Evaluasi kontrak itu akhirnya terjadi Selasa malam — mundur sehari dari janji, karena Seninnya lobi kantor Anara keburu jadi medan pertempuran bunga mawar.
Tempatnya sudah pasti: kedai kopi pojok, meja paling dalam.
Dan sang barista, Saudara-saudara, sudah menyiapkannya. Meja pojok itu diberi tanda kecil bertuliskan "Dipesan" sejak pagi — pria itu sudah menjaga meja ini sejak malam ia melihat seorang perempuan berdiri di luar kaca dan tidak jadi masuk. Barista yang baik tahu sejarah sedang ditulis di mejanya, dan sejarah butuh meja yang kosong.
Mereka berdua datang dari dua arah berbeda, dan sang barista menyambut dengan dua gelas yang sudah disiapkan tanpa perlu dipesan: kopi hitam untuk satu, kopi susu untuk satu, dengan kadar manis yang sudah ia hafal lebih baik dari pemiliknya sendiri.
"Pesanan kalian," ucapnya, meletakkan gelas-gelas itu dengan khidmat seperti petugas upacara. Lalu, sebelum pergi, ia menambahkan dengan suara yang dibuat-buat netral, "Meja ini kosong dua minggu. Saya jaga baik-baik. Tolong jangan bikin saya jaga lagi selama itu."
"Siap, Bang," jawab Anara, dan untuk pertama kalinya dalam tiga minggu, kata itu terdengar seperti janji.
Mereka duduk berhadapan. Di tengah meja, tisu terlaminating itu diletakkan oleh Anara, seperti bendera yang dikembalikan ke markas.
"Jadi," Anara membuka. "Evaluasi. Sesuai janji. Kali ini pakai bahasa jujur."
"Bahasa jujur." Arga mengangguk. "Anda duluan. Saya ... masih pemula."
"Oke. Klausul satu: jawaban seragam, kami rekan kerja tidak lebih." Anara mengetuk tisu itu. "Klausul ini bohong dari awal. Gue enggak pernah nganggep lo rekan kerja. Rekan kerja enggak bikin gue begadang mikirin dia."
"Dicatat. Klausul satu: batal karena cacat sejak lahir."
"Klausul tiga: tidak ada yang boleh memberi harapan ke ibu masing-masing." Anara menarik napas. "Gue langgar. Gue dateng ke ulang tahun ibu lo bukan karena terpaksa. Gue seneng lihat dia seneng. Gue seneng ... jadi bagian dari rumah itu."
Arga diam sejenak. "Saya juga melanggar. Saya datang ke makan siang keluarga Anda bukan karena terjebak undangan. Saya memesan rendang tambahan karena saya tahu Anda masih lapar dan terlalu gengsi untuk memesan sendiri."
"Lo perhatiin porsi makan gue?!"
"Saya memperhatikan segalanya tentang Anda, Nona. Itu masalah saya sejak lama."
Anara batuk kecil, menyembunyikan sesuatu di pipinya. "Klausul tujuh. Dilarang cemburu."
"Langgar berat," jawab Arga tanpa jeda. "CEO logistik itu mengedip, dan saya ingin memindahkan perusahaannya ke kota lain dengan kekuatan pikiran."
"Gue juga. Pemodal ventura itu pegang kartu nama lo kelamaan, dan gue ingin ..." Anara berhenti, memutuskan untuk tidak menyelesaikan kalimat itu demi perdamaian dunia. "Pokoknya langgar berat juga. Dua-duanya bersalah. Dua-duanya tahu."
Hening sejenak. Lampu kedai kopi itu berdengung pelan.
Lalu Arga menarik napas — napas yang panjang, seperti orang yang mau terjun dari tempat tinggi — dan mengucapkan kalimat yang membuat darah Anara berhenti mengalir sepersekian detik.
"Nona. Klausul lima."
"... Apa?"
"Kata keluarnya. Selesai." Arga menatap tisu terlaminating itu, lalu menatap Anara. "Saya menggunakannya. Kontrak aliansi ini ... selesai."
Anara tidak bergerak. Mulutnya terbuka sedikit, dan tidak ada suara yang keluar, dan tangannya diam-diam mencengkeram tepi meja.
"Saya mengakhirinya," lanjut Arga, suaranya mulai tidak stabil di ujung-ujungnya, "karena aliansi itu kontrak untuk dua pihak yang berpura-pura. Dan saya sudah tidak sanggup berpura-pura. Tiga minggu kemarin mengajari saya bahwa hidup tanpa Anda itu efisien, rapi, dan sama sekali tidak layak dijalani."
