Senin pagi, pukul sembilan kurang lima, ruang meeting B di lantai sembilan diisi oleh dua orang yang datang lebih awal dengan tujuan sama: supaya tidak terlihat menunggu satu sama lain.
Mereka duduk berseberangan. Dokumen dibuka. Laptop menyala.
"Kita mulai dari bagian anggaran," ucap Arga.
"Setuju. Bagian jadwal gue yang pegang."
Dan begitulah sesi pertama berjalan: bersih, efisien, dan dingin seperti ruang operasi. Kalau Pak Handoko melihatnya, pria tua itu mungkin akan menangis kecewa, karena satu jam penuh tidak ada satu pun pertengkaran kecil yang menghiasi ruangan.
Makan siang hari pertama itu mereka lakukan terpisah — Anara di meja sudut kantin bersama laptopnya, Arga di ruangan bersama dokumennya — padahal meja makan ruang meeting itu cukup untuk dua orang, dan dua-duanya tahu itu, dan tidak ada yang mengatakannya.
Sorenya, saat Anara merevisi bagian jadwal, ia menemukan catatan kecil di margin dokumen yang dikerjakan Arga, ditulis dengan tulisan tegak itu: "Bagian ini terlalu optimistis. Tapi khas Anda."
Anara menatap catatan itu lama. Terlalu optimistis, tapi khas Anda. Bahkan kritiknya pun sekarang terdengar seperti ... ia menggeleng keras dan kembali bekerja. Fokus, Anara. Fokus.
Hari kedua, retakan pertama muncul. Dari arah yang tidak disangka: kantin.
Istirahat makan siang, Arga berdiri ke konter untuk memesan minuman, dan — tanpa berpikir, murni karena kebiasaan yang sudah tertanam lebih dalam dari permusuhan — ia kembali membawa dua gelas: kopi untuk dirinya, dan kopi susu dengan kadar manis tertentu untuk Anara.
Ia meletakkannya di depan Anara tanpa komentar, baru menyadari apa yang baru saja ia lakukan ketika gelas itu sudah menyentuh meja.
Anara menatap gelas itu. "... Lo masih hafal."
"Kebiasaan operasional," jawab Arga kaku. "Dan klausul enam tidak pernah resmi dicabut."
Kata "klausul" itu menggantung di udara di antara mereka seperti balon yang tidak ada yang berani sentuh.
"... Iya," ucap Anara akhirnya, mengambil gelasnya. "Belum dicabut. Cuma ... ditunda."
"Ditunda," ulang Arga, mengangguk kecil, dan kembali ke laptopnya dengan kecepatan mengetik yang mencurigakan.
Hari ketiga, retakan kedua muncul dari arah Anara.
Arga melontarkan satu komentar sarkastik soal format tabel — kering, tajam, khas dirinya — dan Anara tertawa. Tertawa beneran, lepas, sebelum sempat ia tahan. Ia buru-buru mengubahnya jadi batuk, batuk paling tidak meyakinkan dalam sejarah batuk.
"Anda perlu minum," ucap Arga datar, tapi sudut bibirnya bergerak naik sepersekian milimeter, dan ia tidak menurunkannya lagi sampai lima menit kemudian.
Di luar ruang meeting itu, dua orang yang paling berkepentingan dengan stabilitas nasional kantor — sekretaris Anara dan asisten Arga — menguping dari balik pintu dengan kualitas intelijen yang akan membuat agen rahasia iri.
"Tadi ada suara ketawa," bisik asisten Arga. "Saya dengar sendiri. Ketawa."
"Bos saya atau bos Bapak?"
"Entah. Suaranya satu, tapi rasanya dua."
Sekretaris Anara memejamkan mata seperti orang berdoa. "Ya Tuhan. Semoga. Tiga minggu ini saya kayak kerja di kulkas."
"Saya bahkan sudah menyiapkan surat pengunduran— bercanda. Setengah bercanda."
Dua staf setia itu berjabat tangan kecil di depan pintu, doa dan harapannya menyatu: semoga laporan titipan Pak Handoko itu tidak pernah selesai. Atau setidaknya, jangan selesai terlalu cepat.
Hari keempat, kejadian itu terjadi.
