Dua minggu berlalu sejak malam di kedai kopi pojok itu, dan kota tidak tahu apa-apa. Kota memang selalu begitu — langitnya cerah, macetnya normal, kopinya tetap dijual. Tapi di dua gedung yang berdiri berseberangan itu, musim dingin sedang berlangsung dengan khidmat.
Tanda pertamanya kecil: kopi susu jam delapan malam berhenti.
Malam pertama tanpanya, Anara mendapati dirinya menatap pintu ruang kerjanya pukul delapan lewat lima, seperti orang yang menunggu kereta di stasiun yang sudah ditutup. Ia akhirnya memesan sendiri lewat aplikasi, dan kopinya datang, dan rasanya ... salah. Bukan kurang manis, bukan kurang es. Hanya salah, dengan cara yang tidak bisa dijelaskan ke kurir mana pun.
Di gedung seberang, Arga bekerja lebih lama dari biasanya — yang berarti ia praktis pindah ke kantor. Laporan-laporan selesai lebih cepat, rapat-rapat berjalan efisien, angka-angka menari dengan patuh. Secara statistik, dua perusahaan itu sedang dalam performa terbaiknya.
Ada satu malam ketika Anara, pulang dari meeting di luar, tanpa sadar menyuruh supir berhenti di depan kedai kopi kecil di pinggir kota itu. Ia turun, berdiri di depan pintunya, menatap meja pojok yang kosong lewat kaca.
Sang barista melihatnya dari dalam. Mata mereka bertemu sebentar. Pria itu setengah mengangkat tangan — entah untuk menyapa, entah untuk bertanya kenapa sendirian.
Anara tidak masuk. Ia menggeleng kecil, tersenyum tipis yang lebih mirip luka, dan kembali ke mobilnya. Dari dalam, sang barista menatap kepergiannya, lalu menatap meja pojok itu, lalu — demi alasan yang tidak ia mengerti sendiri — mengelap meja itu malam itu dengan lebih hati-hati dari meja-meja lainnya.
Meja itu tidak boleh diisi orang lain dulu. Bukan sekarang. Belum.
Secara perasaan, dua perusahaan itu sedang komat.
Meeting koordinasi mingguan berubah jadi upacara pemindahan dokumen. Dua bos duduk di dua ujung meja — mereka bahkan tidak lagi duduk berseberangan seperti dulu, karena berseberangan berarti saling pandang, dan saling pandang sekarang terlalu berbahaya. Pertanyaan disampaikan lewat asisten. Persetujuan disampaikan lewat anggukan. Suatu hari, satu-satunya dialog yang terjadi selama dua jam adalah:
"Nona, dokumennya."
"Pak, sudah."
Lima kata. Anak-anak magang mencatatnya sebagai dialog terpanjang minggu itu, dan seorang karyawan senior sampai membeli kue kecil untuk merayakannya — yang kemudian dimakannya sendiri dengan sedih.
"Produktivitas naik dua belas persen," lapor sekretaris Anara, lalu menambahkan tanpa diminta, dengan hati-hati, "tapi kantin turun empat puluh persen, Bu. Semua orang makan cepat-cepat. Takut salah bicara."
Di lobi, sang satpam menyampaikan analisisnya kepada monitor CCTV dengan nada berkabung. "Mereka sekarang sopan beneran, Pak." Ia menggeleng pada kawan satpamnya. "Dulu sopan pura-pura, itu masih ada harapannya. Sekarang sopan beneran. Saya kangen yang pura-pura."
***
Sabtu sore, Mikhaella menyeret Anara keluar dari apartemennya dengan kekuatan seorang sahabat yang sudah habis kesabaran, dan mendudukkannya di depan segelas boba taro.
"Ngomong," perintah Mikhaella.
"Enggak ada yang mau diceritain."
"Ra. Lo dua minggu enggak nyebut nama Arga. DUA MINGGU. Rekor lo sebelumnya lima belas kali seminggu. Sekarang nol. Ini bukan kemajuan, ini gawat darurat."
Anara memainkan sedotannya lama sekali, mengaduk boba yang tidak perlu diaduk.
"Gue kangen, Mik," akunya akhirnya, pelan. "Bukan kangen ... ah, gue bahkan enggak tahu kangen apa. Kangen berantemnya aja kangen. Kangen dia nyebelin. Kangen dia komenin rendang gue. Kangen nilai-nilai kopi susu." Ia menatap gelasnya. "Gila enggak sih. Dulu yang bikin gue kuat itu musuhnya. Sekarang musuhnya pergi, gue malah kehilangan tenaga."