Ia berdiri — setengah berdiri, sebenarnya, karena mejanya sempit — dan mengeluarkan sesuatu dari sakunya: selembar tisu baru, masih bersih, dan sebuah pulpen.
"Saya sayang sama Anda, Anara." Tidak ada Nona kali ini. Tidak ada dinding. "Bukan sejak kontrak. Saya tidak tahu sejak kapan — mungkin sejak Anda memaki evaluasi lima halaman saya dengan mata menyala, mungkin sejak sandal jepit itu, mungkin sejak lampu lantai sepuluh yang selalu menang melawan saya. Yang saya tahu: malam Anda sakit itu, saya tidak sedang menjalankan klausul apa pun. Saya hanya ... takut kehilangan orang yang belum pernah jadi milik saya."
Kedai kopi itu sunyi. Di balik mesin, sang barista sudah menangis lebih dulu.
Anara menatap pria itu lama. Lalu ia tertawa — kecil, basah, dan jujur — sambil mengusap sudut matanya dengan punggung tangan.
"Ya ampun. Itu pengakuan atau laporan tahunan?"
"Keduanya. Saya menyiapkannya tiga hari. Ada drafnya kalau Anda mau membaca."
"Enggak usah." Anara berdiri dari kursinya, memiringkan kepala, dan tersenyum dengan mata yang masih basah. "Gue juga, Arga. Gue sayang sama lo. Gue bahkan kangen berantem sama lo waktu kita ribut — lo tahu enggak betapa anehnya itu? Diagnosis paling aneh sedunia, dan gue penderitanya."
Mereka berdiri berhadapan di sela meja sempit itu, dua orang yang sudah menghabiskan satu tahun untuk menjadi musuh, tiga minggu untuk menjadi orang asing, dan satu malam untuk menjadi jujur.
"Maka," Arga membuka tutup pulpennya dengan gerakan seorang CEO menandatangani merger, "kontrak baru?"
"Kontrak baru."
Dan di atas tisu bersih itu, disaksikan seorang barista yang menangis tersedu di balik mesin espresso, mereka menulis bersama, bergantian, satu kalimat satu kalimat:
"Satu. Jujur, walau canggung. Dua. Bertengkar boleh, pergi tanpa pamit dilarang. Tiga. Kopi susu tetap dikirim, dan pengirimnya tetap satu. Empat. Tidak ada pihak ketiga — bukan karena klausul, tapi karena tidak mau. Lima. Evaluasi setiap minggu, di meja ini, wajib hadir. Dan enam ..."
Arga berhenti menulis, menatap Anara, dan menyerahkan pulpennya.
Anara menulis klausul terakhir dengan tulisannya yang berantakan:
"Enam. Klausul lima yang lama dicoret selamanya. Tidak ada kata keluar. Tidak ada kata selesai."
Dua tanda tangan membubung di bawahnya.
Mereka memotret tisu baru itu bersama — dua tangan memegang dua ujungnya, kontrak paling tidak resmi dengan makna paling resmi — dan Anara mengirimkan fotonya ke Mikhaella tanpa kata-kata.
Balasannya datang dalam empat detik, berupa dua belas emoji menangis, satu emoji konfeti, dan satu kalimat: "GUE SIMPAN BUKTI INI. KALAU KALIAN RIBUT LAGI, GUE CETAK GEDE-GEDE TERPASANG DI LOBI KALIAN."
"Ancaman yang efektif," komentar Arga, membaca dari balik bahu Anara.
"Sahabat gue memang efektif. Dia yang bikin gue ketemu Dave, biar bukunya ketutup. Terus dia juga yang enggak pernah percaya lo jahat, bahkan pas gue sendiri ragu." Anara mengetik balasan singkat, lalu menatap Arga. "Kita berutang banyak sama orang yang hobinya ngitungin nama lo itu."
"Maka mulai minggu ini, bobanya seumur hidup saya yang tanggung."
"Jangan. Nanti dia pindah ke tim lo."
Sang barista mengantarkan dua gelas dessert gratis dengan kartu kecil yang kali ini tidak bisa ditahan-tahan lagi: "AKHIRNYA. — Dari kami yang sudah menangis di balik mesin sejak episode tisu pertama."
Malam itu mereka pulang ke dua arah yang berbeda, seperti biasa.
Bedanya, kali ini dua arah itu sama-sama menuju pulang.