Pesan itu mengendap di ponsel Anara selama tiga hari.
Tiga hari yang dihabiskan Anara dengan cara yang tidak produktif sama sekali: membaca ulang pesannya, mengetik balasan, menghapusnya, mengetik balasan lain, menghapusnya lagi, lalu menggeram pada ponselnya sendiri seperti ponsel itu yang salah.
Balasan pertama yang ia ketik: "Enggak usah. Udahan." Terlalu galak, pikirnya, kesannya masih ada luka.
Balasan kedua: "Boleh. Kapan?" Terlalu ramah, kesannya masih ada harapan.
Balasan ketiga: "Maaf, sibuk." Terlalu dingin, kesannya masih dipikirin.
Balasan keempat sempat berbunyi: "Terima kasih atas pesannya. Perihal pertemuan akan kami jadwalkan melalui sekretaris." Anara menatapnya sendiri dengan ngeri. Ini balasan buat mantan atau balasan buat vendor? Dihapus juga.
Balasan kelima cuma satu kata: "Nanti." Misterius, tapi misterius bukan tujuannya.
Astaga. Tiga tahun membangun perusahaan dari kamar kos, dan perempuan ini kalah oleh satu balasan pesan singkat.
Akhirnya, seperti semua krisis besar dalam hidupnya, Anara membawanya ke pengadilan tertinggi: video call dengan Mikhaella.
"Ketemu aja." Jawaban Mikhaella datang cepat, mengejutkan.
"Lo serius?"
"Ra, dengerin." Mikhaella membenarkan kacamata bundarnya. "Dua tahun lalu, nama dia aja bikin lo enggak bisa tidur seminggu. Sekarang lo bisa baca pesannya, mikirin balasannya tiga hari, dan tetep masuk kerja tiap pagi. Lo tahu artinya apa? Artinya lo udah sembuh. Orang sembuh boleh ketemu mantan sakitnya, buat ngecek bahwa dia beneran udah enggak sakit."
"Atau artinya gue masih goblok."
"Itu juga opsi," akui Mikhaella. "Tapi gue kenal lo. Kalau lo enggak ketemu, lo bakal mikirin terus. Ketemu aja. Satu jam. Tempat ramai. Siang bolong. Pulang-pulang, tutup buku, tamat."
"Oke. Gue catat. Satu jam, tempat ramai, siang bolong."
"Oh iya, satu statistik pendukung sebelum lo mutusin." Mikhaella mengeluarkan ponsel keduanya dengan gaya pembawa berita. "Seminggu terakhir, lo nyebut nama Dave tiga kali ke gue. Dan nyebut nama Arga ... lima belas kali. LIMA BELAS, Ra. Statistik enggak pernah bohong. Hati lo udah pindah alamat, tinggal lo sendiri yang belum sadar."
"Mik—"
"Lima belas. Gue enggak akan capek ngulanginnya."
Anara melempar bantal ke arah layar ponselnya, yang tentu saja tidak mengenai apa-apa selain kasurnya sendiri.
Ada satu orang lagi yang harus diberi tahu, dan Anara memberi tahunya di sela meeting koordinasi, dengan gaya yang ia usahakan sesantai mungkin.
"Oh iya. Dave ngajak gue ketemu. Sabtu ini. Sekadar ngobrol."
Suasana di sisi meja seberang berubah sepersekian derajat. Arga tidak menoleh dari dokumennya, tapi pena di tangannya berhenti bergerak.
"Itu hak Anda," ucapnya akhirnya, datar sekali.
"Cuma itu yang mau lo bilang?"
"Memangnya Anda mengharapkan saya bilang apa?" Arga mengangkat wajahnya, dan ekspresinya adalah ekspresi paling profesional yang pernah ada — tebal, rapi, dan tidak tembus pandang. "Kontrak kita mengatur hubungan kita dengan pihak luar secara seragam. Selama Anda tidak memberikan pernyataan yang berbeda ke publik, siapa pun yang Anda temui di akhir pekan bukan urusan saya."
Anara menatapnya.
Dan inilah bagian yang aneh, Saudara-saudara. Jawaban itu benar secara hukum, benar secara kontrak, benar secara logika. Tapi ada bagian kecil di dada Anara — bagian yang tidak akan pernah ia akui — yang menunggu jawaban lain. Jawaban yang lebih pendek, lebih kasar, lebih jujur.
