Senin pagi, kantor lantai sembilan mendapatkan kembali pemandangan yang sudah lama hilang: dua bos itu dingin lagi.
Bukan dingin seperti dulu — dulu mereka dingin karena bermusuhan. Kali ini dinginnya beda. Dingin yang ini lebih halus, lebih sopan, dan jauh lebih menyakitkan, karena keduanya sudah tahu rasanya hangat.
"Nona, dokumennya sudah saya tandatangani."
"Oke. Makasih, Pak."
Makasih, Pak. Dua kata itu mendarat di ruang meeting seperti barang asing. Dua tim di sekeliling meja saling bertukar pandang dengan alarm menyala di mata masing-masing.
"Mereka ribut lagi?" bisik anak buah Anara di area merokok.
"Bukan ribut," jawab anak buah Arga yang lebih berpengalaman. "Ribut itu masih ada suaranya. Ini ... ini kayak TV yang dimatiin mendadak. Lebih serem."
Di lobi, satpam yang berpengalaman memantau CCTV angkat bicara dengan wibawa seorang analis senior. "Kali ini beda," ucapnya kepada monitornya. "Yang kemarin-kemarin itu pura-pura. Yang sekarang ... beneran. Ada yang salah."
Bapak itu benar, seperti biasa. Satpam memang selalu tahu.
***
Yang paling menyiksa Anara bukan kedinginan Arga. Yang paling menyiksanya adalah: pria itu tidak bertanya apa pun.
Tidak bertanya bagaimana pertemuannya dengan Dave. Tidak bertanya apa yang dibicarakan. Tidak bertanya apa pun tentang Sabtu itu — seolah-olah pertemuan itu memang benar-benar bukan urusannya, seolah-olah klausul-klausul itu benar-benar hanya klausul, seolah-olah bubur jam tujuh malam dan selimut yang disampirkan tanpa suara itu memang cuma bagian dari pengiriman kopi susu.
Dia bisa kelihatan sayang padahal lagi ngitung.
Kalimat Dave itu tumbuh. Pelan-pelan, di sela-sela hari, di antara meeting dan laporan, kalimat itu tumbuh seperti rumput liar yang tidak diundang.
Kopi susu jam delapan malam — langkah yang dihitung? Rendang "buat meja" — langkah yang dihitung? Teh jahe, selimut, mobil yang melaju pelan supaya penumpangnya tidak terbangun — langkah yang dihitung semua?
Anara membenci dirinya sendiri karena memikirkan hal-hal itu. Tapi keraguan memang tidak perlu izin untuk masuk, Saudara-saudara. Keraguan itu maling, dan maling tidak pernah mengetuk pintu.
Di video call Kamis malam, Mikhaella memandang wajah kusut sahabatnya dan langsung membaca situasi seperti membaca label harga.
"Dia enggak nanya apa-apa soal Sabtu?"
"Enggak. Nol. Seolah enggak terjadi apa-apa."
"Dan lo kesel karena dia enggak nanya."
"Gue kesel karena ..." Anara berhenti, menggeram frustrasi. "Iya. Gue kesel karena dia enggak nanya. Kalau dia enggak nanya, artinya dia enggak peduli. Kalau dia enggak peduli, artinya ... selama ini ..."
"Ra." Mikhaella mencondongkan wajahnya ke kamera. "Gue mau nanya satu hal, dan lo jawab pakai otak, jangan pakai panik. Lo yakin dia enggak nanya karena enggak peduli? Atau karena dia ... takut tahu jawabannya?"
Anara terdiam.
"Cowok kayak dia, Ra — cowok yang dari kecil kalah saing sama kakaknya sendiri di rumahnya sendiri — cowok kayak gitu kalau diem, bukan karena enggak ada isi. Tapi karena isinya kebanyakan, dan dia enggak tahu mulai dari mana." Mikhaella menyeruput bobanya. "Itu analisis gue. Gratis. Biasanya gue tarif."
"Tapi gimana kalau Dave bener? Gimana kalau selama ini semua cuma—"
"Stop." Mikhaella mengangkat tangannya ke kamera. "Ra. Lo mau percaya analisis cowok yang bohongin dua perempuan sekaligus selama dua tahun? Atau mata lo sendiri yang udah lihat orang itu tiap hari selama setahun?"
Pertanyaan itu menggantung di udara kamar apartemen Anara lama sekali setelah video call berakhir.
***
Jumat malam, evaluasi dua mingguan digelar sesuai jadwal di kedai kopi pojok. Tapi kali ini suasananya beda. Kali ini tidak ada lelucon tentang pasangan kontrak tisu dari sang barista, karena sang barista — yang punya insting lebih tajam dari seluruh dewan direksi — membaca udara dan memilih mundur teratur ke balik mesin kopinya.
Arga datang dengan map kulitnya. Dan yang ia keluarkan dari map itu membuat jantung Anara mencelos: tisu terlaminating itu. Kontrak mereka.
"Saya mengusulkan satu agenda tambahan malam ini," ucap Arga dengan suara yang rapi seperti meja kerjanya. "Evaluasi relevansi kontrak."
Anara menatapnya. "Maksud lo?"
