Seminggu sebelum presentasi, dua CEO itu berkomunikasi lewat email dan pesan singkat dengan gaya yang membuat sekretaris dan asisten mereka berkeringat dingin: sopan, singkat, dan dingin seperti notaris.
"Terlampir draf pembuka. Mohon koreksi. — A"
"Sudah. Koreksi ada di lampiran. Terima kasih. — S"
"Sip."
"Sip."
Kata "sip" yang terakhir itu membuat asisten Arga hampir pingsan, karena atasannya tidak pernah, tidak pernah seumur hidup, membalas pesan dengan kata "sip".
Hari presentasi itu tiba, dan dua CEO datang dari dua arah yang berbeda, dengan koreografi menghindar yang akan membuat koreografer profesional iri.
Anara tiba lebih awal supaya tidak berpapasan di lobi. Arga, yang juga datang lebih awal dengan tujuan yang sama, mendapati Anara sudah di sana, dan keduanya berdiri di ujung-ujung koridor seperti dua kutub magnet yang dipaksa masuk satu kardus.
"Selamat pagi."
"Pagi."
Empat kata. Itu rekor percakapan terpanjang mereka dalam dua minggu, dan itu menyedihkan.
Presentasinya sendiri berjalan sempurna — itu yang paling menyebalkan. Anara memaparkan dengan tajam, Arga menjawab pertanyaan teknis dengan presisi, slide demi slide berganti tanpa hambatan, dan jajaran Pratama mengangguk-angguk puas. Dari luar, duo itu tampak solid seperti baja.
Bahkan ada satu momen ketika seorang direktur Pratama melempar pertanyaan jebakan soal risiko anggaran, dan tanpa berdiskusi, tanpa saling menoleh, dua bos itu menjawab secara bergantian — Anara membuka dengan kerangka besar, Arga menutup dengan angka pendukung — mulus seperti satu suara yang dibagi dua paru-paru.
Satu meja jajaran Pratama terkesima.
Dan dua bos itu, menyadari apa yang baru saja mereka lakukan dengan refleks, buru-buru kembali menatap laptop masing-masing dengan kaku, seperti dua orang ketahuan berpegangan tangan di ruang gelap.
Otot itu masih ada, rupanya. Duo itu masih ada. Cuma engselnya yang sedang seret.
Hanya satu orang di ruangan itu yang tidak tertipu.
Pak Handoko duduk di ujung meja dengan tatapan seorang kakek yang menonton dua cucunya berpura-pura baik-baik saja. Ia tidak banyak bicara selama presentasi — sesuatu yang untuk ukuran Pak Handoko sama langkanya dengan komet.
Dan ketika presentasi selesai dan semua orang berdiri untuk pergi, pria tua itu mengangkat tangannya.
"Kalian berdua. Tinggal dulu."
Ruang rapat besar itu kosong dalam satu menit. Tinggal tiga orang: seorang veteran tiga puluh tahun, dan dua anak muda yang berdiri dengan jarak dua kursi di antara mereka, seperti dua tersangka di ruang interogasi.
Pak Handoko menatap mereka bergantian. Lama. Sampai suasana tidak nyaman, lalu makin tidak nyaman.
"Saya mau cerita sedikit," ucapnya akhirnya. "Tahun sembilan puluhan, saya pernah punya partner bisnis. Kami berdua bangun perusahaan dari garasi. Lalu kami bertengkar — masalah kecil, saya bahkan sudah lupa masalahnya apa. Kami dua-duanya gengsi minta maaf. Tahu berapa lama kami tidak bicara? Tujuh tahun. Perusahaannya pecah dua. Dua-duanya bangkrut pelan-pelan, karena ternyata kami berdua memang cuma bisa kuat kalau bareng."
Ia menyandarkan badan ke kursinya.
"Kalian berdua itu duo, Nak. Duo itu kayak gunting: dua bilah, satu engsel. Kalau engselnya rusak, dua bilah itu cuma dua potong besi yang enggak bisa motong apa-apa." Pak Handoko menunjuk mereka satu per satu. "Saya enggak nanya apa yang patah. Bukan urusan saya. Tapi saya mau bilang satu hal, dan ini gratis: yang patah itu masih bisa diperbaiki, asal dua-duanya mau pegang lemnya. Gengsi itu mahal harganya, Nak. Lebih mahal dari proyek ini."
