Persiapan pernikahan dua CEO itu berjalan seperti proyek gabungan ketiga — dan kali ini, semua pihak sudah belajar dari sejarah: harus ada kontrak dulu.
Maka pada suatu Minggu sore, di ruang keluarga rumah besar, ditandatangani sebuah dokumen bersejarah lain di atas — tentu saja — selembar tisu.
"Kontrak Persiapan," bacakan Arga dengan khidmat. "Klausul satu: ibu-ibu memegang bunga, katering, dan dokumentasi. Klausul dua: mempelai memegang tanggal, tempat, dan anggaran. Klausul tiga: tidak ada perang di tempat fitting. Klausul empat: keputusan akhir butuh dua tanda tangan mempelai. Klausul lima ..." ia melirik dua mamah yang duduk bersemangat di hadapannya, "... kalian berdua boleh merancang, tapi dilarang kerasukan."
"Dilarang kerasukan itu klausul yang tidak adil," protes Eva.
"Ditambang dari pengalaman," jawab Anara datar.
Pertempuran pertama meletus di tempat fitting.
Bukan antara Anara dan Arga — mereka berdamai soal itu — tapi antara dua mamah, soal warna kebaya dan jas. Eva bersikukuh pada krem keemasan, Ayu bersikukuh pada dusty blue, dan perang dingin itu berlangsung empat puluh menit penuh di butik sampai Anara mengetuk meja.
"Krem keemasan untuk keluarga gue. Dusty blue untuk keluarga Arga. Mempelai pakai putih. Selesai. Klausul tiga, Mah. Tidak ada perang di tempat fitting."
Dua mamah itu terdiam, lalu saling pandang, lalu sepakat dengan rasa haru yang aneh — karena anak-anak mereka baru saja menggunakan kontrak untuk mengalahkan mereka, dan mereka tidak pernah lebih bangga.
Fitting itu sendiri adalah drama tiga babak. Babak pertama: gaun Anara — sederhana, elegan, tanpa kereta tiga meter seperti yang diperjuangkan Eva dengan air mata cadangan. Babak kedua: jas Arga — satu-satunya bagian yang tidak menimbulkan perang, karena pria itu datang, diukur, mencoba, dan selesai dalam dua puluh menit, rekor yang dicatat pemilik butik dengan rasa takjub. Babak ketiga: gaun pendamping, dan di sinilah Mikhaella — pendamping resmi, jabatan yang ia terima dengan air mata dan selembar sertifikat yang ia cetak sendiri — mencoba sembilan gaun dan menangis di gaun kesembilan.
"Ini. Yang ini. Gue enggak akan lebih cantik dari ini," isaknya pada cermin.
"Kamu pendamping, bukan pengantin," ingatkan Eva.
"Justru karena itu gue harus secantik ini, Bu. Gue ini bukti hidup bahwa perjodohan bisa gagal total dan semua orang tetap menang."
Tidak ada yang bisa membantah logika itu juga, jadi gaun kesembilan itu resmi dipilih.
Arga sendiri dilarang melihat gaunnya. Tradisi, kata semua orang. Maka ia menjalankan tradisinya sendiri: mengirim kopi susu ke butik setiap kali fitting, dengan catatan yang membuat seisi butik menjerit pelan:
"Untuk calon pengantin yang tidak boleh saya lihat. Minum. Fitting itu melelahkan. — Calon yang lain"
Ia sempat dianggap akan membangkang. Pada fitting ketiga, Anara mengetahui sebuah payung parkir butik bergeser mencurigakan, dan dari jendela lantai dua ia melihat sesosok pria berjas berdiri di seberang jalan, membelakangi butik dengan patuh, menghadap ke mana-mana asal bukan ke jendela.
"Dia sudah di situ berapa lama?" tanya pemilik butik.
"Sejak kami masuk," jawab Mikhaella, mengintip. "Berdiri membelakangi. Dia menjaga tradisi pakai cara paling ribet sedunia."
Anara menatap sosok yang membelakang itu dari jendela, dan tersenyum pada kaca. Beberapa orang menjaga aturan. Pacarnya menjaga aturan sambil berdiri seratus meter dari aturannya, supaya dia tetap dekat.