Anara mengambil map dokumennya terlalu cepat, mapnya terbalik, dan isinya berhamburan ke meja — termasuk selembar benda terlaminating yang mendarat tepat di tengah meja, di antara dua laptop, menghadap ke atas dengan lancangnya.
Tisu kontrak itu. Tujuh klausul. Dua tanda tangan.
Hening total.
"... Itu masih Anda simpan." Suara Arga pelan.
"Lo yang laminating." Anara memungutnya dengan gerakan yang berusaha terlihat biasa dan gagal total. "Sayang dibuang. Mahal biaya laminatingnya."
"Dua ribu rupiah."
"Tetep mahal buat selembar tisu."
Tidak ada yang melanjutkan. Mereka kembali bekerja dengan telinga yang sama-sama merah, dan selama satu jam berikutnya, ruangan itu penuh dengan bunyi keyboard yang jauh lebih berisik dari biasanya, karena dua orang sedang mengetik dengan pikiran yang sama sekali tidak ada di dokumen.
***
Jumat malam, laporan itu akhirnya selesai. Pukul sebelas lebih dua puluh menit, untuk catatan sejarah.
Mereka berjalan keluar berdampingan melewati kantor yang sudah gelap, melewati lobi tempat satpam berdiri dengan senyum yang berusaha ia tahan sekuat tenaga — dan gagal.
"Malem, Bu. Malem, Pak. Hati-hati di jalan. Berdua." Satpam itu menekankan kata terakhir dengan tidak halus sama sekali.
Di depan pintu lobi, mereka berhenti. Mobil Anara di timur. Mobil Arga di barat. Kota sudah tidur, dan dua orang itu berdiri di bawah lampu lobi seperti dua orang yang sama-sama tidak ingin malam ini selesai tapi sama-sama tidak tahu cara mengatakannya.
"Laporannya bagus," ucap Anara akhirnya.
"Karena Anda mengerjakannya sambil begadang tiga hari."
"Lo juga tiga hari. Jangan sok jadi korban."
"Saya tidak pernah jadi korban. Saya jadi ..." Arga mencari kata, "... rekan yang sama tidak sehatnya."
"Kita memang enggak pernah sehat, Pak," Anara tertawa kecil. "Dari dulu."
Mereka berdiri di bawah lampu lobi itu beberapa saat lagi, karena malam terlalu bagus untuk diakhiri dengan kata pulang.
"Bagian anggaran lo," ucap Anara akhirnya, menatap ujung sepatunya, "gue baca tiga kali. Rapi banget. Sampai gue curiga lo enggak tidur."
"Bagian jadwal Anda," balas Arga, menatap ujung sepatu yang lain, "saya baca empat kali. Berani. Sampai saya curiga Anda tidak takut apa-apa."
"Tiga kali buat baca, satu kali buat nikmatin."
"Empat kali buat baca. Sisanya ..." Arga berhenti sebentar, dan kalimat itu keluar pelan sekali, seperti barang yang sudah terlalu lama disimpan di gudang, "... tidak saya hitung. Beberapa hal memang tidak pernah bisa saya hitung, Nona. Anda salah satunya."
Kota yang sudah tidur itu tidak mendengar kalimat barusan. Hanya dua orang di bawah lampu lobi, dan satu satpam yang pura-pura tidur di kursinya dengan kuping berdiri tegak.
Hening sebentar. Hening yang kali ini tidak dingin.
"Senin," ucap Anara akhirnya, menatap sepatunya sendiri. "Evaluasi kontrak ... kita lanjutin, enggak? Yang kemarin itu kan ... belum selesai."
Arga menatapnya lama. "Senin," jawabnya. "Tempat biasa?"
"Tempat biasa."
Dua orang itu berpisah ke dua arah, ke dua mobil, ke dua apartemen. Dan malam itu, untuk pertama kalinya dalam tiga minggu, dua orang itu tidur dengan perasaan yang tidak bisa mereka namai, tapi sama-sama berwarna hangat.
Retakan di dinding es itu mulai bersuara, Saudara-saudara. Kalau kalian dengarkan baik-baik, bunyinya seperti musim semi yang datang terlalu malu untuk mengetuk.