Rencana dua mamah itu dijalankan hari Selasa, dengan presisi operasi militer dan kedok yang tidak mencurigakan sama sekali: undangan minum teh sore.
Anara datang ke rumah besar itu dengan curiga yang terlatih. "Jeng Ayu mau ngomongin apa? Kalau mau ngebela Arga, aku—"
"Tante mau minum teh sama kamu. Itu saja." Ayu menuang teh dengan gerakan tenang. "Duduk. Tehnya mahal, sayang kalau dingin."
Mereka minum teh. Lima menit pertama benar-benar hanya minum teh, dan Anara mulai curiga ini jebakan model baru.
Sambil menunggu jebakan itu terbuka, mata Anara berkeliling ruangan — dan berhenti di satu dinding. Di sana, terpajang rapi di samping foto wisuda Arga, ada pigura baru yang belum ada waktu ia datang di acara ulang tahun kemarin.
Artikel majalah itu. Yang dilaminating. Dua CEO Muda, Dari Rival Jadi Mitra — lengkap dengan foto Anara tersenyum profesional dan punggung berjas mahal itu.
"Jeng ... itu dipigura?"
"Iya. Bagus, kan? Komposisinya pas." Ayu menyeruput tehnya tanpa dosa. "Kamu di kanan, dia di kiri. Kayak sudah disusun sama yang di Atas."
"Itu artikel bisnis, Jeng."
"Di rumah ini itu namanya pengharapan." Ayu meletakkan cangkirnya dengan tenang. "Tante ini sudah tua, Nak. Tante berhak punya pajangan yang naif."
Anara tidak tahu harus tertawa atau terharu, jadi ia melakukan dua-duanya sedikit-sedikit, dan untung saat itu juga Ayu mulai bercerita.
Lalu Ayu meletakkan cangkirnya.
"Nak. Tante mau cerita soal dua anak Tante. Bukan buat ngebela siapa-siapa. Cuma buat ngasih kamu bahan, supaya kamu bisa menilai pakai mata kamu sendiri."
Anara diam, tapi tidak berdiri pergi. Itu izin yang cukup untuk Ayu.
"Anak Tante yang sulung itu ... pinter bicara. Dari kecil. Kalau dia salah, dia minta maaf duluan, dengan kata-kata yang bagus sekali, dan semua orang langsung luluh. Tante dulu bangga." Ayu menatap tehnya. "Sampai Tante sadar: minta maaf buat dia itu bukan penyesalan. Itu alat. Dia minta maaf supaya pintunya tetap kebuka, bukan supaya kesalahannya beneran ditutup."
Ia menarik napas.
"Anak Tante yang bungsu itu kebalikannya. Dia itu enggak bisa bicara soal perasaan, Nak. Sumpah, enggak bisa. Mau dibayar juga enggak bisa. Tapi kamu tahu apa yang dia lakukan kalau dia sayang sama orang? Dia perbaiki. Diam-diam. Tanpa minta diakuin. Waktu Tante operasi lima tahun lalu, dia enggak bilang apa-apa, tapi dia tidur di sofa rumah sakit dua belas hari. Dua belas hari, Nak, anak itu kerja dari lorong rumah sakit."
Anara menatap cangkirnya.
"Dan waktu kamu sakit kemarin itu," lanjut Ayu, suaranya melembut, "dia ninggalin tiga rapat, Nak. Tiga. Salah satunya rapat direksi yang dia siapin dua bulan. Anak yang ngitung itu enggak ninggalin rapat direksi demi bubur. Anak yang ngitung itu ngirim kurir, terus lanjut rapat."
Ruangan besar itu hening. Di luar, taman sore berwarna keemasan.
"Tante enggak nyuruh kamu apa-apa," ucap Ayu terakhir. "Tante cuma minta satu: nilai anak Tante yang bungsu itu pakai mata kamu sendiri. Jangan pakai kacamata bekas kakaknya."
***
Dan di hari yang sama, di gedung seberang, bagian kedua dari operasi itu berjalan dengan gaya yang sangat berbeda.
Eva datang ke kantor Arga membawa rantang.
