Aturan mainnya sudah dibuat: di kantor, mereka tetap profesional. Dua perusahaan, dua gedung, satu proyek — urusan hati tidak boleh mengganggu urusan bisnis.
Aturan itu bertahan tepat sampai meeting pertama.
Senin pagi, ruang meeting lantai sembilan, agenda dibacakan, dan dua bos itu bertengkar seperti biasa soal urutan prioritas tahap tiga. Tajam, seru, berapi-api — sampai seluruh ruangan diam-diam berbahagia karena inilah hiburan mereka yang hilang tiga minggu.
"Bagian ini harus minggu ketiga, bukan minggu kedua."
"Lo salah baca datanya, Pak. Minggu kedua lebih—"
Lalu, di tengah kalimatnya sendiri, Arga mendorong satu gelas kopi susu ke seberang meja, tepat ke sisi Anara, tanpa menghentikan argumennya sedetik pun: "... lebih efisien karena vendor tiga sudah konfirmasi, dan Anda tetap salah."
"Gue enggak salah, lo yang—" Anara menyeruput kopi susu itu di tengah kalimatnya, masih dengan mata menantang, "— lo yang enggak update."
Satu ruangan menyaksikan itu semua dengan ekspresi orang menonton dua genre film diputar bersamaan di satu layar: adegan perang korporat, disponsori oleh romansa.
"Mereka berantem atau pacaran, sih?" bisik anak magang baru.
"Ya," jawab karyawan senior, bijak. "Di sini dua kata itu artinya sama."
Era baru itu punya korban, dan korbannya adalah produktivitas kantin. Sejak grup "Proyek Seberang" terbentuk, makan siang dua gedung praktis jadi satu: meja-meja digabung, anak buah Anara bertukar lauk dengan anak buah Arga, dan satu sudut kantin diresmikan secara tidak tertulis sebagai sudut analisis — tempat karyawan-karyawan paling berpengalaman membedah gestur dua bos mereka seperti komentator bola membedah pertandingan.
"Perhatikan: tadi Pak Arga ngambilin tisu buat Bu Anara sebelum Bu Anara minta. Itu level tiga."
"Level tiganya apa?"
"Baca pikiran. Level empat itu baca suasana hati. Level lima ..." sang komentator menunduk berbisik, "... level lima itu pas mereka berantem di meeting tapi tangannya tetep saling dorong makanan."
Sang satpam, yang diberi kursi kehormatan di sudut analisis, hanya mengangguk-angguk sambil mencatat di buku kecilnya. Datanya sekarang dikutip seperti kitab.
***
Rahasia kantor itu akhirnya terbongkar hari Rabu, dan pelakunya adalah — tentu saja — anak-anak magang.
Sekretaris Anara menemukan bukti tidak sengaja: sebuah catatan di meja kantin, berisi daftar nama, tanggal, dan nominal. Ia membacanya dua kali sebelum paham, lalu membawanya ke ruang kerja Anara dengan wajah antara takut dan geli.
"Bu. Maaf. Tapi Bu Anara harus tahu. Anak-anak magang ... punya taruhan."
"Taruhan apa?"
"Taruhan kapan Bu Anara dan Pak Arga ... jadian." Sekretaris itu menyodorkan catatannya. "Sudah jalan lima bulan, Bu. Dua gedung ikut. Total ada empat puluh tiga peserta."
Anara menatap daftar itu dengan mulut terbuka. Ada nama-nama karyawan, tanggal prediksi masing-masing, dan di paling bawah, lingkaran merah di sekitar satu nama pemenang: seorang anak magang yang menebak "sebelum akhir tahun, karena dua orang itu enggak kuat nahan lebih lama".
"Jadi selama ini hidup gue dijadiin bahan taruhan?!"
"Bukan taruhan, Bu," bela sekretarisnya hati-hati. "Kata mereka ... investigasi berhadiah."
Berita itu sampai ke Arga sore harinya. Reaksinya tenang: ia membaca daftar itu, mengangguk, dan berkata, "Pemenangnya dapat apa?"
"Dapat uang kumpulan, Pak. Dan katanya dia traktir satu kantin boba besok."
"Bagus. Sistem insentif yang sehat." Arga mengembalikan daftar itu, lalu menambahkan dengan datar, "Tolong sampaikan ke penyelenggara: prediksi tanggal lamaran dibuka mulai Senin. Saya ingin pasar yang efisien."
Sekretaris itu melaporkan balasan ini ke Anara dengan tangan gemetar menahan tawa. Anara menelpon pacarnya malam itu dan berteriak selama tiga puluh detik tanpa jeda, yang dijawab Arga dengan: "Saya hanya menjaga likuiditas pasar, Nona."
