Telepon itu datang dari kota lain, ke rumah besar, pada hari Rabu yang biasa.
"Bu. Acara nikahannya Arga ... gue boleh dateng enggak?"
Ayu menatap teleponnya lama setelah sambungan itu. Lalu ia melakukan apa yang selalu ia lakukan dalam situasi besar: mengumpulkan pasukan.
Musyawarah itu berjalan berantai seperti telegram zaman dulu. Ayu ke Eva dulu, tentu saja — dua komplotan itu tidak pernah memutuskan apa pun sendirian. Eva ke Anara dengan hati-hati, dengan tiga kalimat pembuka dan satu gelas teh manis. Anara ke Arga malam itu juga, di telepon, sambil dua-duanya menatap langit-langit apartemen masing-masing.
"Kakak lo nanya boleh dateng atau enggak," ucap Anara. "Itu artinya dia nanya. Dulu dia enggak pernah nanya. Itu kemajuan, Pak."
"Kemajuan yang saya tidak tahu harus saya taruh di mana." Arga diam sejenak. "Menurut Anda?"
"Menurut gue: kasih dia meja. Bukan panggung. Meja makan, empat orang, rumah ibu lo. Kalau dia beneran berubah, dia akan dateng dan diem makan. Kalau dia masih yang dulu, dia akan cari panggung. Meja makan itu detektor paling jujur sedunia."
"Anda baru saja merancang tes karakter pakai meja makan."
"Gue CEO, Pak. Semua hal gue rancang."
Hasil musyawarah keluarga itu — lewat telepon berantai Ayu, Eva, Anara, dan Arga — adalah: Dave pulang. Bukan langsung ke acara, tapi pulang duluan, seminggu sebelumnya, untuk makan malam keluarga kecil di rumah besar. Empat orang saja: Ayu, Arga, Anara, dan Dave.
"Kamu yakin, Nak?" tanya Eva kepada Anara untuk ketiga kalinya.
"Mah. Buku itu sudah gue tutup, gudangnya sudah gue kunci. Kalau dia dateng sebagai kakaknya tunangan gue, ya gue terima sebagai keluarga. Titik."
Damares, dari balik korannya, mengangguk pelan. "Itu baru anak papah."
***
Makan malam itu berjalan dengan koreografi yang bisa membuat sutradara teater iri: semua orang hati-hati, semua orang sopan, dan ketegangan di udara bisa dipotong pakai pisau kue.
Dave datang lebih awal — kebiasaan lamanya — dengan oleh-oleh dan senyum yang kali ini terlihat lebih lelah dari licin. Ia dan Arga bersalaman di ambang pintu seperti dua diplomat dari negara yang baru menandatangani gencatan senjata: kaku, sopan, dan sama-sama tidak tahu tangan masing-masing harus dilepas kapan.
"Dek."
"Kakak."
Ayu mengamati dari dapur dengan wajah wasit final.
Makan malamnya sendiri berjalan aman: kabar kerja, cuaca kota lain, oleh-oleh yang dibawa.
Tapi aman itu dibangun di atas detail-detail kecil yang semua orang pura-pura tidak perhatikan. Ayu mengisi ulang piring dua anaknya dengan pembagian yang dihitung sampai gram, seperti takut satu sendok lebih banyak ke salah satunya bisa membuka luka lama. Dave menyanggupi mencicipi semua masakan ibunya, dua kali, dengan komentar yang tidak berlebihan. Arga memindahkan lauk kesukaan kakaknya ke jangkauan kakaknya tanpa berkata apa-apa — gerakan kecil yang tidak lolos dari mata Ayu, yang langsung pura-pura sibuk ke dapur dengan mata merah.
Dan Anara, yang duduk di posisi paling strategis di antara dua bersaudara itu, menjalankan tugasnya seperti jembatan: mengalirkan topik dari satu sisi meja ke sisi lainnya, menahan topik yang berbahaya, memancing topik yang aman keluar dari persembunyiannya.
"Kota lo sekarang katanya dingin terus? Gue enggak kuat dingin. Gue tim matahari."
"Gue malah betah. Dingin bikin orang enggak banyak basa-basi di jalan."
"Berisik kalian berdua," komentar Ayu dari dapur, dengan suara yang berusaha terdengar mengomel padahal sedang bahagia. "Makan. Baso tahu-nya habisin." Anara dan Dave bertukar beberapa kalimat yang bersih — tidak dingin, tidak hangat, seperti dua orang yang pernah satu sekolah dan sudah lama lulus.