Dan keputusan terbesar — tempat — lahir dari kecelakaan yang manis.
Mereka sudah mengunjungi tiga ballroom mewah, dan semuanya terasa seperti milik orang lain: megah, benar, tapi asing. Dalam perjalanan pulang dari survei ketiga, mobil mereka berhenti di lampu merah — di perempatan itu, perempatan yang memisahkan dua gedung mereka, yang setiap hari mereka lintasi tanpa pernah benar-benar melihatnya.
Anara menatap ke atas. Dua gedung itu berdiri berseberangan di kedua sisi jalan, dengan plaza kecil di tengahnya, dan lampu-lampu lantainya menyala berpancaran ke langit malam.
"Pak," ucapnya pelan. "Kita nikah di sini aja."
Arga menatapnya. Lalu menatap dua gedung itu. Lalu menatap plaza kecil di tengahnya.
"Di tengah jalan yang dulu memisahkan kita," ucapnya, mencoba bunyi kalimat itu di mulutnya, dan mendapati kalimat itu pas seperti kunci. "Dua gedung, satu jalan, satu plaza."
"Ballroom bisa disewa siapa saja. Tapi tempat ini ..." Anara tersenyum. "Tempat ini cuma punya kita."
Mereka mempresentasikannya ke dua mamah dengan kesiapan perang total.
Dan karena mereka dua CEO, presentasinya bukan sekadar omongan — ada slide. Slide, Saudara-saudara. Di layar televisi ruang keluarga, lengkap dengan diagram, foto plaza dari tiga sudut, simulasi tata kursi, dan satu halaman berjudul "Analisis Biaya: Plaza vs Ballroom" yang membuat Damares mengangguk-angguk dengan hormat seorang sesama pembaca data.
"Slide empat," ucap Arga, mengklik dengan remote seperti sedang menghadap investor. "Kapasitas plaza: dua ratus orang dengan konfigurasi melingkar di sekitar—"
"—dua gedung sebagai latar belakang," lanjut Anara, "yang gratis, yang abadi, dan yang tidak bisa disewa siapa pun di dunia ini."
Dua mamah itu menatap layar, menatap dua anak mereka yang bergantian bicara seperti satu otak dibagi dua tubuh, dan perlahan-lahan perlawanan mereka runtuh bukan karena kalah debat — tapi karena kalah indah.
Reaksinya: Eva menangis duluan sebelum slide kedua, dan Ayu — sang event organizer — berdiri di tengah presentasi, mengangkat tangannya, dan berkata dengan suara bergetar penuh wibawa:
"Anak-anak, kalian baru saja mengalahkan dua mamah yang sudah menyiapkan tiga venue cadangan. Dan kami ... dengan bangga mengaku kalah."
Undangan dicetak dua minggu kemudian, dan di sampulnya, di atas ilustrasi dua gedung berseberangan dengan lampu-lampu menyala, tertulis satu kalimat yang dipilih langsung oleh dua mempelai:
"Dua gedung. Satu jalan. Akhirnya satu atap."
Distribusinya pun menjadi perjalanan kecil tersendiri. Satu undangan diantar langsung ke warung tenda, dan Bu Surti membacanya tiga kali sebelum menempelkannya di dinding warung dengan paku, di sebelah foto langganan-lamanya. "Pelanggan utang paling rapi sedunia," umumnya kepada semua pengunjung malam itu, "mau nikah. Makan malam ini gratis. Warung tutup pas hari-H — saya mau dateng."
Satu undangan terbang ke kota lain, ke alamat baru Dave, dengan catatan tulisan tangan dari Arga: "Barisan keluarga. Seperti janji."
Dan dua undangan terakhir dipasang di dua papan pengumuman dua gedung, yang difoto, diunggah, dan membuat grup "Proyek Seberang" menetapkan satu aturan darurat baru: dilarang menangis di jam kerja.
Tanggalnya dilingkari merah di tiga kalender: kalender Eva, kalender Ayu, dan — yang tidak diketahui dua mamah itu — kalender kecil di buku catatan seorang satpam, yang mulai menghitung mundur dengan lebih tekun dari siapa pun.