***
Jumat, Pak Handoko datang untuk menandatangani laporan akhir tahap tiga — laporan yang dikerjakan dua bos dalam satu ruangan selama seminggu itu.
Pria tua itu membaca laporannya, mengangguk-angguk, lalu menatap dua anak muda di depannya dengan senyum seorang kakek yang menang undian.
"Laporan bagus. Duo yang diperbaiki itu lebih kuat dari duo yang baru." Ia menandatangani dengan goresan besar. "Oh iya, saya dengar kabar bahagia. Grup klien-klien saya ramai, Nak. Dunia ini kecil."
"Pak Handoko, itu urusan pribadi—" Anara mulai.
"Tidak ada yang pribadi kalau dua CEO datang satu mobil, Nak." Pak Handoko tertawa terbahak. "Saya cuma mau pesan satu hal: nanti, di hari besar kalian, saya minta jadi saksi. Bukan saksi nikah — itu urusan penghulu. Saya mau jadi saksi duo. Orang yang bisa bersaksi bahwa gula dan kopi itu memang seharusnya segelas."
"Pak Handoko, hari besar apanya—"
"Dan satu lagi." Pria tua itu mengangkat jarinya, matanya menyala seperti lampu seribu watt. "Jangan nikah diam-diam. Kalian boleh menyembunyikan apa pun dari siapa pun, tapi tidak dari saya. Saya ini sudah terlalu tua untuk kejutan yang tidak diundang."
"Baik, Pak," jawab keduanya serempak — refleks lama yang sudah tidak mereka perangi lagi.
Dua anak muda itu terdiam dengan telinga merah, dan Pak Handoko pergi sambil bersenandung, seperti biasa, seperti orang yang menang.
Dan di hari yang sama, satu berita kecil menutup babak lama dengan pelan.
Dave pindah. Bukan kabur — pindah dengan benar: ia mengambil penempatan di kantor cabang kota lain, mengirim salam perpisahan ke ibunya, dan satu pesan terakhir ke Anara yang kali ini tidak berbunga, tidak bersiasat:
"Gue cabut, Ra. Bukan karena kalah — karena akhirnya ngerti ada pertandingan yang memang bukan punya gue dari awal. Maaf, untuk semuanya, untuk kesekian kalinya. Jagain adek gue. Dia lebih baik dari gue, dan gue baru berani ngakuin sekarang."
Anara membaca pesan itu, menatapnya sebentar, lalu membalas dengan kalimat yang dua tahun lalu tidak akan pernah bisa ia tulis:
"Sembuh, ya, Dave. Beneran. Terima kasih sudah pernah jadi pelajaran."
Lalu ia menutup chat itu, kali ini benar-benar menutup, dan tidak ada sesak di dadanya sedikit pun.
Buku itu bukan cuma tertutup. Buku itu sudah dikembalikan ke rak, dan raknya sudah dipindahkan ke gudang, dan gudangnya sudah ia beri nama: masa lalu.
Malamnya, Anara menceritakan pesan itu ke Mikhaella lewat telepon, sambil berbaring di kasur apartemennya.
"Dia pindah kota. Beneran kali ini. Dan dia bilang ... adeknya lebih baik dari dia."
Hening sebentar di seberang sana. Lalu suara seruputan boba yang panjang, tanda sahabatnya sedang memproses.
"Bagus," ucap Mikhaella akhirnya. "Bukan bagus dia pindah — bagus dia ngaku. Lo tahu enggak, Ra, dari semua yang dia pernah bilang, itu kalimat pertama yang gue percaya seratus persen."
"Gue juga."
"Terus sekarang, tolong, fokus ke hal penting." Suara Mikhaella berubah jadi suara orang menyipitkan mata. "Tisu baru itu, klausul enamnya ... enggak ada kata selesai. Gue sudah baca fotonya tujuh belas kali. Gue mau nanya satu hal: kalian sadar enggak itu artinya apa?"
Anara menatap langit-langit kamarnya. "Mik—"
"Itu artinya kalian berdua, dua orang paling keras kepala yang pernah gue kenal, baru aja nulis perjanjian tanpa pintu keluar. Sadar enggak sih betapa gilanya itu? Dan betapa ... pasnya?"
Anara tidak menjawab. Ia tersenyum sendirian di kamarnya yang sepi, dan kali ini kesepiannya tidak berat sama sekali, karena di seberang kota sana ada seseorang yang sedang mengetik sesuatu di kolom pencariannya — walau itu, tentu saja, belum ia ketahui.