Sebelum Jumat itu tiba, ada satu kunjungan yang harus dilakukan Arga lebih dulu. Kunjungan yang tidak masuk timeline Proyek S, karena kunjungan ini bukan bagian dari strategi — melainkan bagian dari menjadi manusia.
Rabu malam, ia datang sendirian ke rumah keluarga Anara. Tidak membawa tim, tidak membawa papan rencana. Hanya membawa rantang rendang pesanan dari dapur ibunya dan satu kalimat yang sudah ia siapkan selama seminggu.
Damares menerimanya di teras belakang, di antara pot-pot tanaman, dengan dua gelas teh yang sudah ia siapkan — seolah papah itu sudah tahu dari kemarin siapa yang akan datang malam ini.
"Duduk, Nak. Tehnya diminum dulu. Kalau mau bicara penting, jangan dengan tenggorokan kering."
Mereka duduk. Arga menyesap tehnya. Lalu pria yang bisa bernegosiasi dengan investor paling keras di kota itu tanpa berkeringat, meletakkan gelasnya dengan tangan yang sedikit tidak stabil.
"Om. Waktu itu Om bilang, kalau suatu hari saya mau minta sesuatu yang lebih besar dari izin pacaran, saya tidak perlu takut datang." Ia menarik napas. "Malam ini saya datang untuk itu. Saya mau melamar Anara. Jumat ini. Dan saya datang meminta restu Om dan Tante."
Damares menatapnya lama. Dari dalam rumah, terdengar suara piring yang terjatuh — pelan, disusul bisikan panik Eva yang tidak berhasil dipelankan, karena tentu saja mamah itu menguping dari dapur.
Damares tidak menoleh ke arah suara itu. Ia menyesap tehnya dengan tenang, menatap tamannya, lalu bicara dengan nada orang menyampaikan ramalan cuaca.
"Papah sudah menyiapkan jawaban ini sejak malam kamu makan di sini pertama kali." Ia menoleh ke Arga. "Jawabannya iya, Nak. Iya, dengan senang hati. Papah cuma mau titip satu hal: anak papah itu kalau mencintai, dia mencintai pakai seluruh hidupnya. Dia enggak tahu caranya setengah-setengah. Jadi kalau kamu lelah suatu hari — dan akan ada hari kamu lelah, karena kalian berdua sama-sama keras — ingat malam ini. Inget kamu datang ke sini sendirian, bawa rendang, tanganmu gemetar. Itu artinya kamu serius. Jangan pernah lupa kamu pernah seserius ini."
Arga menunduk dalam. "Saya akan ingat, Om."
"Panggilannya mulai malam ini boleh diganti," ucap Damares, bangkit dari kursinya. "Om itu terlalu jauh. Pah — belum, itu nanti setelah sah. Pakai ... Pak saja dulu, sambil jalan. Atau Papah Pinjam."
"Papah Pinjam?"
"Pinjam dulu sampai resmi." Damares tersenyum kecil. "Papah suka kata-kata itu. Kedengarannya seperti investasi yang pasti untung."
Dan dari balik pintu dapur, Eva akhirnya menyerah pada pengupingannya, keluar dengan mata merah basah, dan memeluk Arga dengan dramanya seorang ibu yang sudah menunggu momen ini sejak makan siang dua keluarga yang penuh jebakan itu.
"Anakku bungsu pinjaman!" isaknya, tidak masuk akal sama sekali. "Tante sudah tahu! Tante sudah tahu dari awal!"
***
Di hari yang sama, di dapur apartemen Anara, percakapan paralel sedang terjadi dengan arah yang berlawanan.
Anara menatap mamahnya yang datang membawa bahan masakan — Eva sekarang punya jadwal masak di apartemen Anara dua kali seminggu, karena "kulkas kamu itu memprihatinkan, Nak" — dan akhirnya mengeluarkan kalimat yang sudah tiga hari berputar-putar di kepalanya.
"Mah. Kalau — kalau, ya — suatu hari nanti, Arga nanya hal yang itu ... gue mau jawab iya."
Eva berhenti mengupas bawang.
