Minggu itu berjalan seperti novel mata-mata yang ditulis oleh orang komedi.
Anara membuntuti Arga sekali — dengan kacamata hitam dan topi, Saudara-saudara, seolah dua benda itu bisa menyamarkan CEO yang wajahnya baru saja masuk majalah. Arga menyadarinya dalam waktu empat menit, tidak menegurnya, dan dengan sengaja berjalan memutar tiga blok sebelum berhenti di satu tempat yang ia pilih khusus: toko kopi susu.
Anara, yang membuntuti dari kejauhan, mendapati dirinya tiba-tiba disodori segelas kopi susu oleh pacarnya yang entah sejak kapan berdiri di sampingnya.
"Kurang manis hari ini," komentar Arga datar. "Dan Anda perlu penyamaran yang lebih baik. Topi itu tidak menyembunyikan rambut curly yang sudah satu kota hafal."
"... Gue enggak lagi nguntit. Gue lagi jalan."
"Ke arah yang sama dengan saya, tiga blok, sambil menunduk."
"Kebetulan."
"Klausul satu," kata Arga lembut. "Jujur, walau canggung."
Anara menurunkan kacamata hitamnya, menyerah. "Lo lagi nyiapin sesuatu. Gue tahu. Semua orang aneh. Lo batalkan meeting, sekretaris gue senyum-senyum sendiri, dan Mikhaella—" ia berhenti.
"Mikhaella kenapa?"
"Mikhaella enggak bisa nyimpen rahasia dari gue. Tiga hari ini dia bisa. Itu yang paling serem."
Kegagalan pembuntutan itu tidak membuat Anara menyerah. Keesokan harinya ia menaikkan level: mendelegasikan.
Seorang anak magang dikirim mengikuti Arga saat jam makan siang, dibekali misi sederhana: catat ke mana bos seberang itu pergi. Anak magang itu kembali dua jam kemudian dengan wajah orang yang telah melihat sisi lain kehidupan.
"Gimana?" tanya Anara.
"Bu ... saya ditangkap satpam gedung seberang di menit ketiga." Anak magang itu menelan ludah. "Dan Bapak satpamnya malah ngajak saya makan bakso. Terus nanya-nanya ... soal Bu Anara sukanya bunga apa. Saya pulang bawa bakso dan kebingungan, Bu. Saya merasa sudah membelot dua kali dalam satu jam."
Anara memijit pelipisnya. Pasukannya dibeli pakai bakso. Perang intelijen memang kejam, dan musuhnya punya satpam yang jago merekrut.
Di markas Proyek S, Mikhaella menjalankan peran gandanya dengan kualitas yang layak diberi penghargaan. Setiap sore ia menelepon Anara, mendengarkan kecurigaan sahabatnya, menenangkan dengan informasi palsu yang elegan ("dia lagi ada masalah vendor, Ra, sumpah, jangan kepo"), lalu melapor ke Arga dengan kecepatan kilat: "Target curiga ke arah vendor. Ulangi: vendor. Aman."
Mikhaella bahkan membuat buku log operasi, diberi judul besar "Catatan Kontra-Intelijen", yang halaman pertamanya hanya berisi satu baris: "Hari ke-1: Target masih menduga vendor. Saya jenius." Halaman keduanya, ditulis tiga hari kemudian dengan tulisan yang jauh lebih panik: "Hari ke-4: Target menduga saya selingkuh dengan pacarnya sendiri. Saya bukan jenius. Saya kacang yang terjepit."
Sampai satu malam, laporannya berbeda.
"Pak. Situasi berkembang. Teori terbaru si target bukan vendor." Mikhaella terdengar menahan sesuatu. "Dia sekarang curiga kita berdua ... selingkuh."
Di apartemennya, Arga terdiam tiga detik penuh. "Bagaimana dia bisa sampai ke sana."
"Pak, perempuan itu membangun perusahaan dari kamar kos. Otaknya itu lari kenceng banget kalau datanya sedikit. Lo kasih dia data sedikit, dia bikin satu universe."
Krisis nyaris meledak Kamis malam, di apartemen Arga.
Anara datang membawa makan malam — kebiasaan baru mereka, bergantian siapa yang menyerbu dapur siapa — dan saat Arga ke kamar mandi, matanya menyapu ruangan dan berhenti di rak kerja, di samping pot kaktus kecil itu.
