Senin itu seharusnya jadi hari evaluasi kontrak. Hari dua orang duduk di kedai kopi pojok dan akhirnya bicara dengan bahasa jujur.
Tapi semesta punya satu ujian terakhir, dan ujian itu datang pukul sebelas pagi, membawa bunga.
Dave masuk ke lobi gedung Anara dengan satu buket mawar putih, senyum terbaiknya, dan ketepatan waktu yang terlalu sempurna untuk disebut kebetulan — seseorang pasti sudah memberitahunya jadwal di mana Anara paling mudah ditemukan.
Lobi itu berhenti bernapas. Resepsionis membeku dengan telepon di tangan. Anak-anak magang muncul dari berbagai arah seperti meerkat mendengar pemangsa. Dan sang satpam berdiri tegak, menatap monitor CCTV-nya dengan wajah seorang komandan yang menunggu perintah menembak.
"Ra!" Dave menyapa riang begitu Anara keluar dari lift, dan suaranya sengaja disetel cukup keras untuk didengar satu lobi. "Surprise. Gue tahu lo sibuk, jadi gue yang dateng. Bunga buat teman baru yang lama."
Semua mata menempel pada Anara.
"Dave." Anara berhenti tiga langkah darinya, tangannya tidak bergerak mengambil bunga itu. "Gue udah bilang. Kemarin itu penutupan. Bukan pembukaan."
"Penutupan bisa jadi pembukaan, tergantung yang baca bukunya siapa." Dave menyeringai, dan kembali — sengaja — cukup keras: "Kita kan lagi mulai dari nol. Sebagai teman. Lo sendiri yang setuju."
"Gue setuju buat ketemu sekali. Bukan buat dikunjungin bawa bunga ke kantor gue."
Dan pada detik itu juga, pintu kaca lobi terbuka lagi.
Arga masuk dengan map kulit di tangan — jadwal mereka memang evaluasi Senin ini, di gedung Anara, karena kedai kopi dirasa terlalu penuh kenangan untuk pembicaraan kontrak — dan berhenti di ambang pintu, menatap pemandangan di depannya: kakaknya, sebuket mawar, dan perempuan itu.
Udara di lobi itu berubah jadi barang padat.
"Dek!" Dave berbalik dengan sukacita seorang aktor yang menemukan penontonnya bertambah. "Pas banget. Lo ke sini juga? Wah, kantor lo makin rame aja nih sejak gabung proyek sama Anara."
Arga berjalan mendekat dengan langkah yang terkendali, wajahnya datar seperti permukaan danau — danau yang di dasarnya ada badai.
"Kakak," sapa Arga pendek. "Kantor ini tempat kerja. Bukan tempat mengantar bunga."
"Semua tempat bisa jadi tempat mengantar bunga kalau niatnya baik, Dek." Dave menepuk bahu adiknya — gerakan akrab yang terlihat hangat dari luar dan terasa seperti tanduk dari dalam. "Lo tahu enggak, kemarin gue sama Anara ngobrol panjang. Gue cerita banyak soal kita waktu kecil. Biar dia makin kenal keluarga kita." Ia menoleh ke Anara dengan senyum yang presisi. "Kan, Ra? Gue cerita soal rumah kita, soal ibu kita, soal adek gue yang dari kecil paling pinter nyimpen—"
"Dave."
Suara Anara memotong. Tidak keras. Justru karena tidak keras, satu lobi mendengarnya.
"Gue mau nanya satu hal, dan lo jawab di sini, sekarang." Anara menatap pria itu lurus-lurus. "Dua tahun lalu, waktu gue nanya soal keluarga lo, lo bilang apa ke gue? Lo bilang adik lo perempuan."
Hening.
Dave tidak langsung menjawab, dan jeda setengah detik itu menjawab semuanya.
"Adik perempuan," ulang Anara, suaranya tetap stabil, stabil yang dibayar dengan dua tahun luka. "Satu kalimat. Bohong. Padahal enggak ada untungnya sama sekali buat lo — enggak ada apa pun yang lo dapet dari bohong soal itu. Lo bohong cuma karena ... lo bisa. Karena buat lo, bohong itu bukan kebutuhan. Kebiasaan."
"Ra, itu dulu—"
"Dan minggu lalu lo duduk di depan gue, dengan muka paling tulus, ngasih gue analisis soal adek lo. Soal dia pinter nyimpen perasaan. Soal dia bisa kelihatan sayang padahal lagi ngitung." Anara menggeleng pelan. "Orang yang bohong soal adiknya sendiri selama dua tahun, tiba-tiba jadi sumber terpercaya soal karakter adiknya? Analisis lo itu harganya berapa, Dave?"
