Masalah dari pacaran setelah setahun bermusuhan adalah: kencan pertama resmi itu terasa sangat aneh.
Secara teknis, mereka sudah makan bersama puluhan kali, lembur bersama puluhan kali, bahkan hujan-hujanan dan tidur di mobil yang sama — maaf, satu mobil, Anara yang tidur, dan Arga masih ngotot itu "tidak dihitung". Tapi semua itu berstatus tidak resmi. Sekarang statusnya resmi, dan status resmi itu ternyata membawa beban: harus benar, harus romantis, harus layak dikenang.
Maka Jumat malam itu mereka pergi ke restoran mewah yang sama — restoran dengan ruang-ruang privat berpintu kayu berukir, tempat semua kekacauan ini dimulai.
"Nostalgia," komentar Anara saat mereka berjalan masuk.
"Simetri," koreksi Arga. "Cerita yang bagus harus kembali ke tempat ia dimulai."
Tiga puluh menit kemudian, simetri itu terbukti gagal total.
Makanannya kecil, pelayannya membungkuk terlalu sering, dan dua orang itu duduk dengan kaku seperti dua patung lilin yang dipaksa kencan. Mereka yang biasanya bisa bertengkar seru soal tingkat kematangan steak, malam itu bahkan tidak berkomentar soal makanan — karena kencan resmi katanya harus manis, dan manis itu ternyata hambar.
Di menit keempat puluh, Anara meletakkan garpunya.
"Lo laper beneran enggak?"
Arga menatap piringnya yang artistik dan mungil itu. "Tidak. Makanan ini terlalu kecil untuk harganya. Saya sudah memikirkan itu sejak hidangan pertama, tapi saya menahannya karena katanya kencan pertama harus elegan."
"Gue juga. Gue bahkan enggak berani makan pakai tangan, padahal menu ini jelas-jelas butuh tangan."
Mereka saling menatap. Dan meledaklah tawa itu — tawa lepas yang akhirnya, setelah seharian jadi patung lilin.
"Sekarang," kata Arga, berdiri dan menyodorkan tangannya dengan gaya seorang pria yang akan membajak kapal, "kita kabur dari kencan kita sendiri."
***
Setengah jam kemudian, Arga Satria Megantara — jas rapi, sepatu mengilap — duduk di bangku plastik sebuah warung tenda di pinggir jalan, di depan sepiring nasi dengan lauk sederhana, di seberang seorang perempuan bergaun cantik yang sedang makan dengan mata berbinar.
Warung ini ada di dekat kamar kos lamanya, cerita Anara. Dulu, tiga tahun pertama membangun perusahaan, ia makan di sini hampir tiap malam karena dua alasan: enak, dan pemiliknya bersedia dibayar belakangan kalau akhir bulan datang lebih dulu dari gajian.
"Bu Surti masih inget gue," ucap Anara bangga, setelah sang pemilik warung menyambutnya dengan pelukan dan omelan panjang soal anak yang hilang bertahun-tahun.
"Tentu beliau ingat. Anda pelanggan yang utangnya paling rapi sedunia."
Bu Surti sendiri turun tangan mengurus meja mereka malam itu, dan seperti semua pemilik warung legendaris, beliau datang membawa gado-gado ekstra dan interogasi gratis.
"Jadi ini yang bikin kamu jarang ke sini?" Bu Surti menatap Arga dari atas sampai bawah dengan tatapan menilai yang membuat CEO itu duduk lebih tegak secara refleks. "Ganteng. Tapi ganteng itu bonus. Yang penting: kerjanya apa? Bisa makan enggak? Jangan cari yang kurusan, An, cari yang mau makan."
"Dia kerja keras, Bu. Bos. Punya gedung sebelah gedungku."
"Bos!" Bu Surti mendengus. "Bos itu enggak ada artinya kalau enggak mau makan." Lalu, kepada Arga, dengan nada ibu-ibu yang tidak bisa digugat: "Kamu, Nak. Dulu anak ini ke sini habis kerja, matanya merah, utang kadang nunggak dua hari, tapi enggak pernah sekalipun dia lupa bilang terima kasih sama piringnya. Sekarang dia jadi orang besar. Kamu kalau sama dia, kamu harus ingat: dia itu dulu pernah kecil dan berjuang sendirian. Jangan pernah bikin dia berjuang sendirian lagi."
Warung tenda itu hening sebentar. Anara menunduk dalam-dalam ke piringnya.