"Keadaan sudah berubah." Arga meletakkan tisu itu di meja, hati-hati, seperti meletakkan sesuatu yang rapuh. "Gosip mereda. Proyek berjalan stabil. Dan ... kakak saya sudah kembali. Anda sudah menemuinya." Ia menarik napas, pelan sekali, terkontrol sekali. "Menurut saya, alasan utama kontrak ini ada — mengendalikan keadaan — sudah tidak relevan. Klausul lima tersedia. Anda bisa menggunakannya kapan saja. Atau saya yang menggunakannya, kalau itu lebih mudah untuk Anda."
Kedai kopi kecil itu mendadak terasa sangat sunyi.
"Jadi gitu." Suara Anara keluar pelan. "Lo denger gue ketemu kakak lo, dan keputusan lo adalah ... nutup kontrak. Bukan nanya gue apa yang dibicarain. Bukan nanya gue baik-baik aja atau enggak. Langsung nutup kontrak."
"Saya tidak punya hak bertanya, Nona."
"ITU YANG PALING GUE BENCI DARI LO!" Anara meledak, dan dua pelanggan di meja jauh menoleh, dan ia tidak peduli. "Lo selalu berlindung di balik kata hak dan relevan dan profesional! Lo enggak pernah sekali pun bilang apa yang sebenernya lo rasain! Satu kali aja! Sekali aja, Arga!"
Arga diam. Lama. Dan ketika ia akhirnya bicara, suaranya bukan lagi suara CEO, bukan juga suara sekutu — tapi suara seorang anak laki-laki yang sudah lama sekali menyimpan sesuatu di rumah besar yang sepi.
"Seumur hidup saya, orang selalu memilih dia." Arga menatap tisu terlaminating itu, bukan menatap Anara. "Teman-teman saya. Guru-guru favorit. Perempuan-perempuan yang dulu mendekat — semua pada akhirnya penasaran sama kakak saya. Dia tidak perlu melakukan apa-apa. Dia cukup ada, dan semua orang berjalan ke arahnya seperti besi ke magnet." Ia menelan ludah. "Saya sudah berdamai dengan itu sejak lama, Nona. Saya membangun hidup yang tidak butuh dipilih siapa-siapa. Lalu Anda datang, dan untuk pertama kalinya saya ..." ia berhenti, memilih kata, dan memilih salah, dan ia tahu ia memilih salah, "... lupa aturan mainnya. Maka ketika dia kembali, dan Anda menemuinya, saya tidak bertanya apa-apa. Karena saya sudah tahu bagaimana cerita seperti ini selalu berakhir. Saya hanya ... mempercepat bagian akhirnya. Supaya tidak terlalu sakit."
Anara menatap pria di depannya itu, dan hatinya remuk di dua tempat sekaligus: remuk karena akhirnya mendengar kejujuran yang ia tunggu-tunggu, dan remuk karena kejujuran itu keluar bukan untuk memperjuangkan sesuatu — melainkan untuk menyerah.
"Gue bukan mereka," ucap Anara pelan. "Gue bukan orang-orang yang jalan ke arah dia. Gue justru orang yang paling tahu dia itu apa."
"Tapi Anda tetap menemuinya."
"Buat nutup buku! Bukan buat buka yang baru!" Anara memukul meja dengan ujung jarinya. "Lo tahu apa yang dia omongin soal lo, Sabtu itu? Dia bilang lo pinter nyimpen perasaan, bilang lo bisa kelihatan sayang padahal lagi ngitung. Dan sekarang lo duduk di depan gue, nutup semuanya pakai kalimat yang rapi, dan gue ..." suaranya patah sedikit, sangat sedikit, "... gue benci banget karena untuk satu detik tadi, gue hampir percaya dia."
Hening.
Arga menatapnya, dan untuk sepersekian detik ada sesuatu yang bergerak di matanya — sesuatu yang hampir menjadi keputusan lain, kalimat lain, akhir cerita lain.
Tapi kebiasaan dua puluh tujuh tahun itu lebih cepat dari sepersekian detik.
"Maka kita berdua sama-sama tahu kontrak ini memang sudah waktunya dievaluasi," ucapnya akhirnya, lirih. "Selamat malam, Nona. Dokumen tahap tiga akan saya kirim Senin."
Arga berdiri, mengangguk sopan, dan berjalan keluar dari kedai kopi itu — meninggalkan tisu terlaminating di atas meja, meninggalkan dua gelas yang tidak habis, dan meninggalkan seorang perempuan yang malam itu belajar satu hal baru: bahwa patah hati ternyata tidak harus pacaran dulu.
Sang barista mengintip dari balik mesin kopi, dan untuk pertama kalinya sejak kedai ini menjadi markas mereka, ia tidak menyiapkan dessert gratis apa pun.
Beberapa episode memang bukan episode yang manis.
Di luar, malam turun biasa saja, tidak tahu apa-apa. Anara duduk sendirian di meja pojok itu, memandangi tisu terlaminating dengan tujuh klausul yang dulu mereka tulis dengan tawa, dan menunggu sesuatu di dadanya berdebar seperti biasa.
Kali ini tidak ada DEG!
Yang ada hanya sesak, yang berjalan pelan-pelan, mencari tempat duduknya sendiri.