatat itu di rundown. Benar-benar dicatat.
Di rumah seberang kota, suasana justru terbalik. Ayu panik luar biasa, berlari-lari memeriksa seserahan yang sebenarnya sudah diperiksa tujuh kali. Dave jadi korban: disuruh mengangkat kotak, menurunkan kotak, memindahkan kotak dua senti ke kiri, lalu mengembalikannya ke posisi semula. Dan di tengah semua itu, Arga Satria Megantara duduk tenang di ruang tengah, sudah rapi sejak pukul tujuh, jas krem keemasan tanpa cela, sambil menyeruput kopi seperti ini hari Selasa biasa.
"Adikku," kata Dave sambil menyematkannya pin kecil di kerah jas Arga, "kamu itu menikah atau mau rapat direksi?" "Menikah," jawab Arga. "Rapat direksi saya lebih tegang." Dave tertawa, lalu berhenti, lalu matanya berkaca-kaca sebentar sebelum dia pura-pura membersihkan debu di bahu adiknya. Dua bersaudara itu tidak butuh kalimat panjang. Satu tepukan di bahu sudah cukup menjelaskan sepuluh tahun yang sempat hilang dan sekarang pulih.
Pukul delapan, plaza di antara dua gedung itu sudah berubah wujud. Jalan yang biasanya jadi arena perang dingin dua bos besar, hari ini dipenuhi kursi-kursi putih berpita dusty blue dan krem keemasan. Di tengahnya berdiri pelaminan sederhana yang menghadap tepat ke celah di antara dua gedung, seolah-olah dua raksasa kaca itu dipersilakan menyaksikan dari barisan paling depan. Dan mereka menyaksikan betulan: di jendela-jendela lantai demi lantai, karyawan dua perusahaan menempelkan wajah ke kaca. Libur? Libur. Datang ke kantor? Datang. Logika tidak berlaku untuk hajatan bos.
Tamu-tamu mulai berdatangan. Dua ratus tiga undangan, sesuai ramalan Damares yang sekarang dianggap ramalan paling akurat setelah BMKG. Pak Handoko tiba dengan setelan terbaiknya, disambut seperti pahlawan, karena memang begitulah statusnya: saksi duo, orang yang melihat dua kontrak lahir dan dua hati bertekuk lutut. Bu Surti datang dengan kebaya dan dandanan yang membuat beberapa tamu bertanya ibu pejabat yang mana itu. Warungnya resmi tutup hari ini; pengumumannya dipasang di gerobak: "TUTUP. ADA HAJAT ANAK BAPAK-BAPAK JENDELA."
Barisan satpam bertugas sebagai tim protokol tidak resmi, lengkap dengan buku catatan. Di halaman paling baru, tertulis entri yang ditulis rapi sejak subuh: "HARI INI. BUKAN INSIDEN. HAJATAN."
Prosesi akad dimulai pukul sembilan lewat sedikit, karena tidak ada hajatan Indonesia yang mulai tepat waktu dan hari ini bukan pengecualian. Anara berjalan dari sisi gedungnya, diapit Eva dan Damares, kebaya putihnya berkilau kena matahari pagi yang muncul tepat waktu walau tamu tidak. Dari sisi gedung seberang, Arga sudah berdiri di depan meja akad, dan untuk pertama kalinya dalam sejarah dua gedung, lelaki itu terlihat kehilangan kata-kata. Matanya tidak berkedip. Saudara-saudara, karyawan lantai sepuluh bersumpah melihat bos mereka menelan ludah.
Damares duduk di kursi wali dengan ketenangan yang membuat penghulu sempat mengecek apakah bapak ini baik-baik saja. Ternyata baik. Bahkan terlalu baik. Suaranya tenang, kalem, tanpa getar, seperti orang menyerahkan berkas, padahal yang dia serahkan adalah anak perempuannya yang dulu dia antar ke mana-mana pakai inovasi seadanya.
"Saya nikahkan dan saya kawinkan anak kandung saya, Anara, kepada engkau, dengan maskawin tersebut, tunai."
Arga menarik napas. Seluruh plaza ikut menarik napas. Dua gedung menahan napasnya. Di jendela lantai tujuh, anak magang mencengkeram lengan rekannya.
"Saya terima nikah dan kawinnya Anara binti Damares dengan maskawin tersebut, tunai."
Satu tarikan napas. Satu kalimat. Lurus, jelas, tanpa jeda.
"Sah!" seru penghulu.
"SAAAAH!" jawab dua ratus tiga tamu, ditambah dua gedung penuh karyawan yang berteriak dari jendela sampai suaranya memantul-mantul di dinding kaca. Burung-burung di pohon plaza kabur. Pak Handoko berdiri sambil mengangkat kedua tangan seperti wasit mengesahkan gol. Mikhaella menangis tanpa suara sambil tetap memegang rundown, karena profesionalisme tidak mengenal momen. Astrid menyerahkan tisu kepadanya dengan gaya ibu yang sudah memprediksi ini dari kemarin.
Dan di meja akad, sesuatu yang baru terjadi. Arga menunduk sedikit ke arah Anara, dan dengan suara yang hanya cukup untuk mereka berdua, dia berkata, "Selamat pagi, Nyonya Megantara."
Anara, yang air matanya juga sudah tidak bisa diajak kerja sama, nyengir di tengah tangisnya. "Jangan lebay, Pak Megantara," bisiknya balik. Tapi tangannya, yang digenggam tangan suaminya, tidak dilepas-lepas. Malah makin erat. DEG. Untuk kesekian ribu kalinya, dan kali ini resmi dicatat negara.
Sesi foto berjalan kacau sesuai tradisi: keluarga besar dua kubu berebut posisi, sepupu-sepupu jadi pagar betis dadakan, dan kedua mamah menangis di tempat masing-masing lalu berpelukan di tengah, disoraki seperti artis. Dave berdiri di barisan keluarga sebagaimana dijanjikan, dan ketika fotografer meminta "yang paling kiri senyum", dia justru yang paling lebar senyumnya.
Di sudut lain, Bu Surti menyalami pengantin dengan gaya yang membuat protokol keluarga mundur teratur: dipeluk, dicek pipinya, lalu dinasihati. "Kamu itu ya, Nduk, dari dulu nongkrong di warung Bu Surti sambil ngomelin gedung seberang. Sekarang yang di seberang malah jadi suami." Anara tertawa lepas. "Tetap Bu Surti yang pertama tahu semua," katanya. "Ya iyalah," jawab Bu Surti bangga. "Gosip paling akurat itu bukan dari jendela, Nduk. Dari warteg." Sekeluarnya dari situ, beliau langsung jadi narasumber paling diburu tamu-tamu lain.
Satpam senior menulis satu entri lagi di bukunya, kali ini sambil senyum sendiri: "Pukul 09.17. Sah. Tidak ada insiden. Hanya sejarah."
Sore nanti, plaza akan berubah lagi. Kursi digeser, lampu digantung, dan dua gedung itu akan menyala dengan cara yang tidak pernah dibayangkan penghuninya. Tapi itu urusan malam. Sekarang, biarkan sepasang manusia paling keras kepala di kota ini duduk sebentar di pelaminan, lelah dan bahagia, sementara di belakang mereka dua raksasa kaca berdiri berdampingan, akhirnya tidak lagi jadi saksi perang, melainkan saksi nikah.