Sabtu pagi, kota kecil bernama dua gedung itu bangun dalam keadaan geger.
Foto tisu klausul tujuh sudah berputar di grup "Proyek Seberang" sejak semalam, dan Sabtu pagi itu grup itu meledak dengan cara yang hanya bisa dicapai oleh ratusan karyawan yang sudah mempertaruhkan uang dan harapan selama berbulan-bulan.
Pemenang taruhan diumumkan pukul sembilan pagi oleh panitia: seorang anak magang — selalu anak magang — yang memasang "di kedai kopi, sebelum akhir tahun, pakai sesuatu yang ditulis tangan" dengan taruhan lima puluh ribu rupiah dan keyakinan yang tidak bergeming.
"Kalian bisa menang karena detail," komentar Anara saat sang pemenang dielu-elukan di kantin Seninnya. "Gue mau tahu satu hal: dari mana lo yakin dia ngelamar pakai tulisan tangan?"
"Karena mereka berdua itu, Bu," jawab anak magang itu, sudah kebal dimarahi, "orang paling formal yang pernah ada. Orang formal kalau jatuh cinta pasti romantisnya lewat dokumen."
Tidak ada yang bisa membantah logika itu.
Sang satpam, yang kalah taruhan dengan selisih satu minggu — ia memasang tanggal yang salah, tempat yang benar — menerima kekalahannya dengan lapang dada seorang filsuf, dan menulis di buku catatannya: "Saya kalah taruhan. Tapi saya benar soal dua orang ini sejak awal. Itu yang saya catat. Sejarah yang menilai." Lalu, karena satpam itu tidak pernah setengah-setengah, beliau menambahkan satu baris lagi di bawahnya: "Catatan pribadi: malam Jumat itu saya menangis. Tidak perlu masuk berita acara."
Pak Handoko, begitu mendengar kabar itu, menelepon kedua mempelai secara bergantian dan menyampaikan pidato yang sama persis dua kali: "Saya sudah bilang! Gula dan kopi! SEGELAS!" Lalu ia mengirim karangan bunga ke dua gedung — satu untuk Anara, satu untuk Arga — dengan kartu yang sama di keduanya: "Untuk duo. Dari saksi duo yang resmi menjabat seumur hidup."
Dan di tengah semua keriuhan itu, satu pesan masuk ke ponsel Anara pada Minggu pagi, dari nomor yang sudah lama diam.
"Denger beritanya. Selamat, Ra. Lo pantas dapetin yang kayak gini — orang yang ngelamar lo pakai cara yang cuma bisa dipikirin sama orang yang bener-bener kenal lo. — Dave"
Pesan yang sama masuk ke ponsel Arga, dengan satu tambahan kalimat:
"Selamat, Dek. Lo menang. Dan untuk pertama kalinya, gue seneng lo yang menang. Beneran."
Arga menatap pesan itu lama. Lalu, dengan jari yang sempat berhenti dua kali, ia membalas:
"Makasih. Kalau acara nanti, pulanglah. Ibu pasti senang rumahnya penuh."
Dua bersaudara itu tidak langsung baikan — luka dua puluh tujuh tahun tidak sembuh dengan dua pesan. Tapi pagi itu, satu pintu yang sudah lama terkunci dibuka sedikit. Hanya sedikit. Tapi beberapa pintu memang hanya perlu dibuka sedikit untuk membiarkan cahaya masuk.
***
Minggu sore, rapat keluarga pertama digelar di rumah besar, dan di sanalah perang sesungguhnya dimulai. Bukan perang antara Anara dan Arga — mereka sudah gencatan senjata permanen — melainkan perang antara dua mempelai dan dua mamah.
Isunya: skala acara.
"Sederhana saja, Mah," ucap Anara tegas. "Kami berdua sepakat. Lamaran resmi keluarga, makan-makan, selesai."
"Sederhana itu ada levelnya, Nak," jawab Eva, mengeluarkan — akhirnya, dengan penuh kemenangan, setelah berminggu-minggu berpura-pura — kalender yang penuh coretan itu. "Level mamah-mamah itu beda sama level anak muda. Versi kamu sederhana itu lima puluh orang. Versi kami sederhana itu ... tiga ratus."