Dua anak muda itu diam. Handoko mengangguk puas, seperti petani yang selesai menanam bibit.
"Sekarang soal pekerjaan, karena saya ini kan klien, bukan panti konseling." Ia menyodorkan satu map. "Laporan akhir tahap tiga. Saya mau laporan ini dikerjakan kalian berdua, langsung, satu ruangan, satu minggu. Bukan lewat tim. Bukan lewat email. Berdua. Anggap ini titipan saya."
"Pak Handoko, sebenarnya tim kami bisa—" Anara mulai.
"Kalian berdua. Satu ruangan. Satu minggu." Pak Handoko berdiri, menepuk bahu keduanya bergantian, dan berjalan keluar sambil bersenandung. Bersenandung, Saudara-saudara. Pria tua itu tahu persis apa yang sedang ia lakukan.
Ruangan besar itu tinggal mereka berdua dan satu map titipan di atas meja.
"Kapan mulai?" tanya Anara pada map itu, bukan pada orangnya.
"Senin. Jam sembilan." Arga juga bicara pada map itu. "Bawa dokumen Anda."
"Siap."
Dan mereka keluar lewat dua pintu yang berbeda, meninggalkan ruangan yang sama, membawa pikiran yang sama, menuju dua arah yang masih berbeda.
***
Pulangnya, mereka terjebak di lift yang sama untuk pertama kalinya dalam dua minggu.
Dua puluh tiga lantai turun. Dua puluh tiga lantai keheningan yang berbunyi lebih keras dari musik lift mana pun.
Di lantai sembilan, Anara akhirnya menyerah pada keheningan itu.
"Anda kurusan."
Arga menoleh sekilas. "Anda juga."
"Direksi lo tahu lo enggak pulang-pulang?"
"Perusahaan Anda tahu Anda begadang terus?"
Saling balas. Saling serang. Dan anehnya — jangan beri tahu mereka berdua — itu adalah percakapan paling jujur yang mereka lakukan selama dua minggu, karena dimulai dari perhatian yang menyaru jadi serangan.
Pintu lift terbuka di lobi. Mereka keluar ke dua arah yang berlawanan. Dan di depan pintu kaca masing-masing, dua orang itu menoleh ke belakang di detik yang sama, berharap menangkap bayangan satu sama lain — dan sama-sama pura-pura tidak menoleh ketika sadar yang satunya juga menoleh.
Malam itu, ponsel Anara bergetar. Pesan dari "Seberang (Proyek)" — pesan kerja pertama dalam dua minggu.
"Besok jam sembilan. Lantai sembilan, ruang meeting B. Bawa dokumen tahap tiga Anda."
Anara mengetik: "Baik. Sampai besok."
Lalu jempolnya mengetik lagi, di luar kendali: "Kopi susu lo masih—"
Dihapus.
Di apartemen seberang kota, Arga menatap balasan "Baik. Sampai besok." itu, lalu mengetik: "Sudah makan?"
Ditatapnya dua detik. Dihapus juga.
Dua orang, dua ponsel, dua pesan yang tidak jadi terkirim. Kalau ada lomba menahan diri tingkat nasional, dua-duanya pasti masuk final — dan dua-duanya akan kalah di final, karena terlalu sibuk memikirkan lawan mainnya.
Di kamarnya, Mikhaella menerima laporan hari itu lewat telepon, mendengarkan sampai habis, lalu mengeluarkan satu kalimat yang akan ia banggakan selama bertahun-tahun:
"TUH KAN. Semesta aja capek lihat kalian berdua."
"Lo enggak simpati dikit, nih?"
"Enggak. Gue terlalu seneng buat simpati." Terdengar suara seruputan boba yang panjang dan puas. "Satu minggu satu ruangan, Ra. Gue kasih kalian berdua waktu tiga hari sebelum tisu itu keluar lagi dari laci. Mau taruhan?"
"Gue enggak taruhan soal ini."
"Lo takut menang," jawab Mikhaella, dan menutup telepon dengan kemenangan seorang cenayang.