Mikhaella tidak menjawab dengan lelucon, dan itu menandakan betapa seriusnya situasi ini.
"Ra. Kalau kangen itu ada batas wajarnya," ucapnya pelan, "lo udah lewatin jauh banget."
Anara tidak membantah. Ia hanya menyeruput bobanya sampai berbunyi panjang, dan Mikhaella membiarkan bunyi itu mengisi keheningan, karena sahabat yang baik tahu kapan harus bicara dan kapan harus membiarkan seseorang berdamai dengan isi kepalanya sendiri.
Di sisi kota yang lain, di rumah besar yang sepi, seorang ibu sedang menghitung hari dengan cara seorang ibu: anak bungsunya sudah tiga minggu tidak pulang, dua minggu tidak mengangkat telepon lebih dari tiga puluh detik, dan satu minggu terakhir hanya membalas pesan dengan kata "baik" dan "iya".
Ayu akhirnya datang sendiri ke apartemen anaknya, membawa sop yang akhirnya dingin di atas meja, dan mendapati apartemen itu bersih seperti kamar hotel — tidak ada jejak orang tinggal, hanya jejak orang bekerja.
"Nak. Kamu makan enggak?"
"Makan, Bu."
"Kamu tidur enggak?"
"Tidur, Bu."
Ayu menatap anaknya lama. Dua jawaban itu benar secara teknis dan bohong secara keseluruhan, dan seorang ibu selalu bisa membedakannya.
Wanita itu berkeliling sebentar — membuka kulkas (air putih dan tiga gelas mie instan), mengintip tempat sampah (kotak-kotak pesan antar), lalu berhenti di meja kerja anaknya. Di sana ada tumpukan dokumen yang rapi dan satu gelas kopi kering yang sudah lama tidak dicuci.
"Nak. Ibu dengar kamu ninggalin rapat direksi minggu lalu."
Arga tidak menoleh dari laptopnya. "Siapa yang cerita?"
"Orang-orang cerita ke Ibu. Kamu tahu dunia ini sempit buat Ibu." Ayu duduk di tepi sofa. "Dua puluh tujuh tahun Ibu asuh kamu, kamu enggak pernah ninggalin apa pun. Sekali pun enggak pernah. Terus minggu lalu kamu ninggalin tiga rapat dalam satu malam ... dan sekarang kamu kayak gini."
"Saya baik-baik saja, Bu."
"Iya. Kamu selalu baik-baik saja. Itu masalahnya." Ayu berdiri, mencium puncak kepala anak bungsunya seperti waktu anak itu masih sekolah, dan berkata pelan sebelum pergi, "Orang yang enggak pernah izin sakit itu, Nak, pas beneran sakit suka lupa cara ngobatnya."
Malam itu, Ayu menelepon Eva, dan dua komplotan itu untuk pertama kalinya berdiskusi tanpa semangat berperang.
"Jeng," ucap Ayu lirih, "kita harus ngapa-ngapain. Tapi pelan-pelan. Dua anak itu sekarang kayak gelas retak. Kalau kita pegang terlalu keras, pecah beneran."
"Aku tahu," jawab Eva. "Aku punya rencana. Kamu pegang anakku, aku pegang anakmu."
"Tukeran?"
"Anak-anak itu kalau dinasihati mamahnya sendiri pasti nolak. Tapi kalau dinasihati mamahnya orang lain ..." Eva menyeringai di seberang telepon. "Mereka sungkan nolak."
Dan semesta pun mencatat: dua mamah itu resmi turun tangan.
***
Senin pagi, sebelum rencana apa pun sempat dijalankan, satu email masuk ke dua kotak masuk sekaligus, dari satu pengirim yang tidak bisa ditolak siapa pun: Pratama Group.
Isinya singkat: presentasi besar tahap tiga. Seminggu lagi. Dua CEO wajib hadir. Wajib berdua. Tanpa kecuali.
Di lantai sepuluh, Anara menatap email itu sampai huruf-hurufnya kabur.
Di lantai dua belas gedung seberang, Arga melakukan hal yang persis sama.
Semesta, rupanya, juga sudah kehabisan kesabaran.