Lobi itu sunyi seperti kuburan. Sang satpam menatap monitornya dengan mata berkaca-kaca haru. Di pojok, dua anak magang saling mencengkeram lengan satu sama lain seperti menonton final.
Senyum Dave — untuk pertama kalinya sejak ia masuk — bergeser sepersekian milimeter. Hanya sepersekian, tapi Anara melihatnya, karena Anara sudah belajar membaca retakan di topeng itu dua tahun yang lalu, dengan harga yang sangat mahal.
"Kita lanjut nanti, Ra. Pas lo lebih tenang." Dave meletakkan buket itu di meja resepsionis dengan gerakan elegan — kalah pun, pria ini kalah dengan koreografi. "Dek. Hati-hati sama proyeknya."
"Enggak ada nanti, Dave," ucap Anara di belakangnya. "Dan bunganya tolong dibawa. Resepsionis kantor ini sudah punya suami."
Pintu kaca itu tertutup. Bunga mawar putih itu tertinggal setengah detik di meja resepsionis sebelum satpam — dengan inisiatif yang akan dikenang selamanya — mengembalikannya keluar dengan langkah tegap seorang prajurit.
***
Lima menit kemudian, di ruang kerja lantai sepuluh yang pintunya tertutup rapat, dua orang berdiri berhadapan di antara meja dan jendela, dan kota terbentang di bawah mereka tanpa tahu apa-apa, seperti biasa.
Arga bicara lebih dulu. Dan untuk pertama kalinya, ia tidak memakai kata "Nona" dengan dindingnya — ia memakainya seperti nama.
"Sabtu itu ... dia bilang apa?" Tanyanya pelan. "Saya seharusnya menanyakannya sejak tiga minggu lalu. Saya menanyakannya sekarang. Terlambat, tapi saya menanyakannya."
Anara menatapnya. Lalu ia bercerita. Semuanya. Permintaan maaf yang rapi. Ajakan mulai dari nol. Dan racun yang ditanam dengan presisi bedah: dia bisa kelihatan sayang padahal lagi ngitung.
"Dan gue ..." Anara menelan ludah. "Gue hampir percaya. Satu detik. Mungkin dua. Karena gue pernah percaya orang yang salah, dan orang yang pernah begitu itu ... takut sama rasa yakinnya sendiri."
"Saya tahu," ucap Arga lirih. "Dia memang begitu. Dia tidak menyerang pakai kebohongan besar. Dia menyerang pakai keraguan kecil."
"Tapi terus gue inget lo." Anara mengangkat wajahnya. "Bukan kata-kata lo. Kata-kata lo memang enggak pernah bisa diandelin, lo aja ngaku enggak bisa ngomong soal perasaan. Gue inget perbuatan lo. Orang yang ngitung enggak ninggalin rapat direksi demi bubur, Arga. Orang yang ngitung enggak nyetir lebih pelan biar penumpangnya enggak kebangun. Orang yang ngitung enggak nyimpen catatan receh dari orang yang katanya cuma rekan kerja."
Arga menatapnya dengan ekspresi seseorang yang pertahanannya sedang runtuh lantai demi lantai. "Bagaimana Anda tahu soal catatan itu?"
"Gue enggak tahu. Gue nebak." Anara nyaris tersenyum. "Tapi muka lo barusan konfirmasi."
Dan Arga Satria Megantara — manusia yang tidak pernah kehilangan kendali wajahnya di rapat mana pun — menunduk, mengusap wajahnya dengan satu tangan, dan tertawa. Tawa yang kecil, lelah, dan jujur, tawa pertama yang keluar tanpa dihitung sejak ... ia sendiri tidak ingat sejak kapan.
"Evaluasi kontrak," ucap Anara akhirnya, pelan, "kita lanjutin?"
"Dilanjutkan." Arga mengangkat wajahnya. "Tapi kali ini semua klausul pakai bahasa jujur."
"Bahasa jujur itu berat, Pak. Lo kuat enggak?"
"Saya akan berlatih." Pria itu menarik napas. "Mulai dari yang paling mudah: tiga minggu terakhir ini adalah tiga minggu terburuk dalam hidup saya, dan alasannya bukan pekerjaan."
Anara menatapnya. DEG! — akhirnya, setelah tiga minggu absen, debar itu pulang ke rumahnya.
"... Lo belajar cepat juga, ya," bisiknya.
"Saya punya guru yang keras kepala."
Di luar pintu ruang kerja itu, satu kantor lantai sepuluh berpura-pura bekerja dengan kuping yang bekerja jauh lebih keras. Dan di lobi bawah, sang satpam menatap monitor CCTV-nya, mengangguk puas, dan menulis sesuatu di buku catatan kecilnya.
Kalau ada yang membacanya, tulisan itu berbunyi: Musim dingin selesai. Besok saya siap-siap jaga acara yang lebih besar.