Hari pertama kuliah S2, Anara Clarys Graceva datang ke kampus dengan kemeja rapi, tas kerja, dan satu masalah kecil: separuh kelasnya mengenalinya.
"Bu ... Bu Anara? Yang di artikel itu?" Seorang mahasiswi muda — muda sekali, mungkin dua puluh dua tahun — menatapnya dengan mata bulat. "Yang dari rival jadi mitra itu?"
"... Iya. Tapi di sini panggilnya Anara aja. Kita sekelas."
"Dan yang cowoknya itu, yang dari belakang itu—"
"Sekelas. Fokus. Dosennya masuk."
Menjadi CEO di kelas penuh anak-anak dua puluhan itu ternyata pengalaman yang ... menyegarkan. Tiga hari pertama mereka sungkan. Hari keempat, setelah Anara mentraktir satu angkatan boba saat kerja kelompok, sungkan itu lenyap dan digantikan oleh sesuatu yang jauh lebih berbahaya: keakraban total.
"Kak Anara, menurut lo segmentasi pasar kita—"
"Kak, kalau jadi CEO gimana caranya tidur—"
"Kak, tunangannya beneran yang di majalah itu? Kok bisa dari musuh jadi—"
"Satu pertanyaan satu tugas," jawab Anara, mencoba galak dan gagal.
Kerja kelompok pertama berjalan dengan canggung: empat mahasiswa dua puluhan memperlakukan Anara seperti dosen tamu, menunggu beliau bicara dulu sebelum berani bernapas. Sampai Anara, di menit kelima belas, merebut spidol dan menulis di papan: "Aturan kelompok ini: satu, enggak ada yang manggil saya Ibu. Dua, ide paling goblok didengar duluan. Tiga, yang telat traktir boba."
Kelompok itu meledak tertawa, dan sejak itu mereka jadi kelompok paling berisik di angkatan — dan paling rajin, karena Anara menjalankan kerja kelompok seperti menjalankan perusahaan: deadline jelas, peran jelas, dan evaluasi mingguan.
"Kak Anara ini kalau nge-lead kok enak, ya," bisik salah satu dari mereka.
"Karena dia enggak pernah nyuruh kita jadi dia," jawab yang lain. "Dia nyuruh kita jadi kita, tapi rapi."
Suatu hari, sang dosen meminta Anara maju mempresentasikan studi kasus, dan di akhir sesi beliau bertanya dengan mata berbinar, "Ibu pernah memimpin organisasi?" Satu kelas menjawab serempak sebelum Anara sempat buka suara: "PERNAH, PAK!"
Di luar kampus, sistem pendukungnya bekerja dengan presisi yang ia tidak sadari selama berminggu-minggu.
Setiap Selasa dan Kamis — hari kuliahnya — ada kopi susu yang datang ke meja perpustakaan tempatnya biasa belajar, diantar kurir, dengan catatan yang selalu beda:
"Nilai tugas harus sepuluh. Kurang dari itu, pengirim menolak bertanggung jawab. — Seberang"
"Belajar boleh keras, tidur jangan korban. Jam sebelas saya jemput. Bukan tawaran. — Seberang"
"Kelompok Anda menang presentasi. Saya sudah dengar dari mata-mata saya. — Seberang"
Mata-mata itu, tentu saja, adalah sekretaris Anara sendiri, yang tetap menjalankan tugas gandanya dengan loyalitas yang sudah tidak bisa dibaca arahnya ke mana.
Kedatangan kopi susu itu perlahan menjadi atraksi tersendiri di perpustakaan. Mula-mula satu meja memperhatikan. Lalu satu sudut. Lalu — karena mahasiswa adalah makhluk yang paling cepat membentuk tradisi — terciptalah sebuah ritual: setiap Selasa dan Kamis sore, kursi-kursi di sekitar meja Anara selalu penuh lebih dulu, diisi orang-orang yang pura-pura belajar padahal menunggu kurir.
"Hari ini catatannya apa?"
"Dibaca keras-keras, Kak, boleh enggak?"
"Silakan," ucap Anara pasrah.
Maka catatan hari itu dibacakan keras-keras oleh seorang mahasiswi dengan suara teatrikal: "Belajar boleh keras, tidur jangan korban." Dan satu sudut perpustakaan itu menahan jeritan ke dalam buku masing-masing, sampai petugas perpustakaan datang mengingatkan ketenangan — sambil ikut mengintip catatannya.
