Kedai kopi pojok itu tampak normal dari luar. Itu pencapaian luar biasa, mengingat di dalamnya ada sebelas orang yang bersembunyi dengan kualitas bersembunyi yang beragam: dua mamah di ruang belakang dengan Damares yang berdiri paling diam, Mikhaella dan barista di balik konter, Pak Handoko di balik koran yang terbalik tanpa ia sadari, dua anak magang di balik tanaman hias, dan satu satpam berseragam terbaik yang berdiri kaku di sudut seperti bagian dari interior.
Sepuluh menit sebelum target tiba, kepanikan kecil itu nyaris meruntuhkan seluruh operasi.
"Dia jalan kaki! Dari gedungnya! Perkiraan tiba delapan menit!" lapor Mikhaella dari balik konter, membaca pelacak yang dibuatnya sendiri dari riwayat chat — jangan tanya bagaimana, kepala intelijen punya caranya.
"Pak Handoko, korannya kebalik!" desis Ayu dari ruang belakang.
"Saya sudah tua, saya memang suka baca terbalik!" balas Pak Handoko, panik, dan membalik korannya dengan suara berisik yang membuat semua orang menoleh dengan horror.
"Sunyi! SUNYI!" komando Ayu. "Anak-anak magang, jangan bernapas keras-keras!"
"Kami berusaha, Jeng!" bisik dua anak magang dari balik tanaman hias, salah satunya sudah menangis sebelum apa-apa terjadi.
Dan sang satpam, di sudutnya, menegakkan badan seperti prajurit upacara, berbisik pada dirinya sendiri: "Sepuluh tahun saya jaga gedung. Malam ini puncak karier saya."
Anara masuk pukul tujuh kurang dua menit. Tepat waktu, sesuai janji.
Arga sudah duduk di meja pojok. Jasnya rapi. Di atas meja ada dua gelas yang sudah dipesan: kopi hitam dan kopi susu. Semuanya tampak seperti evaluasi mingguan biasa.
"Wow, mejanya dipesan-in," komentar Anara, menunjuk tanda kecil "Dipesan" di meja. "Dia mulai nge-charge kita, ya?"
"Dia mulai menghargai sejarah," jawab Arga. "Duduk, Nona. Kita mulai evaluasinya."
Maka evaluasi itu berjalan seperti biasa, dan Arga harus diberi penghargaan khusus karena menjalankannya dengan wajah lurus selama dua puluh menit penuh. Mereka membahas minggu yang berjalan: proyek, S2 yang akan mulai, rencana makan malam keluarga, sampai perdebatan kecil soal siapa yang harusnya membayar boba traktiran kantin kemarin.
Semua normal. Terlalu normal.
"Oke. Agenda minggu ini selesai." Anara menutup buku catatannya. "Ada lagi?"
"Ada." Arga menarik napas — dan Anara melihatnya, melihat napas itu, melihat tangan pria itu yang sedikit tidak stabil saat merapikan map kulitnya. "Satu agenda tambahan. Usul klausul baru."
Anara mengangkat alis. "Klausul baru? Kontraknya kan sudah—"
Arga meletakkan sesuatu di atas meja. Tisu kontrak mereka yang terlaminating, enam klausul, dua tanda tangan. Lalu di sebelahnya, selembar tisu baru, bersih, dengan satu tulisan tangan yang tegak dan hati-hati.
Anara membacanya.
"Klausul tujuh: Menikah dengan saya. Berlaku seumur hidup. Tidak ada evaluasi ulang, tidak ada klausul keluar, tidak ada kata selesai."
Kedai kopi itu berhenti berputar.
Anara membaca kalimat itu sekali. Dua kali. Tiga kali. Tangannya bergerak menutup mulutnya, dan ketika ia mengangkat wajahnya, Arga sudah berdiri di samping meja, memegang satu kotak kecil beludru tua yang terbuka — cincin sederhana dengan batu kecil yang hangat warnanya, cincin yang sudah menunggu puluhan tahun untuk rumah yang ramai.
"Saya menyiapkan pidato tiga hari," ucap Arga, dan suaranya — suara yang bisa membekukan ruang direksi — bergetar di ujung-ujungnya, "dan sekarang saya lupa semuanya. Jadi saya pakai kalimat yang tidak perlu disiapkan. Anara. Saya tidak bisa berjanji kita tidak akan pernah bertengkar. Kita pasti akan bertengkar, mungkin besok pagi, mungkin soal rendang. Tapi saya berjanji satu hal yang bisa saya jaga seumur hidup: saya tidak akan pernah pergi tanpa pamit. Tidak pernah. Menikah dengan saya."
