Dua minggu terakhir sebelum hari H berjalan seperti dapur restoran sebelum acara besar: panas, cepat, dan penuh orang yang berteriak sayang satu sama lain.
Di dua gedung, suasana kerja berubah aneh. Rapat tetap berjalan, laporan tetap masuk, tapi ada arus bawah yang berisik: karyawan dua perusahaan sedang merancang sesuatu. Sesuatu yang tidak dibicarakan di depan dua bos, dibahas hanya di grup "Proyek Seberang" dengan thread terkunci berjudul "HADIAH", dan dijaga oleh anak-anak magang dengan disiplin militer hasil latihan perang intelijen kemarin.
Sang satpam, yang tahu segalanya, tidak melaporkan apa pun. Untuk pertama kalinya dalam kariernya, beliau memilih jadi bagian dari konspirasi.
"Kali ini saya bukan penjaga," tulisnya di buku catatan. "Kali ini saya anggota."
Seminggu sebelum hari H, dua perayaan kecil digelar di dua tempat berbeda.
Versi Anara: apartemennya diserbu Mikhaella, Arabela, dan — menyusul tanpa diundang, dengan rantang — Eva, Ayu, dan Tante Astrid. Malam itu jadi campuran lintas generasi yang kacau: cerita-cerita memalukan masa kecil, nasihat pernikahan dari tiga ibu yang saling menimpali, dan Mikhaella yang membuka buku lognya untuk pembacaan resmi.
"Perhatian semua. Data final." Mikhaella berdiri di atas kursi dengan buku log terangkat. "Sejak gue mulai menghitung, Anara menyebut nama Arga sebanyak ... dua ribu tiga ratus empat puluh satu kali. Dua ribu! Tiga ratus! Empat puluh satu!"
"LO NGITUNGIN DARI AWAL?!"
"Gue selalu ngitungin dari awal, Ra. Itu bakat gue dan sumbangsih gue bagi peradaban." Mikhaella membalik halaman dengan wibawa. "Dan malam ini penghitungan resmi ditutup. Karena mulai besok-besok ... nama itu bukan lagi sebutan. Nama itu suami lo."
Satu apartemen itu menangis dan tertawa berbarengan, dan Eva serta Ayu berangkulan sambil berkata dalam waktu yang hampir sama: "Anakku sudah besar."
Arabela, yang sudah menikah lebih dulu dan karenanya mengangkat status dirinya jadi konsultan senior malam itu, mengetuk gelasnya. "Gue mau kasih nasihat terakhir, Ra, sebagai orang yang lebih dulu nyebur. Pernikahan itu bukan akhir dari berantem-beranteman kalian. Itu justru pindah arena. Bedanya cuma satu: nanti kalian berantem di rumah yang sama, jadi enggak bisa gengsi kelamaan — mau tidur di mana coba."
"Itu nasihat atau ancaman?"
"Itu pengalaman," jawab Arabela, dan satu ruangan tertawa lagi sampai tetangga sebelah apartemen mengetuk dinding, dan mereka malah tertawa lebih pelan tapi lebih lama.
Versi Arga, di sisi kota yang lain, jauh lebih kaku pada awalnya — karena tamunya adalah: asistennya, Pak Handoko, Dave yang pulang seminggu lebih awal, dan sang satpam yang diundang dengan undangan tertulis resmi.
Lima pria itu duduk di apartemen Arga dengan teh dan kue kering, dalam keheningan yang nyaris berubah jadi rapat direksi, sampai Pak Handoko — terpujilah beliau — membuka dengan satu kalimat: "Nak, kalian ini mau merayakan atau mau evaluasi kinerja?"
Pecahlah kekakuan itu. Pak Handoko bercerita soal pernikahannya yang empat puluh tahun, soal istrinya yang "keras kepala seperti calon istri kamu, dan itu pujian tertinggi". Asistennya bercerita soal bertahun-tahun menjaga jadwal bos yang tidak pernah pulang, "sampai akhirnya beliau punya alasan pulang". Sang satpam, diminta bicara, berdiri, menegakkan badan, dan menyampaikan pidato singkat yang membuat satu ruangan terdiam:
"Saya ini cuma jaga gedung, Pak. Tapi sepuluh tahun saya jaga, saya belajar satu hal: gedung itu tinggi, tapi yang bikin tinggi itu bukan lantainya. Isinya. Bapak sekarang isinya sudah ada. Saya ikut bahagia, Pak."
