Rabu pagi, dua pengumuman disampaikan di dua rumah, hampir bersamaan, dengan dua gaya yang sangat berbeda.
Di rumah keluarga Anara, pengumuman itu disampaikan di meja sarapan, di sela nasi goreng buatan Eva.
"Mah. Pah. Gue sama Arga ... pacaran."
Sendok Eva berhenti. Koran Damares turun tiga senti.
"Akhirnya," ucap Damares.
"AKHIRNYA?!" Anara protes. "Papah harusnya kaget!"
"Nak, papah sudah tahu sejak acara makan siang dua keluarga. Mamahmu sudah tahu sejak sebelum itu. Satpam komplek sudah tahu sejak—" Damares melipat korannya dengan tenang, "—pokoknya semua orang sudah tahu. Kalian berdua ini yang paling lambat sadar. Mamahmu bahkan sudah menyiapkan—"
"JANGAN KASIH TAHU DULUAN!" Eva menutup mulut suaminya, lalu berbalik ke Anara dengan mata berkaca-kaca, dan meledaklah tangis bahagia yang disertai pelukan, tawa, dan satu panggilan telepon ke Ayu yang bunyinya kurang lebih: "YUUUUK! RESMI! YUK! TANGGAL! KITA CARI TANGGAL!"
"Mah! Baru pacaran! Tanggal apa-apaan!"
"Tanggal kalian jadian, Nak, buat diingat-ingat!" Eva menjawab dengan nada orang yang jelas sedang memikirkan tanggal yang lain.
***
Di rumah besar yang sepi, pengumuman itu disampaikan dengan gaya anak bungsu: singkat, tegang, dan sambil berdiri.
"Bu. Saya dan Anara ... kami bersama sekarang. Pacaran. Resmi."
Ayu menatap anaknya. Diam sejenak. Lalu berdiri, berjalan ke bufet, mengambil tisu, dan — bukan untuk mengusap air mata — menyodorkannya ke Arga.
"Untuk apa, Bu?"
"Untuk nulis kontrak baru. Ibu dengar dari Jeng Eva kalian itu hobinya nulis perjanjian di atas tisu." Ayu akhirnya meledak tertawa sambil menangis, memeluk anak bungsunya yang kaku itu sampai anak itu pelan-pelan melunak. "Syukurlah, Nak. Syukurlah. Ibu enggak perlu pura-pura kaget, kan? Ibu yang mengatur semuanya dari awal—"
"Ibu yang mengatur. Semesta yang mengeksekusi." Arga menepuk punggung ibunya, canggung tapi tulus. "Terima kasih, Bu. Untuk tidak menyerah."
"Untuk enggak menyerah sama kamu," koreksi Ayu, dan kali ini suaranya serius. "Kamu itu anak paling baik yang Ibu punya, Nak. Ibu cuma nunggu ada orang lain yang bisa lihat itu. Sekarang orangnya sudah lihat. Ibu pensiun jadi mak comblang."
"Bohong. Ibu tidak akan pensiun."
"Enggak," akui Ayu riang. "Ibu naik pangkat."
***
Pengumuman ketiga disampaikan lewat video call, dan reaksinya tidak perlu direkam untuk masuk sejarah.
"GUE TAHU! GUE TAHU DARI AWAL! GUE YANG NGITUNGIN NAMA DIA DARI LIMA BELAS KALI SEMINGGU!" Mikhaella melompat-lompat di kamarnya sampai kacamatanya miring total. "RA! GUE MINTA JABATAN RESMI! GUE MAU JADI SAKSI! SAKSI APA AJA! SAKSI KONTRAK, SAKSI NIKAH NANTI, SAKSI APA PUN— eh, kecepetan, maaf, enggak, jujur enggak kecepetan—"
"Mik. Napas."
"Gue enggak bisa napas, Ra. Gue menunggu ini lebih lama dari lo berdua."
Berita itu, seperti semua berita besar di hidup Anara, kemudian menyebar lewat jaringan yang tidak bisa dikendalikan siapa pun: jaringan keluarga.
Arabela menelepon malam itu juga, dan suaranya sampai membuat Anara menjauhkan ponsel dari telinga.
"GUE TAHU! GUE TAHU DARI NIKAHAN GUE!" sepupunya itu berteriak dari seberang. "Lorong hotel itu, Ra! Partner bisnis yang sopan dan ganteng itu! Gue lihat mukanya waktu lo tarik dia buat ngadepin tante-tante — itu bukan muka partner bisnis, itu muka orang yang lagi jatuh cinta dan belum tahu! Gue sudah bilang ini ke suami gue dari malam itu juga!"