Sebuah kotak kecil. Beludru tua.
Jantung Anara berhenti sepersekian detik. Tangannya setengah terangkat—
"Nona." Suara Arga dari belakang, dengan kecepatan langkah yang tidak manusiawi. "Dokumen kantor. Jangan dibuka. Rahasia perusahaan."
Anara berbalik pelan, menatap pacarnya yang berdiri dengan handuk di leher dan ekspresi yang ia jaga terlalu datar, lalu menatap kotak itu lagi, lalu menatap kaktus yang menyaksikan semuanya tanpa berkomentar.
"... Oke," ucapnya akhirnya, menarik tangannya. "Dokumen kantor. Di rak rumah. Di samping kaktus. Gue percaya."
"Anda tidak percaya."
"Enggak." Anara tersenyum manis. "Tapi gue menghargai usaha."
Mereka makan malam dengan normal setelah itu, walau satu orang makannya sambil menyimpan sejuta pertanyaan dan satu orang lagi makannya sambil berdoa kotak itu tidak dibahas lagi. Kaktus kecil itu, sebagai satu-satunya saksi yang netral, memilih diam — seperti biasa, kaktus memang paling bisa menjaga rahasia.
Di rumah keluarga Anara, pertahanan rahasia juga nyaris jebol dari arah yang tidak disangka: Eva.
Makan malam Kamis itu, Anara pulang ke rumah orang tuanya, dan Eva menghabiskan semalaman dengan wajah orang yang menyimpan kembang api di mulutnya. Setiap kali topiknya mendekat, Damares menaikkan korannya lebih tinggi.
"Mah kenapa senyum-senyum?"
"Enggak kenapa-kenapa. Mamah senang aja. Hidup itu indah, Nak."
"Papah, Mamah kenapa?"
"Papah tidak tahu apa-apa." Damares membalik halaman koran yang sama untuk ketiga kalinya. "Papah tidak mau tahu apa-apa. Papah mau hidup tenang. Koran ini bagus. Beritanya ... tanggal tua semua, tapi tetap bagus."
"Kalian semua aneh," putusan Anara.
Di sela semua kekacauan itu, ada satu berita baik yang datang dengan amplop resmi: Anara diterima di program S2 yang sudah lama ia incar. Surat penerimaan itu tiba Jumat sore, dan Anara membacanya tiga kali sebelum suaranya kembali.
Akhir pekan itu, suratnya dibawa pulang ke rumah keluarga dan dibacakan keras-keras di meja makan. Eva menangis sebelum kalimat pertama selesai. Damares membacanya dua kali, mengangguk pelan, dan berkata dengan kalem, "Papah selalu bilang: anak papah ini bukan cuma bisa bangun perusahaan. Dia juga jago bikin mamahnya nangis di meja makan."
"Mah, nanti kuliahnya sambil kerja. Gue bakal makin jarang pulang—"
"Terus?" Eva menyeka sudut matanya dengan serongga. "Kamu kira mamah piara kamu buat dipajang di rumah? Terbang, Nak. Pulangnya bawa cerita."
Minggu malamnya, barulah Anara menelepon orang yang nomornya disimpan paling atas itu.
"Gue keterima," bisiknya pada Arga lewat telepon. "S2. Beneran. Mulai semester depan."
Di seberang sana ada jeda kecil, lalu suara Arga yang hangat seperti lampu dinyalakan: "Selamat, Nona. Saya tidak pernah meragukannya sedetik pun. Kita rayakan."
"Rayakan gimana?"
"Evaluasi mingguan," jawab Arga, dan di seberang sana, di depan papan timeline Proyek S, ia tersenyum pada tanggal yang sudah dilingkari merah. "Jumat depan. Meja pojok. Bawa kabar baik Anda. Saya bawa ... agenda saya."
Dan malam itu juga, Arga mengirim satu pesan ke seorang barista:
"Meja pojok. Jumat depan. Siapkan sejarah."
Balasannya datang cepat, singkat, dan penuh dedikasi: "Siap, Pak. Mejanya sudah saya pel dua kali. Tisu cadangan sudah saya stok. Izinkan saya jadi bagian dari ini sampai akhir."
Di kota kecil itu, semua orang sudah siap. Yang belum siap cuma satu orang — dan justru dialah yang paling berhak atas kejutannya.