Dua bulan setelah klausul tujuh disahkan di kedai kopi pojok, lamaran resmi keluarga digelar di rumah besar yang dulu sepi itu — di taman belakangnya, yang untuk pertama kalinya dalam sejarah dihuni lebih dari lima orang.
Seratus lima puluh undangan versi kompromi. Damares menghitung kepala dari kursi markasnya dan mengumumkan hasilnya dengan nada peramal yang tidak pernah salah: "Dua ratus tiga. Termasuk tukang katering."
"Pak!" protes Anara dari kejauhan.
"Papah cuma menghitung, Nak. Bukan papah yang mengundang."
Dua mamah itu — Ayu sebagai event organizer resmi (jabatan yang ia cetak di kartu nama dadakan) dan Eva sebagai wakilnya — menjalankan acara dengan presisi yang menakutkan. Ada rundown. Ada gladi resik. Ada tiga lapis koordinasi. Barista kedai kopi pojok didatangkan khusus untuk memimpin meja dessert, dan beliau datang dengan seragam terbaiknya, berdiri di belakang mejanya seperti penjaga kuil.
Gladi resik sehari sebelumnya adalah pertunjukan tersendiri. Ayu berjalan mondar-mandir dengan handy-talkie yang tidak tersambung ke apa pun — beliau membelinya khusus supaya terlihat resmi — sementara Mikhaella membaca rundown dengan suara pembawa acara.
"Pukul sembilan, tamu datang. Pukul sepuluh, prosesi. Pukul sebelas, seserahan. Ada pertanyaan?"
"Ada," ucap Damares dari kursinya. "Kapan makan?"
"Pukul dua belas, Pak. Sabar."
"Dicatat. Papah bertahan sampai pukul dua belas. Setelah itu papah tidak janji."
Dan di pojok taman, sang barista mengatur mejanya dengan hati-hati: di tengah meja dessert, ia meletakkan satu bingkai kecil — foto tisu klausul tujuh — dengan label: "Dokumen pendiri. Dilarang disentuh. Boleh ditangisi."
Dan sang satpam?
Sang satpam diundang sebagai tamu kehormatan. Beliau datang dengan seragam yang disetrika tiga kali — Anara tahu karena beliau bilang sendiri, dengan bangga, kepada setiap orang yang lewat — dan membawa buku catatan kecilnya, yang hari itu dibukanya di halaman baru: "Hari Lamaran. Saya hadir. Saya saksinya."
Yang paling riuh, tentu saja, adalah kedatangan pasukan tante-tante — pasukan yang sama yang dulu mengepung Anara di nikahan Arabela dengan tawaran anak dokter.
Mereka masuk ke taman itu seperti rombongan tur, dan berhenti serempak ketika melihat siapa yang berdiri di samping Anara.
"Ini ... ini yang waktu itu!" Salah satu tante menunjuk Arga dengan tangan gemetar. "Partner bisnis yang sopan dan ganteng! Yang nanyain gaun tante dari desainer mana!"
"Jadi dari lorong hotel itu?!" seru tante yang lain. "Dari nikahannya Arabela?!"
"Keluarga kita sudah ngerumpiin dia seminggu penuh, Nak," ucap tante ketiga kepada Anara dengan nada menuntut. "Seminggu penuh! Dan dia sudah jadi inceran kamu dari situ?!"
Arabela, yang berdiri di belakang pasukan itu dengan suaminya, mengangkat tangannya seperti mengakui kejahatan. "Gue sudah bilang dari malam itu! Muka mereka berdua di lorong itu enggak bisa bohong! Gue saksi pertama! Gue minta dicatat sejarah!"
"Dicatat," jawab Mikhaella, kepala protokol, sambil benar-benar mencatat di buku lognya.
Acara intinya sendiri berjalan dengan haru yang tertata: keluarga Arga datang membawa seserahan — diwakili Ayu sendiri di barisan depan, karena memang dialah satu-satunya barisan — dan cincin nenek itu disematkan kembali secara resmi, kali ini di depan semua orang, diiringi isak kompak dua mamah dan satu kepala protokol.