Dan Dave, di akhir, mengangkat gelas tehnya dengan tangan yang sedikit ragu.
"Gue bukan orang yang paling pantas ngomong di sini," ucapnya jujur. "Tapi gue mau ngomong satu hal. Dek — lo menang. Bukan menang dari gue. Menang dari diri lo sendiri yang dulu takut rumah." Ia menatap adiknya. "Pulang ke rumah yang ramai, ya. Lo udah lama enggak pulang ke yang kayak gitu."
Arga menatap kakaknya lama, lalu mengangkat gelasnya, dan dua cangkir teh itu beradu pelan di tengah ruangan — bunyi kecil yang tidak akan dicatat sejarah mana pun, kecuali sejarah dua bersaudara itu sendiri.
***
Malam terakhir sebelum hari H, evaluasi mingguan terakhir digelar di kedai kopi pojok.
Sang barista menutup kedainya lebih awal khusus untuk mereka. Meja pojok itu sudah bersih, dua gelas sudah siap, dan lampu kedai diredupkan setengah — beliau bilang itu untuk "suasana", tapi semua orang tahu itu supaya beliau bisa menangis di balik konter tanpa terlalu terlihat.
Evaluasi terakhir itu singkat, karena tidak ada yang perlu dievaluasi lagi. Semua klausul berjalan. Semua minggu berjalan.
"Ada satu agenda terakhir," ucap Arga, mengeluarkan tisu kontrak terlaminating itu — yang sekarang sudah jadi dokumen paling berharga di kota kecil mereka. "Usul klausul delapan."
"Silakan."
"Klausul delapan." Arga menulisnya pelan, dengan tulisan tegaknya, di tisu baru yang bersih: "Evaluasi mingguan berlanjut selamanya. Di meja ini, kalau bisa. Di mana pun, kalau harus. Tidak ada batas akhir."
Anara membaca kalimat itu, lalu mengambil pulpennya dan menambahkan satu baris dengan tulisan berantakannya:
"Disetujui. Dengan catatan: kopi susunya jangan pernah berhenti."
Dua tanda tangan. Lagi. Dan sang barista, dari balik konter, mengangkat gelasnya dalam diam.
***
Malam itu juga, dua orang itu berpisah ke dua rumah — Anara ke rumah orang tuanya, Arga ke rumah besar — sesuai tradisi yang ditetapkan dua mamah dengan ketat: malam sebelum hari H, tidak boleh bertemu.
Dua orang yang terbiasa bertemu setiap hari itu, tentu saja, tidak bisa tidur.
Pukul sebelas malam, ponsel Anara bergetar.
"Tidur. Besok hari besar. — Seberang"
"Lo juga tidur. Lo yang lebih butuh, muka lo jelek kalau kurang tidur. — A"
"Bohong. Anda tidak pernah bilang saya jelek bahkan saat kita bermusuhan. — Seberang"
"Karena gue jujur, bukan karena gue baik. — A"
Jeda sebentar. Lalu:
"Besok kita menikah, Nona."
Anara menatap layar itu di kamarnya yang remang, di rumah masa kecilnya, dengan cincin nenek di jarinya dan jantung yang berdebar seperti hari pertama ia melihat pintu kayu berukir itu terbuka.
"Besok kita menang, Pak. Akhirnya."
Dan di dua rumah yang berbeda, dua orang itu tidur dengan senyum yang sama — sementara di luar sana, di perempatan di antara dua gedung, lampu-lampu lantai menyala seperti biasa, tidak tahu bahwa besok pagi, jalan yang memisahkan mereka itu akan menjadi saksi satu atap yang akhirnya resmi.
Besok adalah hari besar.
Dan satu kota kecil itu sudah lama siap.