"Iya, Bu," jawab Arga, dan suaranya tidak main-main sama sekali. "Saya catat. Itu masuk klausul."
"Klausul apa segala." Bu Surti berlalu sambil menggerutu senang. "Anak-anak sekarang, pacaran pakai klausul."
Arga mencicipi makanannya, mengunyah dengan serius, dan mengangguk. "Ini lebih baik dari restoran tadi. Jujur."
"Dua puluh ribu per porsi, Pak. Harganya lebih jujur juga."
Mereka makan dengan lahap, di pinggir jalan, dengan suara knalpot dan tawa orang-orang lewat sebagai musik latar. Dan di situlah — di warung tenda, bukan di restoran berpintu ukir — percakapan yang sesungguhnya keluar.
"Lo pernah cerita soal tender pertama kita," ucap Anara. "Tapi gue mau denger versi jujurnya. Lima halaman evaluasi itu ... sebenarnya kenapa?"
Arga diam sejenak. Lalu, sesuai klausul satu kontrak baru — jujur, walau canggung — ia menjawab.
"Karena proposal Anda tidak punya cacat." Ia menatap piringnya. "Saya membacanya tiga kali untuk mencari kelemahan. Tidak ada. Saya frustrasi, lalu kesal, lalu ... kagum. Dan karena saya tidak tahu cara mengatakan kagum, saya menulis lima halaman kritik." Ia mengangkat bahu kaku. "Itu surat kagum yang salah alamat, Nona. Butuh satu tahun untuk menyampaikannya dengan benar."
Anara menatapnya, lalu menunduk menyembunyikan senyumnya ke segelas es teh.
"Giliran Anda," ucap Arga. "Kapan Anda mulai memperhatikan saya? Jujur."
"Bukan di tender." Anara mengaku dengan kecil. "Sebelum tender. Di lift parkiran, bulan-bulan sebelumnya. Ada ibu-ibu bawa belanjaan banyak, kantongnya pecah, semua orang pura-pura enggak lihat. Lo yang berhenti. Lo pungutin belanjaannya satu-satu, lo pinjemin tas lo, terus begitu lo sadar gue liatin ... lo langsung pasang muka galak lagi dan pergi."
Arga mematung. "Anda melihat itu."
"Gue lihat. Dan gue kesel banget, karena hari itu juga gue tahu: musuh gue ini sebenarnya bukan musuh. Ganggu banget buat narasi gue."
"Anda menyimpan itu selama setahun."
"Lo nyimpen surat kagum lima halaman selama setahun. Kita impas."
***
Mereka berjalan pulang ke arah mobil lewat jalanan kota yang sudah lengang, dan di tengah jalan itu, tangan mereka bersenggolan. Sekali. Dua kali. Dengan kecanggungan dua remaja yang sama-sama pura-pura tidak sengaja.
Lalu Anara berhenti berpura-pura. Ia mengulurkan tangannya, menggenggam tangan pria itu, dan berkata sambil menatap lurus ke depan:
"Ini bukan jabat tangan."
"Tidak," jawab Arga, menggenggam balik — hati-hati, seperti memegang sesuatu yang sudah lama ia tunggu tapi takut pecah. "Kali ini tidak ada yang menghitung detiknya."
DEG!
Dan untuk pertama kalinya, debar itu datang tanpa perlu disangkal.
Di ujung jalan itu, mereka berhenti sebentar tanpa sepakat, karena dari sudut itu dua gedung mereka terlihat sekaligus: berdiri berseberangan, sama tingginya, sama keras kepalanya, dengan lampu-lampu yang masih menyala di beberapa lantai meski sudah larut.
"Lihat itu," ucap Anara pelan. "Setahun kita perang dari dua gedung itu. Kirain jaraknya jauh."
"Jaraknya cuma satu jalan," jawab Arga. "Kita saja yang lama menyeberang."
"Lo ini sekarang kalau ngomong kenapa manis-manis. Gue enggak terbiasa."
"Klausul satu. Jujur, walau canggung." Arga menatap dua gedung itu juga. "Dan saya sedang sangat canggung. Tercatat resmi."
Anara tertawa, menggenggam tangannya lebih erat, dan dua gedung itu menyala terus di belakang mereka seperti dua saksi yang berdiri paling depan sejak awal.
Di belakang mereka, dari dalam warung tenda, Bu Surti menatap dua anak muda itu berjalan pergi bergandengan, lalu menggeleng sambil tersenyum. "Pelanggan utang paling rapi sedunia itu," gumamnya, "akhirnya bawa pacarnya."