"Gue tahu kedengarannya cepet. Tapi enggak cepet, Mah. Gue kenal dia lebih dari setahun, dan satu tahun itu isinya lebih penuh dari lima tahun hidup gue sebelumnya. Gue pernah salah percaya sama orang yang manis mulutnya. Sekarang gue sama orang yang enggak bisa manis tapi enggak pernah bohongin satu hal pun dari gue. Kalau dia nanya ... gue mau jawab iya. Gue cuma mau mamah denger itu dari gue langsung, bukan dari kalender yang mamah sembunyiin di tas."
Eva menatap putrinya, dan tasnya yang memang berisi kalender itu tiba-tiba terasa sangat berat di kursi.
"Anakku," ucap Eva akhirnya, dengan suara yang pecah pelan, "sudah tahu jawabannya sebelum pertanyaannya ada. Itu namanya bukan cepet. Itu namanya yakin." Ia menyeka matanya dengan lengan, lalu tertawa kecil. "Mamah enggak akan bilang apa-apa. Mamah cuma mau bilang: kamu pilih orang yang tepat, Nak. Mamah nggak pernah seyakin ini — bahkan waktu mamah yakin kamu bakal menang lomba mewarnai."
"Yang gue kalah dan nangis seminggu itu, Mah?"
"Itu mah lomba mewarnainya yang salah nilai."
***
Di rumah besar, Ayu menjalankan bagiannya dalam Proyek S dengan efisiensi seorang komandan lapangan: mengoordinasikan daftar saksi.
Daftarnya pendek, sesuai prinsip yang disepakati — Anara tidak suka tontonan besar. Tapi pendek bukan berarti tidak penting: Mikhaella (kepala intelijen), Eva dan Damares (keluarga mempelai perempuan, begitu Ayu menuliskannya, dan tidak ada yang berani mengoreksi kata mempelai), Ayu sendiri (keluarga mempelai laki-laki, sambil menangis menuliskannya), sang barista (pemilik venue sekaligus saksi sejarah tisu), sang satpam (saksi lapangan, datang dengan seragam terbaiknya), Pak Handoko (yang mengangkat teleponnya sebelum nada kedua dan menjawab "SAYA DATANG" sebelum diundang), dan dua perwakilan anak magang yang dipilih lewat undian paling menegangkan dalam sejarah kantin.
"Semua harus sudah di dalam sebelum target tiba," brief Ayu di grup rahasia itu. "Tidak ada yang bersuara. Yang menangis, menangislah dalam hati."
"Ibu," balas Mikhaella, "gue enggak bisa menangis dalam hati. Gue menangis keluar. Itu bakat gue."
"Kalau gitu bawa tisu dua. Bukan tisu kontrak — itu sudah jadi pusaka. Tisu biasa."
Dan Kamis malam, semua benih itu mulai terasa dari sisi Anara. Sekretarisnya tersenyum tanpa alasan. Satpam menyambutnya Kamis pagi dengan hormat yang terlalu panjang. Mikhaella mengirim emoji-emoji acak tanpa konteks. Bahkan kaktus di rak kerja Arga tampak mencurigakan, walau Anara sadar mencurigai tanaman adalah tanda ia perlu tidur.
Kamis malam, ia menyerah dan mengirim pesan ke "Seberang":
"Lo mau ngapain sih besok? Semua orang aneh."
Balasan datang satu menit kemudian, tenang seperti biasa:
"Evaluasi mingguan, Nona. Sesuai klausul lima. Datang saja. Jam tujuh. Jangan telat — biasanya Anda yang telat, dan besok ... besok saya minta Anda tepat waktu."
Anara menatap pesan itu. Ada sesuatu di nada tulisannya yang berbeda. Sesuatu yang hangat dan gugup di saat bersamaan, seperti seseorang yang berdiri di depan pintu besar sambil merapikan napas.
"Oke," balasnya. "Gue dateng tepat waktu. Sekali ini aja, jangan biasa-biasain."
Dan Jumat malam itu, Anara Clarys Graceva berjalan ke kedai kopi pojok dengan tepat waktu, tidak tahu bahwa di dalam sana, satu kota kecil sedang menahan napas — dan satu lembar tisu sedang menunggu untuk mengubah hidupnya.