Resepsionis lantai dua belas mengalami krisis eksistensial sore itu: seorang wanita elegan muncul membawa rantang, mengaku sebagai "calon mertuanya Bapak", dan berjalan masuk dengan keyakinan seorang pemilik gedung sebelum sempat ada yang sempat menelepon ke mana-mana.
"Sabar, Mbak, sabar— ibu enggak bisa langsung—" resepsionis itu setengah berlari di belakangnya.
"Oh, aku tahu kok ruangannya. Lurus, kanan, ujung." Eva melambaikan tangan tanpa menoleh. "Aku yang nyuruh dia kerja keras, aku berhak tahu mejanya."
"Siapa ... siapa yang nyuruh, Bu?"
"Aku." Eva menunjuk dirinya sendiri dengan bangga yang salah alamat. "Calon mertuanya. Sudah kubilang dari tadi."
Di belakang meja, dua karyawan yang sedang mengantre tanda tangan saling pandang dengan wajah orang yang baru saja mendapat warisan gosip seumur hidup, dan sore itu juga grup chat karyawan gedung seberang meledak dengan satu kalimat bersejarah: CALON MERTUA TURUN LANGSUNG.
"Tante—" Arga berdiri dari kursinya, kaget untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan. "Ada apa, Tante? Silakan duduk. Perlu saya panggilkan—"
"Duduk, Nak. Tante bawa rendang. Bikin sendiri, bukan beli." Eva meletakkan rantang itu di atas meja kerja yang penuh dokumen, tanpa izin, seperti mamah-mamah pada umumnya. "Kamu kurusan. Makan dulu. Dokumen bisa nunggu, rendang enggak bisa."
Dan karena melawan Eva itu seperti melawan air, Arga Satria Megantara — bos yang ditakuti satu kota — duduk dan makan rendang di meja kerjanya sendiri, di bawah pengawasan calon mertuanya.
Eva memperhatikannya makan dengan tatapan puas seorang petani melihat sawahnya hijau.
"Tante mau bilang satu hal, terus Tante pulang," ucap Eva akhirnya. "Anak Tante pulang dari kafe itu hari Sabtu. Kamu tahu enggak mukanya kayak apa?"
Arga berhenti mengunyah.
"Mukanya lega, Nak. Lega. Kayak orang yang baru selesai ujian yang dia takutin bertahun-tahun." Eva menatap Arga dalam-dalam. "Orang yang baru ketemu cinta lamanya itu mukanya berbinar. Orang yang baru nutup buku itu mukanya lega. Tante ini mamahnya. Tante tahu bedanya dari sebelum dia bisa ngomong."
Arga diam lama. Rendangnya berhenti di tengah jalan.
"Tante enggak datang buat maksa kamu percaya," lanjut Eva, berdiri dan merapikan rantangnya seperti baru saja selesai sidang. "Tante cuma nganterin rendang dan fakta. Sisanya urusan kamu sama keras kepalamu sendiri — yang, ngomong-ngomong, cocok banget sama keras kepala anak Tante. Kalian itu memang duo."
Pintu ruang kerja itu tertutup. Arga duduk sendirian di mejanya, menatap rantang rendang, menatap pintu, lalu menatap jendela yang menghadap gedung seberang — ke arah lantai sepuluh, ke arah satu lampu yang sore itu mulai menyala.
Mukanya lega, katanya.
Sesuatu yang sudah dua minggu membeku di dada pria itu retak sedikit. Sedikit saja. Tapi retakan kecil di bendungan, kalian tahu sendiri, tidak pernah berhenti di retakan kecil.
***
Malam itu, di dua apartemen yang berseberangan kota, dua orang melakukan hal yang sama tanpa tahu satu sama lain.
Anara membuka lacinya dan mengeluarkan tisu terlaminating itu — yang ia pungut dari meja kedai kopi malam itu, yang tidak sanggup ia buang, yang masih menyimpan tujuh klausul dan dua tanda tangan yang mulai memudar.
Arga membuka laci mejanya dan mengeluarkan selembar kertas kecil — catatan bertuliskan "Makasih sudah ngasih tahu. Beneran. — Sebelah" — yang ia ratakan pelan-pelan dengan telapak tangan, seperti merapikan sesuatu yang jauh lebih berharga dari kertas.
Dua orang. Dua benda kecil. Dua keras kepala yang pelan-pelan mulai kehabisan alasan.