Di balik konter, terdengar suara isakan yang gagal ditahan — Mikhaella, tentu saja, menangis keluar seperti yang sudah ia ramalkan sendiri.
Anara berdiri. Matanya basah, dan ia tertawa di tengah basahnya, tertawa lepas seperti orang yang menang lotre yang sudah ia ketahui nomornya.
"Lo ngelamar gue ... pakai klausul?"
"Anda yang menulis aturan mainnya, Nona. Saya hanya mengikuti standar yang Anda tetapkan." Arga menatapnya, dan seluruh dindingnya runtuh tanpa sisa. "Jadi. Jawabannya?"
"Iya." Anara mengangguk, mengusap matanya, tertawa lagi. "Ya Tuhan. Iya, Arga. Jawabannya iya. Dari sebelum kamu nanya, kalau mau tahu."
Dan begitu cincin nenek itu melingkar di jari Anara, ruang belakang kedai kopi itu meledak.
Sebelas orang keluar dari persembunyian masing-masing dengan tingkat kerapihan yang beragam. Ayu dan Eva keluar sambil menangis berangkulan. Mikhaella melesat dari balik konter dan memeluk Anara sampai keduanya hampir jatuh. Pak Handoko melempar korannya yang terbalik ke udara sambil berteriak "DUO ITU RESMI SEGELAS!". Dua anak magang terjerat tanaman hias. Sang barista mengangkat nampan seperti mengangkat trofi. Damares berjalan paling belakang, paling tenang, dan memeluk putrinya dengan pelukan seorang papah yang kata-katanya tidak pernah banyak tapi selalu pas.
"Kalian ... kalian semua di sini?" Anara berputar pelan, menatap satu per satu wajah yang keluar dari balik konter, tanaman, dan koran. "Berapa lama kalian— MIK. Sejak kapan?!"
"Sejak dua minggu lalu, Ra. DUA MINGGU. Gue jadi agen ganda, nulis buku log, bohongin lo tiap sore—" Mikhaella terisak bangga, "—dan semua worth it! SEMUA WORTH IT!"
"Vendor itu enggak ada, kan?"
"Vendornya fiktif. Baksonya nyata. Panjang ceritanya."
Anara menatap sekretarisnya, yang mengangkat kedua tangan tanpa dosa. Menatap dua anak magang yang masih berduel dengan tanaman hias. Menatap satpam yang memberi hormat dengan mata berkaca. Lalu menatap Arga, yang berdiri di tengah semua kekacauan itu dengan senyum paling tidak formal yang pernah diproduksi wajahnya.
"Lo bawa satu kota buat ngelamar gue."
"Cuma kota kecil, Nona. Kota besar belum saya beri tahu."
"Anak papah resmi jadi investasi yang untung," bisiknya, dan tidak ada yang paham kecuali Arga, yang membungkuk dalam padanya.
Sang satpam menghampiri dua mempelai — sebutan itu sudah dipakai resmi malam itu juga, diproklamirkan Ayu — menjabat tangan mereka berdua dengan khidmat, lalu berbisik dengan suara bergetar: "Saya tahu dari awal, Bu, Pak. Saya kan mantau CCTV tiap hari. Saya sudah lihat ini dari bapak ibu masih berantem soal parkiran."
Malam itu ditutup dengan foto bersama: dua mempelai di tengah, dikelilingi sebelas orang saksi paling berisik sedunia, di depan meja pojok yang bertanda "Dipesan".
Dan di atas meja itu, tisu terlaminating dan tisu baru berdampingan — kontrak lama dan kontrak seumur hidup — difoto oleh Mikhaella, diunggah ke grup "Proyek Seberang" oleh dua anak magang dengan izin resmi, dan dalam waktu sembilan menit, satu kota kecil itu merayakannya seperti merayakan kemenangan nasional.
Klausul tujuh disahkan malam itu. Tanpa notaris. Tanpa birokrasi.
Hanya dengan tisu, cincin nenek, dan saksi-saksi yang menangis paling kompak dalam sejarah kedai kopi itu.