Minggu sore itu, rumah besar yang sepi itu menjadi rumah yang paling berisik di sepanjang jalan.
Bukan karena acara besar. Tidak ada ulang tahun, tidak ada syukuran, tidak ada pengumuman apa pun. Hanya makan malam Minggu biasa — begitu kata Ayu saat mengundang — yang daftar tamunya ternyata tidak biasa sama sekali: Eva dan Damares, Anara, lalu Mikhaella dan Tante Astrid.
"Ibu undang keluarga Jeng Astrid juga?" Arga menatap daftar itu dengan alis naik.
"Mereka itu keluarga juga, Nak. Keluarga pilihan." Ayu sibuk mengatur meja. "Lagipula Ibu sama Jeng Astrid itu pernah hampir jadi besan versi lama, sekarang harus belajar jadi sahabat versi baru. Hidup itu panjang, Nak. Orangnya itu-itu juga, jadi hubungannya harus dirawat."
Dan malam itu, rumah besar itu belajar satu hal baru: kapasitasnya ternyata bukan diukur dari meter persegi, tapi dari decibel.
Ayu dan Astrid menguasai dapur sambil saling mengoreksi bumbu dengan kemesraan dua jenderal lama. Eva mondar-mandir membawa piring sambil mengomentari segalanya. Damares menemukan satu kursi paling nyaman di rumah itu — tentu saja — dan membangun markasnya di sana dengan koran pinjaman. Mikhaella dan Anara berbisik-bisik di sofa seperti dua remaja yang merencanakan revolusi kecil.
Dan Arga?
Arga berdiri di ambang pintu ruang makan, memegang dua gelas, dan menatap semuanya.
Rumahnya. Rumah yang selama ini cuma besar dan gema. Sekarang ada tawa di dapur, ada debat bumbu, ada suara koran dibalik, ada Mikhaella yang menghitung sesuatu dengan jarinya sambil menatapnya penuh kemenangan — mungkin sedang menghitung berapa kali ia menatap Anara malam itu; bisa saja, angkanya pasti memalukan.
Anara muncul di sampingnya, mengambil satu gelas dari tangannya, dan berbisik, "Rame, ya?"
"Sangat."
"Betah enggak?"
Arga memikirkan jawabannya dengan serius, seperti biasa, lalu menjawab dengan pelan, "Saya tidak tahu rumah ini bisa begini. Ternyata bisa. Ternyata memang bisa dari dulu, cuma ..." ia berhenti.
"Cuma enggak ada yang nyalain," sambung Anara. "Sekarang udah ada."
***
Sebelum makan malam dimulai, Damares mengajak Arga ke teras belakang. Dua pria itu berdiri di antara pot-pot tanaman Ayu, dengan dua gelas teh, dalam keheningan yang nyaman.
"Papah tidak akan ceramah panjang," ucap Damares. "Papah cuma mau bilang dua hal."
Arga menunggu dengan hormat yang tegang.
"Pertama: anak papah itu keras kepala. Kamu juga keras kepala. Papah sudah mengamati dua-duanya lama." Damares menyesap tehnya. "Dua orang keras kepala itu kalau arahnya berlawanan, nggak akan selesai-selesai. Tapi kalau arahnya sama ... nggak ada yang bisa mindahin. Papah lihat kalian arahnya sama. Jadi papah tenang."
"Om Damares—"
"Kedua." Damares menoleh, dan matanya kalem tapi menusuk tepat sasaran. "Kalau suatu hari kamu mau minta sesuatu yang lebih besar dari izin pacaran ... kamu tidak perlu takut datang ke papah. Papah bukan penjaga gerbang. Papah cuma ayah yang ingin anaknya pulang ke rumah yang ramai. Kamu tahu caranya bikin rumah ramai. Kamu sudah buktikan malam ini."
Arga menatap pria itu lama, lalu membungkuk kecil — bukan bungkukkan karyawan, tapi bungkukkan seorang anak kepada ayah yang ia tidak pernah punya kesempatan untuk dimiliki lama.
"Terima kasih, Om. Saya akan ingat."
"Sudah. Masuk. Mamah-mamah itu pasti sedang membicarakan sesuatu yang berbahaya."
Damares benar, seperti biasa. Di dalam, Eva dan Ayu sedang berbisik di atas kalender yang terbuka — kalender, Saudara-saudara — dan begitu dua orang itu masuk, kalender itu ditutup dengan kecepatan yang justru sangat mencurigakan.
