Dave datang tujuh menit lebih awal, tentu saja. Dia selalu datang lebih awal — itu bagian dari paket pesonanya, seperti senyum yang pas dan jaket yang selalu mahal.
"Ra." Ia berdiri, menyambut dengan senyum yang dulu bisa meluluhkan satu ruangan. "Lo makin cantik. Beneran. Bukan basa-basi."
"Kita cuma punya satu jam, Dave." Anara duduk, tidak memesan apa pun selain air putih. Sinyal yang jelas: saya tidak berencana tinggal.
"Satu jam pun cukup." Dave duduk kembali, tidak tersinggung sedikit pun, dan justru di situlah letak bahayanya — pria ini tidak pernah tersinggung, tidak pernah kehilangan kendali wajahnya.
Sepuluh menit pertama dihabiskannya dengan aman: kabar kerja, kota yang berubah, kafe ini yang katanya baru tapi rasanya lama. Ia bertanya soal perusahaan Anara dengan antusiasme yang terdengar tulus, memuji gedung lima belas lantai itu seperti memuji prestasi keluarga sendiri.
"Gue selalu tahu lo bakal sebesar ini," ucapnya. "Dulu waktu lo cerita mau bangun perusahaan dari kamar kos, gue yang paling yakin."
Dalam hati Anara, sebuah catatan kecil muncul tanpa diminta: dulu, orang itu tidak pernah datang ke kamar kosnya. Yang datang malah kesal karena ia terlalu sibuk. Tapi Anara menyimpan catatan itu rapat-rapat, karena hari ini ia datang untuk menutup buku, bukan membuka halaman lama.
"Gue mau mulai dari yang paling penting: gue minta maaf, Ra. Untuk semuanya. Untuk Mikhaella. Untuk dua tahun yang lo buang buat orang yang enggak pantes."
Anara menatapnya. Permintaan maaf itu bagus. Rapi. Hampir meyakinkan.
"Gue tahu lo enggak percaya," lanjut Dave, membaca keraguannya dengan akurat. "Enggak apa-apa. Gue enggak minta langsung dipercaya. Gue cuma minta satu hal: kesempatan buat mulai lagi. Bukan pacaran — gue enggak segoblok itu. Temenan. Dari nol."
"Kenapa?"
"Karena dua tahun di luar negeri ngajarin gue satu hal: orang yang paling gue rugikan adalah orang yang paling gue butuhkan maafnya." Dave menatapnya dengan mata yang dulu juga bisa mencairkan es. "Dan karena ... jujur, Ra, gue kangen temen gue."
Untuk sepersekian detik, Anara hampir mempercayainya. Hampir. Karena begitulah Dave — ia selalu tahu kalimat yang tepat, di momen yang tepat, dengan nada yang tepat.
Lalu pria itu menyesap kopinya, dan dengan santai, seperti membicarakan cuaca, menjatuhkan bomnya.
"Oh iya. Gue lihat artikelnya. Majalah itu. Foto-foto gala itu juga." Ia tersenyum tipis. "Adek gue, ya? Arga. Dunia memang kecil banget, ternyata."
Bahu Anara menegang sepersekian milimeter. "Itu urusan kerja."
"Urusan kerja." Dave mengangguk-angguk, tidak membantah, justru itu yang berbahaya. "Ra, gue mau ngomong sesuatu, dan gue mau lo dengerin bukan sebagai mantan, tapi sebagai orang yang kenal Arga lebih lama dari lo."
"Dave—"
"Dia pinter, Ra. Pinter banget. Lebih pinter dari gue, dan lo tahu gue enggak pernah ngakuin itu ke siapa-siapa." Dave mencondongkan tubuhnya sedikit. "Tapi ada satu hal yang lo harus tahu soal adek gue: dia tumbuh di rumah yang dingin. Dia belajar dari kecil bahwa perasaan itu barang berbahaya yang harus disimpen rapat-rapat. Hasilnya? Dia jadi orang yang bisa kelihatan sayang padahal lagi ngitung. Bisa kelihatan peduli padahal lagi nyusun langkah."
"Lo enggak kenal dia seperti apa sekarang—"
"Justru gue kenal dia sebelum dia jadi seperti sekarang." Suara Dave melembut, dan kelembutan itu disampaikan dengan presisi bedah. "Gue enggak bilang dia jahat, Ra. Gue cuma bilang: hati-hati. Lo itu perempuan paling tulus yang pernah gue kenal, dan orang tulus itu selalu jadi yang paling gampang dilukai sama orang yang pinter nyimpen perasaan." Ia berhenti sejenak, menatap Anara dalam. "Gue ngomong ini karena gue masih sayang sama lo. Sebagai teman. Titik."
