Dua minggu setelah malam di balkon itu, Arga Satria Megantara memulai proyek paling rahasia dalam sejarah kariernya.
Namanya Proyek S. Dokumennya tidak disimpan di komputer kantor, tidak dibahas di ruang meeting, dan papan perencanaannya — ya, dia membuat papan perencanaan, lengkap dengan timeline — dipasang di ruang kerja apartemennya, menghadap dinding, kalau-kalau ada tamu tak diundang.
Rapat pertama Proyek S digelar hari Sabtu di ruang kerja lantai dua belas yang kosong, dan daftar hadirinya adalah susunan paling tidak masuk akal yang pernah dikumpulkan dalam satu ruangan:
Mikhaella, yang datang membawa boba taro dan langsung mengangkat dirinya sendiri sebagai kepala intelijen. Sekretaris Anara, yang direkrut dengan janji perlindungan penuh dan langsung bersumpah setia. Asisten Arga, yang ditunjuk sebagai notulen karena dialah satu-satunya yang bisa menulis cepat. Sang barista dari kedai kopi pojok, sebagai konsultan venue. Sang satpam dari lobi gedung Anara, sebagai konsultan keamanan lapangan.
Dan Jeng Ayu, yang datang membawa rantang, karena operasi apa pun tidak bisa jalan tanpa logistik.
"Baik." Arga berdiri di depan papan tulis dengan wibawa seorang jenderal. "Tujuan operasi: melamar Anara. Parameter utama: tidak boleh ketahuan sampai hari H. Yang bersangkutan adalah CEO yang mengelola lima belas lantai, punya jaringan informasi lebih luas dari kita semua, dan bisa membaca kebohongan dari jarak tiga meter. Pertanyaan?"
Mikhaella mengangkat tangan sambil menyeruput. "Pertanyaan pertama: kenapa lo bikin ini kayak rapat tender?"
"Karena ini tender." Arga menjawab tanpa ragu. "Tender paling penting dalam hidup saya. Dan saya tidak pernah kalah tender."
"Sumpah, kalian berdua memang cocok." Mikhaella menggeleng-geleng.
Agenda pertama: cincin.
Dan di sinilah rapat itu berhenti menjadi rapat, karena Ayu berdiri, membuka tasnya, dan meletakkan sebuah kotak kecil beludru tua di atas meja dengan tangan yang sedikit gemetar.
"Ini dari mamahnya Ibu. Neneknya kamu." Ayu membuka kotak itu: sebuah cincin tua, sederhana, dengan batu kecil yang hangat warnanya. "Waktu nenek kamu ninggal, beliau nitip: cincin ini buat anak yang bisa bikin rumah ramai lagi. Bukan buat yang paling pinter, bukan buat yang paling sukses. Buat yang bisa bikin rumah ramai."
Ruang kerja lantai dua belas itu hening.
"Ibu nyimpen ini bertahun-tahun, Nak. Dan selama itu Ibu selalu bingung mau ngasih ke siapa, karena ..." Ayu menelan ludah, "... karena rumah kita enggak pernah ramai. Sampai ada satu anak keras kepala yang datang dan bikin dapur Ibu berisik. Sekarang Ibu tahu cincin ini nunggunya siapa."
Arga menatap kotak kecil itu lama sekali. Lalu ia menutupnya dengan hati-hati, memasukkannya ke saku dalam jasnya — posisi paling dekat dengan dada — dan hanya berkata, "Terima kasih, Bu."
Dua kata yang isinya dua puluh tujuh tahun.
Agenda kedua: intelijen. Dan di sinilah Mikhaella mengeluarkan buku catatannya — catatan, Saudara-saudara, yang ternyata sudah ia isi sejak lama.
"Dengerin baik-baik, Pak Arga. Lo enggak bisa ngelamar Anara pakai balon, bunga satu truk, atau di layar gedung. Dia bakal malu, marah, dan jawabannya bisa jadi enggak karena sebel." Mikhaella membalik halaman. "Lo juga enggak bisa ngelamar di tempat mahal yang kaku. Dia kemarin aja kabur dari restoran mewah pas kencan pertama kalian — oh, dia cerita ke gue, tentu saja dia cerita ke gue."
"Jadi di mana?"