"TIGA RATUS?!"
"Itu sudah kami pangkas dari lima ratus, Nak," timpal Ayu, dengan nada seorang negosiator ulung. "Kami sudah berkorban. Kamu harus menghargai pengorbanan ibu-ibu."
Arga, yang sejak tadi diam mengamati dengan strategi seorang CEO, akhirnya angkat suara. "Usul kompromi: seratus lima puluh. Tapi dengan satu syarat yang tidak bisa ditawar."
Dua mamah itu mencondongkan badan dengan mata berbinar.
"Semua keputusan akhir tetap di kami berdua. Kalian boleh merancang, kami yang menandatangani." Ia menatap dua wanita itu satu per satu. "Kami sudah punya pengalaman buruk dengan kontrak yang ditulis pihak lain."
"Deal!" Ayu dan Eva bertepuk tangan serempak, dengan kecepatan yang menunjukkan bahwa target mereka memang seratus lima puluh sejak awal, dan angka tiga ratus itu hanya taktik pembuka.
"Kita baru saja dinegosiasikan oleh anak-anak kita sendiri," bisik Eva.
"Dan rasanya ... membanggakan," bisik Ayu balik, sambil menyeka sudut matanya.
Damares, dari kursi markasnya, mengangkat tangannya seperti wasit. "Papah netral. Tapi papah mau mencatat untuk sejarah: seratus lima puluh orang itu nanti jadinya dua ratus. Ingat kata papah."
Semua menatapnya.
"Pengalaman," ucap Damares singkat, dan kembali ke korannya dengan wibawa seorang peramal yang sudah selesai meramal.
***
Malam itu, ketika semua rapat usai dan rumah besar kembali tenang, Anara dan Arga berdiri di balkon yang sama — balkon tempat jaket berpindah bahu dan janji-janji kecil diucapkan pelan.
Cincin nenek itu berkilau kecil di jari Anara, tertimpa cahaya lampu taman.
"Jadi," ucap Anara, memandanginya. "Resmi. Tunangan."
"Resmi. Tunangan." Arga mengangguk, seolah mencicipi dua kata itu dan mendapati rasanya lebih baik dari semua kata yang pernah ia ucapkan di rapat mana pun. "Langkah berikutnya: lamaran resmi keluarga, seratus lima puluh orang versi kompromi. Lalu kamu S2. Lalu ..."
"Lalu nikah. Tahun depan." Anara menatap taman. "Gila, ya. Setahun lalu gue masih berantem sama lo soal tender."
"Setahun lalu saya masih menulis evaluasi lima halaman karena tidak tahu cara bilang kagum." Arga berdiri di sampingnya, bahu mereka bersentuhan dengan nyaman. "Tahun depan saya menikah dengan rival saya. Kalau ada yang menulis cerita ini, orang pasti bilang tidak masuk akal."
"Biarin. Cerita kita memang enggak masuk akal dari awal." Anara menyandarkan kepalanya ke bahu pria itu. "Mulai dari kopi susu, sandal jepit, tender, tisu ... semuanya enggak masuk akal. Dan semuanya jalan."
Di dalam rumah, dua mamah mengintip dari balik tirai dengan kompak, sampai diseret pergi oleh Mikhaella yang sudah resmi mengangkat dirinya sebagai kepala protokol hubungan mereka.
"Bu, Ibu, ayo. Kasih mereka lima menit. Lima menit aja. Habis itu boleh ngintip lagi."
"Kamu ini kepala protokol atau mak comblang junior?"
"Dua-duanya," jawab Mikhaella bangga. "Saya serba bisa. Kalian yang nemuin mereka, saya yang ngitungin mereka. Kita semua punya peran dalam sejarah ini."
Dan malam itu, rumah besar yang dulu sepi itu tidur dengan bahagia, karena besok masih ada rapat, masih ada kalender, masih ada seratus lima puluh undangan yang menunggu untuk dicetak.
Perang sudah selesai, Saudara-saudara.
Yang tersisa hanya persiapan pernikahan — yang, kalau kalian kenal dua mamah itu, mungkin adalah bentuk perang yang lain sama sekali.