Satu jam itu akhirnya habis. Anara menutup pertemuan dengan sopan, menolak tawaran diantar, dan berjalan keluar kafe dengan langkah tegap.
Tegap di luar.
Di dalam, ada sesuatu yang retak tipis — bukan karena ia percaya Dave, tapi karena ia tidak bisa seratus persen yakin bahwa Dave salah. Dan ketidakyakinan satu persen, ditanam di tanah yang tepat, bisa tumbuh jadi hutan.
Sepanjang jalan pulang, Anara berkelahi sendirian dengan kalimat itu.
Dia bisa kelihatan sayang padahal lagi ngitung.
Bohong, teriak sebagian dirinya. Orang yang ngitung tidak mungkin mengirim kopi susu jam delapan malam tanpa diminta. Tidak mungkin membelikan sandal jepit karet di tengah tanah liat. Tidak mungkin menyetir lebih pelan supaya penumpangnya tidak terbangun.
Tapi sebagian dirinya yang lain — bagian yang dua tahun lalu pernah hancur karena percaya orang yang salah — berbisik pelan: dulu kamu juga yakin Dave sayang. Yakin sekali, malah.
Dan itulah masalahnya dengan orang yang pernah dikhianati: mereka tidak lagi takut pada orang jahat. Mereka takut pada perasaan yakin mereka sendiri.
Di belakangnya, di meja sudut kafe itu, Dave menatap kepergiannya lama sekali. Lalu ia mengambil ponselnya, mengetik satu pesan, dan tersenyum kecil pada layarnya sendiri.
***
Malam itu, di apartemennya, Anara melakukan sesuatu yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya: ia membuka chat dengan "Seberang (Proyek)" dan mengetik, bukan soal pekerjaan.
"Gue habis ketemu Dave. Ada yang dia bilang soal lo yang—"
Dihapus.
"Hari ini berat. Besok evaluasi kontraknya gimana kalau dimajuin?"
Dihapus juga.
"Lo lagi ngapain?"
Ditatapnya tiga detik, lalu dihapus paling cepat dari semuanya, disertai geraman pelan pada dirinya sendiri.
Pada akhirnya Anara mengunci ponselnya tanpa mengirim apa-apa, karena ia tidak tahu cara menceritakan hari ini tanpa terdengar seperti sedang meminta sesuatu yang tidak ada di dalam kontrak.
Di seberang kota, di apartemen yang sunyi, ponsel Arga bergetar sekali — notifikasi bahwa seseorang sedang mengetik — lalu diam. Lalu bergetar lagi. Lalu diam lagi. Lalu tidak sama sekali.
Arga menatap layar itu sampai padam, dan tidak menanyakan apa-apa. Malam itu, dua orang di dua apartemen sama-sama menatap ponsel masing-masing, sama-sama menunggu, dan sama-sama tidak mengirim apa-apa.
Jarak dua gedung itu tidak pernah terasa sejauh ini.
Malam itu juga, di apartemennya yang sunyi, Arga Satria Megantara menerima satu panggilan dari nomor yang sudah dua tahun tidak pernah ia angkat.
Kali ini ia mengangkatnya.
"Dek." Suara di seberang sana santai, akrab, seperti mereka baru bicara kemarin. "Gue ketemu Anara hari ini. Obrolan bagus. Dia masih cantik kayak dulu, ya? Masih gampang juga dengerin orang."
"Dave—"
"Gue cuma mau bilang satu hal, Dek." Suara itu melembut dengan cara yang membuat bulu kuduk berdiri. "Jangan terlalu nyaman. Lo tahu sendiri kan, dari kecil, semua yang lo punya ... pada akhirnya selalu dateng ke gue duluan."
Telepon itu ditutup.
Arga berdiri di tengah apartemennya yang gelap, ponsel masih di tangan, menatap gedung seberang lewat jendela — ke arah satu lampu di satu apartemen yang malam itu menyala sampai larut.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, pria yang tidak pernah gentar menghadapi apa pun itu gentar.
Bukan karena ancaman kakaknya.
Tapi karena ia tidak tahu harus menjawab apa, kalau suatu hari Anara bertanya: bagian mana dari semua ini yang asli, dan bagian mana yang cuma langkah yang sudah dihitung?