Di sela mencuci tangan, di lorong menuju ruang makan, mereka berpapasan dan berhenti sebentar.
"Lo keliatan bagus, Ra," ucap Dave. "Bukan cantiknya maksud gue — itu mah dari dulu. Keliatan ... beres. Hidup lo beres."
"Karena gue beresin sendiri." Anara menatapnya, tidak tajam, hanya jujur. "Dan gue mau berterima kasih buat satu hal: kalau lo dulu enggak ngelakuin yang lo lakuin, gue enggak akan jadi segarang ini. Lo pelajaran termahal gue, Dave. Tapi pelajaran tetap pelajaran. Lulus ya lulus."
Dave tertawa kecil, dan untuk pertama kalinya tawa itu tidak ada siasatnya — cuma getir yang jujur. "Adil." Ia ragu sebentar. "Mikhaella ... dia baik-baik?"
"Baik. Bahagia. Naik jabatan bulan lalu." Anara menatapnya lurus. "Kalau lo mau minta maaf ke dia, jangan langsung ke dia. Lewatin gue dulu. Gue yang nanya dia mau atau enggak. Itu satu-satunya jalur, dan jalurnya bukan punya lo yang atur."
"Deal." Dave mengangguk cepat, terlalu cepat, seperti orang yang bersyukur masih diberi jalur sama sekali.
Dan momen yang sebenarnya malam itu terjadi bukan di lorong — melainkan di balkon belakang, setelah makan malam, ketika dua bersaudara itu berdiri berdampingan tanpa direncanakan siapa pun, karena dua-duanya sama-sama mencari udara.
Beberapa menit tidak ada yang bicara. Kota berkedip di bawah mereka.
"Gue selalu mikir," Dave akhirnya membuka, matanya lurus ke depan, "semua orang milih gue. Temen-temen lo, guru-guru, semua. Dan gue benci itu, Dek. Tahu kenapa? Karena gue harus jaga terus. Jadi yang dipilih itu capek. Kayak lari lomba yang enggak ada garis finisnya." Ia menelan ludah. "Sementara lo ... lo enggak perlu ngapa-ngapain dan Ibu bangga sama lo. Lo diam aja, nilai lo bagus, lo lurus. Gue dulu iri setengah mati sama yang namanya ... tenang."
Arga diam sejenak. Lalu menjawab, juga ke depan, juga tanpa menoleh.
"Saya selalu mikir semua orang memilih kamu. Jadi saya membangun hidup yang tidak butuh dipilih." Ia berhenti. "Ternyata kamu di dalam sana lari terus. Dan saya di dalam sini diam terus. Dua-duanya capek. Dua-duanya mengira yang satu lagi menang."
"Kita goblok banget, ya," ucap Dave pelan.
"Sangat," jawab Arga.
Dan mereka tidak berpelukan — dua puluh tujuh tahun tidak sembuh dengan satu balkon — tapi mereka berdiri di sana berdampingan sampai rokok angin malam itu dingin, dan itu sudah lebih jauh dari yang pernah mereka capai seumur hidup.
Di ambang pintu balkon, Ayu berdiri mematung dengan dua cangkir teh di tangannya, tidak jadi keluar, tidak jadi masuk, menatap dua punggung anaknya yang berdiri sejajar untuk pertama kalinya sejak mereka remaja.
Ia tidak menangis dengan suara. Ia menangis dalam hati, seperti yang ia perintahkan ke pasukan Proyek S dulu — hanya saja kali ini, air matanya jatuh juga ke dua cangkir teh itu, dan ia membiarkannya, karena malam itu ibu itu berhak.
Sebelum pulang, Dave berhenti di ambang pintu, menoleh ke adiknya.
"Undangannya nanti kirim ke alamat baru gue, ya."
Arga mengangguk. "Duduknya di barisan keluarga. Kalau kamu mau."
Dave menatapnya lama, lalu tersenyum — senyum yang kali ini tidak dipoles. "Gue mau."
Pintu itu tertutup. Dan di ruang tamu, Anara menemukan Ayu duduk mematung dengan dua cangkir teh basah, lalu duduk di sampingnya, merangkulnya, dan tidak berkata apa-apa.
Beberapa kemenangan memang paling baik dirayakan dalam diam.