"Kak Anara," bisik seorang mahasiswa suatu sore, "tunangan Kakak itu ... emang kerjanya apa, sih, kok bisa serapi itu ngatur kurir?"
"Dia bos. Gedungnya seberang gedungku."
Anak-anak itu menatapnya dengan tatapan orang mendengar dongeng. "Kalian tuh pasangan atau kerajaan tetangga?"
Dan satu malam, jam sebelas lebih empat puluh, Anara tertidur di atas buku tebalnya di perpustakaan kampus — buku statistik, bantal paling tidak nyaman sedunia — dan terbangun oleh suara pelan di sampingnya.
"Nona. Perpustakaannya mau tutup."
Anara membuka mata. Arga berdiri di sana dengan jas yang sudah dilepas, rambut sedikit berantakan, dan dua gelas minuman di tangannya — kopi susu untuknya, dan sesuatu yang hangat untuk dirinya sendiri.
"... Jam berapa?"
"Hampir tengah malam. Anda tertidur empat puluh menit. Dan ya, Anda mengorok sedikit. Perpustakaan ini sekarang punya rahasia Anda."
"ENGGAK. Gue enggak—" Anara setengah berdiri, sadar mereka di perpustakaan, dan menurunkan suaranya jadi bisikan berapi-api, "—gue enggak ngorok! Itu mitos yang lo ciptain sendiri sejak rest area!"
"Klausul satu, Nona. Jujur walau canggung."
Mereka berjalan ke mobil lewat koridor kampus yang sudah sepi, dan Anara menyadari sesuatu di tengah jalan: "Lo tahu gue ada tugas presentasi kemarin. Lo tahu kelompok gue menang. Lo tahu jam tidur gue." Ia berhenti. "Lo ngatur ulang meeting lo, ya? Meeting Selasa-Kamis lo semua geser ke sore. Gue lihat di jadwal bersama kita."
Arga tidak menjawab langsung. Ia membukakan pintu mobil untuk Anara, menutupnya, memutar ke sisi kemudi, dan baru menjawab sambil menyalakan mesin.
"Lampu lantai sepuluh sekarang punya saingan," ucapnya. "Lampu perpustakaan. Saya sudah kalah dari lampu itu sekali seumur hidup saya. Tidak akan dua kali. Jadi sekarang saya memilih jadi supirnya saja — lebih sehat daripada bersaing."
Anara menatap pria itu dari kursi penumpang, dan tidak berkata apa-apa, karena kalau ia bicara malam itu juga, suaranya akan jujur terlalu banyak.
DEG!
Dan keseimbangan baru itu memang diuji terus, seperti semua keseimbangan yang layak. Ada minggu ketika ujian bertabrakan dengan deadline proyek, dan Anara begadang tiga malam berturut-turut sampai Arga turun tangan — bukan melarang, tidak pernah melarang — melainkan dengan mengambil alih dua meetingnya tanpa pamrih dan mengirimkan satu pesan yang jadi penentu: "Meeting saya yang jalan. Ujian Anda yang menangkan. Kita ini aliansi, ingat? Aliansi berbagi beban, bukan berbagi kalender."
Anara membaca pesan itu di sela begadangnya, dan tertawa kecil, dan menang — dua-duanya: ujiannya bagus, meetingnya lancar.
"Lo curang," protesnya malam itu di telepon. "Lo enggak bisa seenaknya jadi gue."
"Saya tidak jadi Anda. Saya jadi cadangan Anda. Itu dua hal yang berbeda, dan bedanya adalah segalanya."
Di kampus itu, sejak malam itu, beredar satu cerita baru di antara anak-anak dua puluhan: bahwa CEO yang paling mereka kagumi itu punya tunangan misterius berjas, yang menjemputnya dari perpustakaan, yang memanggilnya "Nona" seperti memanggil nama, dan yang — kata saksi mata terakhir — mendorong troli bukunya sambil bertengkar kecil soal siapa yang mengorok.
Romansa, kata anak-anak itu, ternyata bentuknya macam-macam.
Dan bentuk yang satu ini, bentuk kopi susu dan jemputan tengah malam, adalah bentuk yang paling mereka iri.