"Bel, kamu baru cerita sekarang?!"
"Buat apa cerita? Kamu kan keras kepala! Kalau gue bilang waktu itu, kamu pasti ngelawan terus malah menjauh. Gue biarin semesta yang kerja. Dan lihat!" Arabela cekikikan puas. "Semesta kerjanya rapi."
Sementara itu, dari rumah Tante Astrid, kiriman datang keesokan harinya ke apartemen Anara: satu rantang rendang — dua porsi, jelas disengaja — dengan kartu bertuliskan: "Untuk anak yang akhirnya berhenti berpura-pura. Makan yang benar. Cinta dari Tante Astrid. Salam untuk anaknya Jeng Ayu. Bilang kami bangga."
Anara memotret kartu itu, mengirimnya ke Arga, dan menerima balasan satu menit kemudian: "Ibu saya baru saja memajang foto kita di pigura kedua. Foto gala. Rumah itu sekarang resmi jadi galeri. Saya tidak bisa berbuat apa-apa."
Di kantor, tidak ada pengumuman resmi. Tidak perlu.
Karena Kamis pagi itu, dua CEO itu datang dalam satu mobil. Sang satpam menyaksikan mobil itu masuk, menyaksikan dua orang itu turun dari dua pintu yang berbeda, dan menyaksikan keduanya berjalan masuk berdampingan dengan jarak yang ... lebih dekat dari jarak rekan kerja.
Bapak itu tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya membuka buku catatan kecilnya, mencoret tulisan "musim dingin selesai", dan menulis di bawahnya dengan tangan sedikit gemetar: "MEREKA DATENG SATU MOBIL. Pukul 07.52. Saya saksinya."
Pukul 09.05, satu gedung sudah tahu. Pukul 09.30, gedung seberang menyusul. Pukul 10.00, anak-anak magang dari dua gedung mengadakan pertemuan darurat di kantin yang isinya bukan gosip, melainkan perayaan — karena, seperti yang akan kalian dengar nanti, ada sesuatu yang menyangkut taruhan.
Dan siang itu juga, tanpa ada yang mengomando, sesuatu yang bersejarah terjadi: dua grup chat karyawan — grup gedung sini dan grup gedung seberang — dilebur jadi satu. Namanya dipilih lewat voting kilat di kantin, mengalahkan tiga kandidat lain, dan nama yang menang adalah: "Proyek Seberang."
Pesan pertamanya dikirim oleh anak magang paling berani: "Selamat datang di grup gabungan. Peraturan pertama: dilarang bilang kata rekan kerja. Kata itu sudah pensiun."
Pesan keduanya, lima menit kemudian, dikirim oleh akun yang membuat satu kantin berteriak serempak — akun bergambar default, dengan nama datar: Arga S. Megantara.
"Diterima. — A"
Lalu disusul satu pesan dari akun bernama Anara C. Graceva: "Kalian semua gila. Gue bangga."
Dua bos itu, rupanya, sudah dimasukkan ke grup tanpa izin sejak semalam. Dan keduanya memilih bertahan di dalamnya, yang oleh seluruh karyawan ditafsirkan dengan benar sebagai bentuk restu tertinggi.
Dan di meja kerja Anara, siang itu, muncul satu vas bunga kecil dengan kartu bertuliskan: "Dari seluruh karyawan lantai sepuluh. Akhirnya kami bisa kerja tanpa tegang. Terima kasih, Bu. Terima kasih, Pak. — Tim Anda"
Anara membacanya, tertawa, dan memotretnya untuk dikirim ke satu nomor yang namanya di ponselnya sudah ia ganti.
Bukan lagi "Seberang (Proyek)".
Sekarang cuma: "Seberang."
Karena beberapa kata memang tidak butuh keterangan tambahan.
Malam itu, di ruang kerja lantai sepuluh, mereka berdiri berdampingan di depan jendela, menatap gedung seberang yang lampunya menyala sebagian.
"Jadi sekarang kita resmi ... apa?" tanya Anara, masih geli dengan kata-katanya sendiri.
"Pacaran, menurut ibu-ibu. Mitra strategis, menurut dokumen." Arga mempertimbangkan sebentar. "Menurut saya? Rekan seberang. Jabatannya tidak ada di struktur organisasi mana pun, tapi gajinya paling mahal."
"Gajinya apa?"
"Semua kopi susu yang pernah saya kirim. Ditagih sekaligus. Seumur hidup."
Anara tertawa, dan tawa itu memantul di kaca jendela, dan dua gedung di seberang satu sama lain itu malam itu sama-sama menyala lebih terang dari biasanya.