"Itu kalender apa?" tanya Anara tajam.
"Kalender arisan," jawab dua mamah itu serempak, dengan sinkronisasi yang hanya bisa dicapai oleh komplotan yang sudah berlatih puluhan tahun.
"KALIAN LIHAT TANGGAL BAIK, YA?!"
"Belum!" seru Ayu. "Baru lihat-lihat! Window shopping istilahnya!"
"Ibu-ibu itu window shopping tanggal pernikahan," komentar Astrid dari dapur, tanpa ampun, "dan aku sudah diajak jadi tim hore-nya."
Makan malam itu akhirnya berjalan dengan riuh luar biasa: rendang dua porsi untuk Anara yang disoraki seisi meja, Mikhaella yang mengumumkan statistik malam itu ("sepanjang makan malam ini, Arga natap lo sembilan kali, Ra — gue ngitungin, tentu saja"), dan dua mamah yang bersulang teh manis untuk hal-hal yang tidak mereka sebutkan dengan kata tapi mereka sebutkan dengan mata.
***
Malam itu, ketika para tamu sudah pulang dan rumah besar itu kembali tenang, Anara dan Arga berdiri sebentar di balkon lantai dua, menatap taman yang remang-remang.
"Tahun depan gue S2," ucap Anara tiba-tiba. "Rencana lama. Ketunda terus. Sekarang gue mau jalanin beneran."
"Bagus. Anda harus."
"Lo enggak khawatir gue makin sibuk? Kantor, kuliah—"
"Nona." Arga menoleh kepadanya. "Saya jatuh cinta pada lampu lantai sepuluh yang tidak pernah mau padam. Saya tidak akan pernah meminta lampu itu meredup. Anda kuliah, Anda kerja, Anda terbang sejauh yang Anda mau. Saya akan ada di seberang, seperti biasa. Itu posisi saya sejak awal, dan itu posisi yang saya banggakan."
Anara diam sebentar, menatap taman, supaya pria itu tidak melihat matanya yang memanas.
"Kata ibu lo, dulu," ucapnya akhirnya dengan suara yang ia jaga tetap ringan, "lo itu bakal nikah sama kantor."
"Ternyata ibu saya salah." Arga menatapnya, dan dalam cahaya balkon yang temaram, wajahnya tidak punya dinding sama sekali. "Saya jatuh cinta sama rival saya. Sama lampu seberang. Sama perempuan keras kepala yang memesan rendang dua porsi dan menulis klausul di atas tisu."
DEG!
"Jago juga lo kalau latihan," bisik Anara.
"Saya punya guru yang keras kepala," jawab Arga, sama seperti malam itu, dan kali ini ia tidak perlu tiga hari untuk menyiapkannya.
Mereka berdiri di balkon itu lebih lama dari rencana, berbagi jaket — jaket Arga, tentu saja, yang pindah ke bahu Anara tanpa diminta, dengan kebiasaan yang sudah tidak perlu dikomentari lagi sejak rest area dulu — dan tidak membicarakan apa-apa yang penting, karena kadang-kadang tidak membicarakan apa-apa adalah cara paling jujur untuk mengatakan semuanya.
Di dalam rumah, dari balik pintu balkon yang sedikit terbuka, dua mamah dan satu Mikhaella menarik kepala mereka bergantian dengan kecepatan silat, dan saling berbisik dengan panik bahagia.
"Kalian dengar itu?"
"Dengar. Tanggalnya, Yu. TANGGALNYA."
"Sabar, Jeng. Sabar. Biar anak-anak itu yang jalan. Kita cukup ... menyiapkan jalannya."
Dan jauh di malam yang sama, setelah semua lampu rumah besar itu padam, Arga Satria Megantara duduk sendirian di kamar apartemennya, membuka laci mejanya, menatap catatan kecil bertuliskan "Sebelah" yang sudah ia ratakan berkali-kali itu, lalu membuka laptopnya.
Di kolom pencariannya, pria yang tidak pernah bertanya apa pun kepada internet itu mengetik satu pertanyaan dengan sangat serius:
"Cara melamar perempuan keras kepala."
Kontrak di atas tisu sudah selesai tugasnya, Saudara-saudara.
Sekarang, waktunya merancang sesuatu yang lebih besar dari tisu.