"Di tempat yang ada sejarahnya." Mikhaella mengetuk bukunya. "Dan ngelamarnya harus pakai bahasa dia. Pak Arga, lo mau tahu apa bahasa cintanya Anara Clarys Graceva? Bukan bunga. Bukan puisi." Ia menyeringai lebar. "Perjanjian. Kontrak. Klausul. Lo ngelamar dia pakai cara itu, dia enggak cuma bakal jawab iya — dia bakal nangis."
Arga menatapnya. Kemudian, pelan-pelan, wajah pria itu berubah seperti orang yang baru menemukan kunci dari brankas yang sudah berminggu-minggu ia coba buka.
"Evaluasi mingguan," bisiknya. "Klausul lima kontrak baru: evaluasi setiap minggu, di meja pojok, wajib hadir."
"Dan di evaluasi mingguan itu," sambung Mikhaella, matanya berbinar jahat, "ada yang namanya agenda tambahan."
Rapat itu ditutup pukul sembilan malam dengan keputusan bulat, satu papan timeline penuh, dan satu barista yang menangis haru di pojok ruangan karena merasa hidupnya tidak sia-sia.
Sebelum bubar, Ayu menetapkan aturan main terakhir dengan wibawa seorang panglima.
"Kode nama mulai malam ini berlaku. Target kita sebut ... Pelangi. Karena kalau kita bilang Anara di telepon, bisa-bisa ada yang keceplosan. Saya Komandan Satu. Mikhaella Kepala Intel. Satpam, Bapak Pengamanan. Barista, Venue. Sekretaris, Mata Dalam."
"Saya dapat kode nama keren," komentar sang satpam puas, mencatatnya di buku kecilnya.
"Dan Arga?"
"Saya Pelaksana Lapangan," ucap Arga.
"Kamu bukan pelaksana, Nak." Ayu menatap anaknya dengan penuh arti. "Kamu itu hadiah utamanya. Jangan lupa itu."
***
Masalahnya, Anara Clarys Graceva bukan CEO kemarin sore.
Seninnya, ia sudah mencium sesuatu. Arga membatalkan dua meeting tanpa penjelasan yang biasanya detail. Sekretarisnya menghilang satu jam di jam aneh dan kembali dengan wajah yang terlalu netral. Dan yang paling mencurigakan: Selasa sore, dari jendela lantai sepuluh, Anara melihat dengan mata kepalanya sendiri — Arga dan Mikhaella masuk ke kedai kopi pojok. Berdua.
Pacarnya dan sahabatnya. Bertemu diam-diam.
Anara tidak cemburu — ia sudah selesai dengan penyakit itu. Ia justru kebingungan setingkat di atas cemburu: dua orang terdekatnya bersekongkol, dan ia tidak tahu untuk apa.
Maka Rabu pagi, Anara mengumpulkan pasukannya sendiri: tiga anak magang, satu kantin, dan satu kalimat pembuka yang membuat tiga anak magang itu merasa direkrut menjadi agen rahasia.
"Kalian punya jaringan. Kalian punya mata. Cari tahu pacar gue lagi ngapain."
Dan malam itu juga, di grup chat "Proyek Seberang", sebuah pengumuman resmi dipasang oleh akun admin grup:
"PASAR TARUHAN BARU RESMI DIBUKA. Topik: kapan dan di mana. Minimal sepuluh ribu. Maksimal sejuta. Semua bentuk suap kepada panitia akan dilaporkan ke satpam."
Taruhan pertama masuk tiga menit kemudian, dari akun yang tidak pernah disangka siapa pun: sang satpam, yang memasang dengan keyakinan penuh pada satu tempat dan satu tanggal, lalu menulis di buku catatannya: "Saya sudah lihat terlalu banyak untuk kalah."
Di barisan belakang, para pejabat Proyek S menyaksikan pengumuman itu dengan ketenangan orang-orang yang memegang informasi paling mahal di kota ini dan tidak akan membagikannya pada pasar taruhan mana pun. Ayu hanya tersenyum. Mikhaella hanya menyeruput. Dan barista menyeduh kopi seperti tidak terjadi apa-apa, padahal di bawah konternya, satu kotak kertas tisu sudah disiapkan untuk Jumat nanti.
Perang intelijen pun resmi dimulai. Dan Anara belum tahu bahwa lawannya kali ini bukan satu orang, melainkan satu kota kecil.