Seserahannya sendiri menjadi bahan pembicaraan satu taman. Isinya bukan barang-barang mahal pamer harga, melainkan barang-barang yang dipilih dengan presisi intelijen: kain batik halus untuk Eva, koran edisi khusus langka untuk Damares — yang membuat papah itu mengangkat koran barunya seperti piala — dan satu dus besar berlogo toko kopi susu langganan, berisi persediaan sebulan, dengan kartu bertuliskan: "Bahan bakar calon pengantin. Dari keluarga seberang."
"Itu ide siapa?" tanya Anara, tertawa.
"Ide bersama," jawab Ayu, mata melirik anak bungsunya yang berdiri kaku dengan telinga merah. "Tapi yang nulis kartunya anak Ibu. Dia belajar humor. Terlambat dua puluh tujuh tahun, tapi belajar juga."
Pak Handoko berdiri memberikan sambutan sebagai saksi duo, dan sambutannya dimulai dengan kalimat yang langsung membuat satu taman tertawa dan menangis bersamaan:
"Saya ini sudah tiga puluh tahun di dunia bisnis. Saya sudah lihat ribuan kemitraan. Tapi baru kali ini saya lihat kemitraan yang dimulai dari perang dingin dua gedung ... dan berakhir di satu taman." Ia mengangkat gelasnya. "Untuk duo ini. Gula dan kopi. Yang berpisah itu sia-sia, yang bersatu itu nikmat."
"UNTUK DUO!" seru satu taman, dipimpin dua anak magang yang entah sejak kapan memegang spanduk kecil bertuliskan "PROYEK SEBERANG: SELESAI DENGAN SUKSES".
Di tengah semua itu, Anara menyelinap ke balkon — balkon yang sudah jadi markas rahasia mereka — dan dua menit kemudian Arga menyusul, membawa dua gelas es teh curian dari meja dessert.
"Lolos lagi," ucap Anara, menyandarkan punggung ke pagar balkon.
"Kita ini mempelai atau buronan?" Arga berdiri di sampingnya, menatap taman yang penuh orang dari ketinggian.
"Dua-duanya. Kayak biasa." Anara menatap cincin di jarinya, yang hari ini rasanya lebih berat dari biasanya — berat yang menyenangkan. "Lo sadar enggak, semua orang di bawah sana itu pernah kita kira musuh atau penonton. Sekarang mereka jadi ... keluarga versi rame."
"Termasuk satpam Anda."
"Satpam KITA, Pak. Mulai hari ini beliau aset bersama."
Arga tertawa kecil, dan mereka berdiri di sana dua menit lagi — dua menit curian di tengah pesta mereka sendiri — sebelum suara Mikhaella menggelegar dari bawah lewat pengeras suara yang entah dari mana ia dapatkan:
"MEMPELAI BERDUA! TURUN! SESI FOTO! INI RUNDOWN, BUKAN MAIN-MAIN!"
"Kepala protokol lo galak," komentar Arga.
"Kepala protokol KITA," koreksi Anara, menarik tangannya turun. "Aset bersama, ingat?"
Malam itu, ketika dua ratus tiga kepala sudah pulang dan taman besar itu kembali sunyi, Ayu duduk sendirian di kursi taman, menatap sisa-sisa dekorasi, dengan wajah orang yang sudah selesai menabung sesuatu yang sangat lama.
Rumah itu sudah penuh. Tugasnya sebagai mak comblang sudah selesai.
Di dapur, dua mempelai yang baru resmi itu mencuci piring berdampingan — tradisi baru yang dimulai tanpa ada yang memerintah — sambil saling melaporkan korban jiwa malam itu.
"Tante Sari minta foto sama cincinnya tujuh kali."
"Pamannya Om Damares menawariku jadi konsultan keluarga."
"Pak Handoko nyanyi."
"Pak Handoko selalu nyanyi. Itu bukan berita, itu cuaca."
Mereka tertawa di antara bunyi piring, dan dari ambang pintu dapur, Ayu menatap pemandangan itu — dua anak itu, satu wastafel, tawa kecil — dan memutuskan malam ini sempurna. Tidak perlu ditambah apa-apa lagi.
Sekarang tinggal satu acara besar lagi — dan dua mamah itu sudah membuka kalender mereka bahkan sebelum puing-puing lamaran selesai dibereskan.