Sesuatu seperti: jangan pergi.
"Oke," ucap Anara akhirnya, mengembalikan pandangannya ke dokumen. "Bagus. Profesional. Gue suka."
"Iya," jawab Arga. "Saya juga."
Dua-duanya bohong, dan dua-duanya tahu, dan dua-duanya tidak berkata apa-apa. Aliansi memang hebat dalam banyak hal, tapi hari itu aliansi mereka gagal total dalam satu hal: mengatakan yang sebenarnya.
Meeting itu selesai seperti biasa. Berkas dibereskan, kursi dirapikan, orang-orang keluar satu per satu. Anara berjalan keluar tepat di belakang Arga, dan di lorong menuju lift, untuk sepersekian detik, ia hampir memanggil nama pria itu — bukan untuk bicara kontrak, bukan untuk bicara jadwal, hanya untuk ... ia sendiri tidak tahu untuk apa.
Tapi punggung itu sudah masuk lift lebih dulu, dan pintu lift menutup dengan sopan, dan Anara berdiri sendirian di lorong dengan perasaan yang tidak bisa ia masukkan ke dalam laporan mana pun.
Di rumah keluarga, Jumat malam, Anara mengumumkan rencananya saat makan malam, dan reaksinya persis seperti yang ia duga.
Eva berhenti makan. "Kamu mau ketemu orang itu?"
"Mau nutup buku, Mah. Sekali. Terus selesai selamanya."
"Buku itu sudah mamah bakar dua tahun lalu, Nak. Kamu mau nutup buku yang sudah gosong?"
Damares menurunkan korannya, dan kali ini sang penyewa kursi tidak menghindar dari topik. "Papah cuma mau bilang satu hal, Nak." Ia menatap putrinya dengan kalemnya yang khas. "Menemui masa lalu itu boleh-boleh saja. Orang perlu tahu bahwa dirinya sudah sembuh. Tapi ingat satu hal: pulangnya harus ke masa depan. Jangan nyasar."
"Pulangnya ke masa depan," ulang Anara.
"Dan masa depan kamu itu," Eva menyela, tidak tahan, "yang suka kirim kopi susu jam delapan malam!"
"MAH!"
"Mamah cuma melengkapi kalimat papah!"
Sabtu pagi, sebelum berangkat, Anara harus melewati satu pos pemeriksaan terakhir: ruang tamu rumah orang tuanya.
"Mamah bisa ikut. Mamah duduk di meja sebelah, pura-pura baca majalah. Enggak akan kelihatan," tawar Eva, yang sejak pagi sudah rapi seperti mau kondangan.
"Mah. Ini pertemuan penutupan, bukan transaksi barang bukti."
"Papah juga bisa bantu," ucap Damares dari balik koran. "Papah bisa parkir di depan kafenya. Kalau ada apa-apa, kamu keluar, masuk mobil, papah tancap gas."
"Papah nonton film aksi apa semalem?"
"Film aksi yang bagus," jawab Damares, agak tersinggung. "Mobil papah juga masih sanggup tancap gas."
Anara memeluk dua orang tua itu satu per satu — pelukan yang membuat dua preman rumah tangga itu melembut seketika — lalu berkata, "Gue bisa sendiri, Mah, Pah. Beneran. Ini cuma satu jam. Kalian doain aja biar gue enggak tiba-tiba pengen siram dia pakai es teh."
"Doa itu justru yang paling susah kami kabulkan," ucap Eva jujur.
Sabtu siang itu, Anara berangkat dengan pilihan pakaian yang ia pikirkan jauh lebih lama dari yang mau ia akui: kemeja putih biasa, celana bahan, rambut diikat sederhana. Bukan karena tidak peduli — oh, ia peduli sekali untuk terlihat tidak peduli. Ada bedanya, dan bedanya besar.
Ia memilih kafe ramai di pusat kota, siang bolong, penuh orang. Satu jam, janjinya pada diri sendiri. Satu jam, lalu tutup buku, lalu tamat.
Ia tidak tahu bahwa buku yang mau ia tutup itu ternyata masih punya satu halaman terakhir yang licin — dan halaman itu sedang menunggunya di meja sudut, dengan senyum yang masih sama seperti dua tahun lalu.